The Chanting 2 (2007)
102 min|Horror|10 Oct 2007
5.7Rating: 5.7 / 10 from 156 usersMetascore: N/A
A young college student has recently moved out of her old, haunted boarding house, escaping from followers of Mangkoedjiwo Sect who seek revenge over the death of Sri Sukmarahimi Mangkoedjiwo.

Sukses Kuntilanak rupanya berbuntut pada produksi film sekuelnya, Kuntilanak 2 (K2). Kuntilanak sendiri adalah film horor yang tidak begitu buruk. Setidaknya Kuntilanak menawarkan sesuatu yang berbeda dari film-film horor lainnya. K2 masih menampilkan dua bintang utamanya, Julie Estelle serta Evan Sanders. Sutradaranya pun masih sama, yakni Rizal Mantovani. Jika kita bandingkan dengan film pertamanya, K2 mengalami kemunduran dua langkah dari sisi mana pun.

Alkisah Samantha (Estelle) setelah pindah dari rumah kosnya yang lama semakin menikmati hobi barunya bersama “peliharaan”nya, yakni, membunuh orang-orang yang bermasalah dengannya. Sopir taksi dan rekan pacarnya tidak luput jadi korban. Di lain pihak, pacar Sam, Agung (Sanders) yang masih trauma karena kejadian silam mulai berani menghadapi rasa takutnya dan mencari Sam. Sementara sekte sesat bernama Mangkujiwo (dedengkotnya dibunuh Sam pada film pertama) merasa terancam karena hanya Sam yang kini memiliki wangsit untuk memanggil Kuntilanak. Perkembangan cerita selanjutnya berputar-putar sekitar konflik batin Sam serta usahanya bersama Agung untuk lepas dari ancaman sekte Mangkujiwo.

Film ini adalah satu contoh bagus bagaimana sebuah sekuel bisa diproduksi dengan begitu buruk. Kelebihan pada film pertamanya, seperti set dan mood-nya sudah tidak lagi tampak. Mengapa set bangunan kos tua pada seri pertama tidak lagi dipakai? Pada ending film pertama, Sam tampak nyaman tinggal di rumah tersebut, tak jelas mengapa ia pergi. Satu-satunya benda yang dibawa Sam dari rumah kos lama adalah cermin kuno yang fungsinya kini tak jelas (dulu menjadi “pintu” keluar Kuntilanak). Lucunya, tempat kos Sam yang baru, sebuah ruko (toko elektronik) milik keluarga Tionghoa suasananya justru dibuat remang-remang. Juga ilustrasi musik yang pada seri pertama banyak mendukung adegannya, kini hanya menonjol pada opening title-nya saja.

Baca Juga  Sabrina

Beberapa hal yang menjadi kelemahan mendasar film ini terutama tampak pada dialog serta banyak adegan yang tidak perlu (kelemahan umum film kita). Satu contoh sederhana adalah dialog pada adegan rapat sekte Mangkujiwo di awal film. Dialog yang bergulir dipaksakan “digilir” satu persatu oleh semua anggota. Dialog satu karakter hanya menyambung dialog karakter lain dengan begitu kaku. Kualitas dialog yang begitu buruk juga semakin diperparah dengan kualitas akting yang sangat rendah. Sementara adegan yang tak jelas fungsinya jumlahnya bisa lusinan lebih. Satu contoh sempurna adalah adegan pembuka film yang memperlihatkan tiga anak bermain petak-umpet di dalam bangunan kos lama. Pada akhir adegan memperlihatkan bagaimana mereka akhirnya terjebak dalam cermin bersama Kuntilanak. Lantas apa hubungan adegan ini dengan rangkaian cerita keseluruhan? Justru adegan pembunuhan sopir taksi di awal film rasanya lebih pantas menjadi pembuka film. Hampir sepanjang film kemunculan adegan satu dengan adegan lain terasa begitu ganjil karena hubungan sebab akibat yang lemah. Di akhir film, muncul seorang karakter baru yang membuka peluang bagi sekuel berikutnya. For heaven sake! Please no…

Artikel SebelumnyaMerah itu Cinta, Mencoba Berbeda
Artikel BerikutnyaThe Victim, Sebuah Realitas di Balik Realitas
Himawan Pratista
His hobbies are watching films since he was a child and exploring the theory and history of film self-taught after graduating from an architectural study. He began writing articles and film reviews from 2006. Because of his experience, the writer was drawn into the teaching staff of a private Television and Film Academy in Yogyakarta to teach Film History, Introduction to Film Art, and Film Theory from 2003 to 2019. His debut book is Memahami Film (Understanding Films/2008) which separates film art as narrative and cinematic. His second book, Memahami Film (Understanding Films - Second Edition/2017), has now been published. These two books are favourite references for film and communication academics throughout Indonesia. He was also fully involved in writing the Compilation Book of the Montage Film Bulletin Vol. 1-3 as well as 30 best-selling Indonesian films 2012-2018. Until now, he still writes film reviews and is actively involved in all film productions in the Montase Film Community. Full bio can be viewed on the montase.org site.

2 TANGGAPAN

  1. kuntilanak 2 bgs kok…

    justru menampilkan sisi horror kuntilanak…

    msh bgs di bikin sequel’a…

    bs di bilang kuntilanak adalah horror saga terbgs…

BERIKAN TANGGAPANMU

Silahkan berikan tanggapan anda
Silahkan masukan nama anda disini

This site uses Akismet to reduce spam. Learn how your comment data is processed.