Phii khon pen (2006)
108 min|Horror, Mystery, Thriller|12 Oct 2006
5.5Rating: 5.5 / 10 from 744 usersMetascore: N/A
Ting, an actress for murder illustration is hired to simulate a real-life murder case of Meen, a former Miss Thailand who was brutally killed. Afterwards, Ting can feel a strange supernatural connection to Meen. Soon, she decides ...

Tidak banyak film-film horor Asia yang diputar di bioskop-bioskop kita. Beruntung salah satu dari kru kami, yang kebetulan berada di Bandung, sempat menonton film horor produksi Thailand berjudul, The Victim (Phii khon pen). Film horor-thriller ini diarahkan oleh sutradara lokal, Monthon Arayangkoon. Konsep filmnya konon diinsipirasi dari teknik reka-ulang adegan kriminal yang dilakukan pihak kepolisian setempat yang diliput luas media setempat. Peran korban biasanya diperankan oleh seorang aktor atau aktris, sementara peran pelaku kriminal diperankan sendiri oleh pelaku sesungguhnya.

Alkisah Ting (Pitchannart Sakakorn) adalah seorang aktris muda yang suatu ketika mendapat tawaran dari pihak kepolisian untuk berperan sebagai para korban dalam reka-ulang adegan kriminal. Ting lambat laun mulai menyukai pekerjaannya dan namanya pun semakin populer. Suatu ketika Ting mengambil peran sebagai Meen, seorang selebriti yang tewas dan diduga telah dibunuh oleh suaminya sendiri. Kejadian-kejadian aneh menerpa Ting setelahnya, sebelum akhirnya ia mengetahui jika Meen sebenarnya dibunuh oleh rekan wanitanya, Fay. Fay berusaha membunuh Ting namun di saat genting seorang polisi menembaknya lebih dulu. Mendadak cut! Semua ini ternyata hanyalah sebuah produksi film belaka. Cerita sesungguhnya bermula di sini, ketika satu persatu kru film tewas mengenaskan oleh sosok arwah penasaran. Ting yang ternyata diperankan seorang aktris populer bernama May menjadi target akhir sang arwah.

Baca Juga  Pocong 2

Arayangkoon mampu mengemas filmnya dengan alur cerita yang unik dengan nuansa lokal yang demikian kental. Hampir separuh durasi film, kita tidak menyadari jika semua yang kita tonton hanyalah sebuah film. Sebuah realitas di dalam realitas lainnya. Setelah separuh durasi cerita kita baru memahami jika ternyata selama produksi film telah terjadi peristiwa-peristiwa gaib yang menimpa May (kesurupan). Ceritanya sendiri cukup membingungkan karena hingga akhir cerita kita baru memahami motif sesungguhnya dari sang arwah. Tidak jelas mengapa sang arwah mesti repot-repot membunuh para kru film jika sejak awal bisa langsung “masuk” ke tubuh May. Amat disayangkan sekali, kisah Ting di awal film yang sebenarnya menarik untuk digali lebih dalam ternyata hanya merupakan pengantar menuju cerita sesungguhnya. Sang “victim” (Ting) akhirnya menjadi victim sungguhan (May).

Tidak berbeda dengan film-film horor sejenis, The Victim sarat dengan adegan-adegan mencekam yang membuat jantung kita berdebar setiap saat. Efek suara dan musik sangat dominan dalam mendukung nuansa horornya. Entah mengapa paruh pertama film terasa jauh lebih baik daripada paruh cerita kedua dalam membangun nuansa mistiknya. Seperti sosok arwah-arwah penasaran yang didoakan oleh Ting, serta adegan ketika Ting dipandu menari oleh arwah Meen. Pada paruh kedua aksi yang relative menonjol hanya pada munculnya sosok bayangan penari Thai yang disajikan cukup unik dengan gerakan patah-patah sebelum membunuh korbannya. Satu hal lagi yang membuat film ini berhasil adalah penampilan meyakinkan dari sang aktris, Sakakorn, terutama perannya sebagai Ting. Secara teknis film ini memang tidak jauh berbeda dengan film-film horor kita, namun secara keseluruhan The Victim masih setingkat lebih baik. Satu saran dari kami, jangan menonton film ini pada malam hari.

Artikel SebelumnyaKuntilanak 2, Sekuel yang Tak Perlu Ada
Artikel BerikutnyaI Am Legend, Legenda yang Tidak Akan Melegenda
A lifelong cinephile, he cultivated a deep interest in film from a young age. Following his architectural studies, he embarked on an independent exploration of film theory and history. His passion for cinema manifested in 2006 when he began writing articles and film reviews. This extensive experience subsequently led him to a teaching position at the esteemed Television and Film Academy in Yogyakarta. From 2003 to 2019, he enriched the minds of students by instructing them in Film History, Introduction to Film Art, and Film Theory. His scholarly pursuits extended beyond the classroom. In 2008, he published his seminal work, "Understanding Film," which delves into the core elements of film, both narrative and cinematic. The book's enduring value is evidenced by its second edition, released in 2018, which has become a cornerstone reference for film and communication academics across Indonesia. His contributions extend beyond his own authorship. He actively participated in the compilation of the Montase Film Bulletin Compilation Book Volumes 1-3 and "30 Best Selling Indonesian Films 2012-2018." Further solidifying his expertise, he authored both "Horror Film Book: From Caligari to Hereditary" (2023) and "Indonesian Horror Film: Rising from the Grave" (2023). A lifelong cinephile, he developed a profound passion for film from an early age. After completing his studies in architecture, he embarked on an independent journey exploring film theory and history. His enthusiasm for cinema took tangible form in 2006 when he began writing articles and film reviews. This extensive experience eventually led him to a teaching position at the esteemed Television and Film Academy in Yogyakarta. From 2003 to 2019, he enriched students’ understanding through courses such as Film History, Introduction to Film Art, and Film Theory. His scholarly pursuits extended well beyond the classroom. In 2008, he published his seminal work, Understanding Film, an in-depth examination of the essential elements of cinema, both narrative and visual. The book’s enduring significance is reflected in its second edition, released in 2018, which has since become a cornerstone reference for film and communication scholars across Indonesia. His contributions to the field also encompass collaborative and editorial efforts. He participated in the compilation of Montase Film Bulletin Compilation Book Volumes 1–3 and 30 Best-Selling Indonesian Films 2012–2018. Further establishing his authority, he authored Horror Film Book: From Caligari to Hereditary (2023) and Indonesian Horror Film: Rising from the Grave (2023). His passion for cinema remains as vibrant as ever. He continues to offer insightful critiques of contemporary films on montasefilm.com while actively engaging in film production with the Montase Film Community. His short films have received critical acclaim at numerous festivals, both nationally and internationally. In recognition of his outstanding contribution to film criticism, his writing was shortlisted for years in a row for Best Film Criticism at the 2021-2024 Indonesian Film Festival. His dedication to the discipline endures, as he currently serves as a practitioner-lecturer in Film Criticism and Film Theory at the Indonesian Institute of the Arts Yogyakarta, under the Independent Practitioner Program from 2022-2024.

1 TANGGAPAN

  1. baru nonton tadi pagi di haari drama hehheheee….
    deg degan….
    lebih suka diawal nyaaa pas Pitchannart Sakakorn menjadi ting ♥ sayang gak di sambung ceritanya tentang ting…
    mungkin klau perang ting diteruskan… mungkin Ting (Pitchannart Sakakorn) bakalan jadian sama polisi ituu ♥♥♥♥

BERIKAN TANGGAPANMU

Silahkan berikan tanggapan anda
Silahkan masukan nama anda disini

Situs ini menggunakan Akismet untuk mengurangi spam. Pelajari bagaimana data komentar Anda diproses