The Chanting 2 (2007)
102 min|Horror|10 Oct 2007
5.5Rating: 5.5 / 10 from 223 usersMetascore: N/A
A young college student has recently moved out of her old, haunted boarding house, escaping from followers of Mangkoedjiwo Sect who seek revenge over the death of Sri Sukmarahimi Mangkoedjiwo.

Sukses Kuntilanak rupanya berbuntut pada produksi film sekuelnya, Kuntilanak 2 (K2). Kuntilanak sendiri adalah film horor yang tidak begitu buruk. Setidaknya Kuntilanak menawarkan sesuatu yang berbeda dari film-film horor lainnya. K2 masih menampilkan dua bintang utamanya, Julie Estelle serta Evan Sanders. Sutradaranya pun masih sama, yakni Rizal Mantovani. Jika kita bandingkan dengan film pertamanya, K2 mengalami kemunduran dua langkah dari sisi mana pun.

Alkisah Samantha (Estelle) setelah pindah dari rumah kosnya yang lama semakin menikmati hobi barunya bersama “peliharaan”nya, yakni, membunuh orang-orang yang bermasalah dengannya. Sopir taksi dan rekan pacarnya tidak luput jadi korban. Di lain pihak, pacar Sam, Agung (Sanders) yang masih trauma karena kejadian silam mulai berani menghadapi rasa takutnya dan mencari Sam. Sementara sekte sesat bernama Mangkujiwo (dedengkotnya dibunuh Sam pada film pertama) merasa terancam karena hanya Sam yang kini memiliki wangsit untuk memanggil Kuntilanak. Perkembangan cerita selanjutnya berputar-putar sekitar konflik batin Sam serta usahanya bersama Agung untuk lepas dari ancaman sekte Mangkujiwo.

Film ini adalah satu contoh bagus bagaimana sebuah sekuel bisa diproduksi dengan begitu buruk. Kelebihan pada film pertamanya, seperti set dan mood-nya sudah tidak lagi tampak. Mengapa set bangunan kos tua pada seri pertama tidak lagi dipakai? Pada ending film pertama, Sam tampak nyaman tinggal di rumah tersebut, tak jelas mengapa ia pergi. Satu-satunya benda yang dibawa Sam dari rumah kos lama adalah cermin kuno yang fungsinya kini tak jelas (dulu menjadi “pintu” keluar Kuntilanak). Lucunya, tempat kos Sam yang baru, sebuah ruko (toko elektronik) milik keluarga Tionghoa suasananya justru dibuat remang-remang. Juga ilustrasi musik yang pada seri pertama banyak mendukung adegannya, kini hanya menonjol pada opening title-nya saja.

Baca Juga  Suka Duka Tawa | REVIEW

Beberapa hal yang menjadi kelemahan mendasar film ini terutama tampak pada dialog serta banyak adegan yang tidak perlu (kelemahan umum film kita). Satu contoh sederhana adalah dialog pada adegan rapat sekte Mangkujiwo di awal film. Dialog yang bergulir dipaksakan “digilir” satu persatu oleh semua anggota. Dialog satu karakter hanya menyambung dialog karakter lain dengan begitu kaku. Kualitas dialog yang begitu buruk juga semakin diperparah dengan kualitas akting yang sangat rendah. Sementara adegan yang tak jelas fungsinya jumlahnya bisa lusinan lebih. Satu contoh sempurna adalah adegan pembuka film yang memperlihatkan tiga anak bermain petak-umpet di dalam bangunan kos lama. Pada akhir adegan memperlihatkan bagaimana mereka akhirnya terjebak dalam cermin bersama Kuntilanak. Lantas apa hubungan adegan ini dengan rangkaian cerita keseluruhan? Justru adegan pembunuhan sopir taksi di awal film rasanya lebih pantas menjadi pembuka film. Hampir sepanjang film kemunculan adegan satu dengan adegan lain terasa begitu ganjil karena hubungan sebab akibat yang lemah. Di akhir film, muncul seorang karakter baru yang membuka peluang bagi sekuel berikutnya. For heaven sake! Please no…

Artikel SebelumnyaMerah itu Cinta, Mencoba Berbeda
Artikel BerikutnyaThe Victim, Sebuah Realitas di Balik Realitas
A lifelong cinephile, he cultivated a deep interest in film from a young age. Following his architectural studies, he embarked on an independent exploration of film theory and history. His passion for cinema manifested in 2006 when he began writing articles and film reviews. This extensive experience subsequently led him to a teaching position at the esteemed Television and Film Academy in Yogyakarta. From 2003 to 2019, he enriched the minds of students by instructing them in Film History, Introduction to Film Art, and Film Theory. His scholarly pursuits extended beyond the classroom. In 2008, he published his seminal work, "Understanding Film," which delves into the core elements of film, both narrative and cinematic. The book's enduring value is evidenced by its second edition, released in 2018, which has become a cornerstone reference for film and communication academics across Indonesia. His contributions extend beyond his own authorship. He actively participated in the compilation of the Montase Film Bulletin Compilation Book Volumes 1-3 and "30 Best Selling Indonesian Films 2012-2018." Further solidifying his expertise, he authored both "Horror Film Book: From Caligari to Hereditary" (2023) and "Indonesian Horror Film: Rising from the Grave" (2023). A lifelong cinephile, he developed a profound passion for film from an early age. After completing his studies in architecture, he embarked on an independent journey exploring film theory and history. His enthusiasm for cinema took tangible form in 2006 when he began writing articles and film reviews. This extensive experience eventually led him to a teaching position at the esteemed Television and Film Academy in Yogyakarta. From 2003 to 2019, he enriched students’ understanding through courses such as Film History, Introduction to Film Art, and Film Theory. His scholarly pursuits extended well beyond the classroom. In 2008, he published his seminal work, Understanding Film, an in-depth examination of the essential elements of cinema, both narrative and visual. The book’s enduring significance is reflected in its second edition, released in 2018, which has since become a cornerstone reference for film and communication scholars across Indonesia. His contributions to the field also encompass collaborative and editorial efforts. He participated in the compilation of Montase Film Bulletin Compilation Book Volumes 1–3 and 30 Best-Selling Indonesian Films 2012–2018. Further establishing his authority, he authored Horror Film Book: From Caligari to Hereditary (2023) and Indonesian Horror Film: Rising from the Grave (2023). His passion for cinema remains as vibrant as ever. He continues to offer insightful critiques of contemporary films on montasefilm.com while actively engaging in film production with the Montase Film Community. His short films have received critical acclaim at numerous festivals, both nationally and internationally. In recognition of his outstanding contribution to film criticism, his writing was shortlisted for years in a row for Best Film Criticism at the 2021-2024 Indonesian Film Festival. His dedication to the discipline endures, as he currently serves as a practitioner-lecturer in Film Criticism and Film Theory at the Indonesian Institute of the Arts Yogyakarta, under the Independent Practitioner Program from 2022-2024.

2 TANGGAPAN

  1. kuntilanak 2 bgs kok…

    justru menampilkan sisi horror kuntilanak…

    msh bgs di bikin sequel’a…

    bs di bilang kuntilanak adalah horror saga terbgs…

BERIKAN TANGGAPANMU

Silahkan berikan tanggapan anda
Silahkan masukan nama anda disini

Situs ini menggunakan Akismet untuk mengurangi spam. Pelajari bagaimana data komentar Anda diproses