Phii khon pen (2006)
108 min|Horror, Mystery, Thriller|12 Oct 2006
5.5Rating: 5.5 / 10 from 726 usersMetascore: N/A
Ting, an actress for murder illustration is hired to simulate a real-life murder case of Meen, a former Miss Thailand who was brutally killed. Afterwards, Ting can feel a strange supernatural connection to Meen. Soon, she decides ...

Tidak banyak film-film horor Asia yang diputar di bioskop-bioskop kita. Beruntung salah satu dari kru kami, yang kebetulan berada di Bandung, sempat menonton film horor produksi Thailand berjudul, The Victim (Phii khon pen). Film horor-thriller ini diarahkan oleh sutradara lokal, Monthon Arayangkoon. Konsep filmnya konon diinsipirasi dari teknik reka-ulang adegan kriminal yang dilakukan pihak kepolisian setempat yang diliput luas media setempat. Peran korban biasanya diperankan oleh seorang aktor atau aktris, sementara peran pelaku kriminal diperankan sendiri oleh pelaku sesungguhnya.

Alkisah Ting (Pitchannart Sakakorn) adalah seorang aktris muda yang suatu ketika mendapat tawaran dari pihak kepolisian untuk berperan sebagai para korban dalam reka-ulang adegan kriminal. Ting lambat laun mulai menyukai pekerjaannya dan namanya pun semakin populer. Suatu ketika Ting mengambil peran sebagai Meen, seorang selebriti yang tewas dan diduga telah dibunuh oleh suaminya sendiri. Kejadian-kejadian aneh menerpa Ting setelahnya, sebelum akhirnya ia mengetahui jika Meen sebenarnya dibunuh oleh rekan wanitanya, Fay. Fay berusaha membunuh Ting namun di saat genting seorang polisi menembaknya lebih dulu. Mendadak cut! Semua ini ternyata hanyalah sebuah produksi film belaka. Cerita sesungguhnya bermula di sini, ketika satu persatu kru film tewas mengenaskan oleh sosok arwah penasaran. Ting yang ternyata diperankan seorang aktris populer bernama May menjadi target akhir sang arwah.

Baca Juga  The Photograph, Sebuah Kisah Datar Dibalut Keindahan Gambar

Arayangkoon mampu mengemas filmnya dengan alur cerita yang unik dengan nuansa lokal yang demikian kental. Hampir separuh durasi film, kita tidak menyadari jika semua yang kita tonton hanyalah sebuah film. Sebuah realitas di dalam realitas lainnya. Setelah separuh durasi cerita kita baru memahami jika ternyata selama produksi film telah terjadi peristiwa-peristiwa gaib yang menimpa May (kesurupan). Ceritanya sendiri cukup membingungkan karena hingga akhir cerita kita baru memahami motif sesungguhnya dari sang arwah. Tidak jelas mengapa sang arwah mesti repot-repot membunuh para kru film jika sejak awal bisa langsung “masuk” ke tubuh May. Amat disayangkan sekali, kisah Ting di awal film yang sebenarnya menarik untuk digali lebih dalam ternyata hanya merupakan pengantar menuju cerita sesungguhnya. Sang “victim” (Ting) akhirnya menjadi victim sungguhan (May).

Tidak berbeda dengan film-film horor sejenis, The Victim sarat dengan adegan-adegan mencekam yang membuat jantung kita berdebar setiap saat. Efek suara dan musik sangat dominan dalam mendukung nuansa horornya. Entah mengapa paruh pertama film terasa jauh lebih baik daripada paruh cerita kedua dalam membangun nuansa mistiknya. Seperti sosok arwah-arwah penasaran yang didoakan oleh Ting, serta adegan ketika Ting dipandu menari oleh arwah Meen. Pada paruh kedua aksi yang relative menonjol hanya pada munculnya sosok bayangan penari Thai yang disajikan cukup unik dengan gerakan patah-patah sebelum membunuh korbannya. Satu hal lagi yang membuat film ini berhasil adalah penampilan meyakinkan dari sang aktris, Sakakorn, terutama perannya sebagai Ting. Secara teknis film ini memang tidak jauh berbeda dengan film-film horor kita, namun secara keseluruhan The Victim masih setingkat lebih baik. Satu saran dari kami, jangan menonton film ini pada malam hari.

Artikel SebelumnyaKuntilanak 2, Sekuel yang Tak Perlu Ada
Artikel BerikutnyaI Am Legend, Legenda yang Tidak Akan Melegenda
His hobby has been watching films since childhood, and he studied film theory and history autodidactically after graduating from architectural studies. He started writing articles and reviewing films in 2006. Due to his experience, the author was drawn to become a teaching staff at the private Television and Film Academy in Yogyakarta, where he taught Film History, Introduction to Film Art, and Film Theory from 2003 to 2019. His debut film book, "Understanding Film," was published in 2008, which divides film art into narrative and cinematic elements. The second edition of the book, "Understanding Film," was published in 2018. This book has become a favorite reference for film and communication academics throughout Indonesia. He was also involved in writing the Montase Film Bulletin Compilation Book Vol. 1-3 and "30 Best Selling Indonesian Films 2012-2018." Additionally, he authored the "Horror Film Book: From Caligari to Hereditary" (2023) and "Indonesian Horror Film: Rising from the Grave" (2023). Until now, he continues to write reviews of the latest films at montasefilm.com and is actively involved in all film productions at the Montase Film Community. His short films have received high appreciation at many festivals, both local and international. Recently, his writing was included in the shortlist (top 15) of Best Film Criticism at the 2022 Indonesian Film Festival. From 2022 until now, he has also been a practitioner-lecturer for the Film Criticism and Film Theory courses at the Yogyakarta Indonesian Institute of the Arts in the Independent Practitioner Program.

1 TANGGAPAN

  1. baru nonton tadi pagi di haari drama hehheheee….
    deg degan….
    lebih suka diawal nyaaa pas Pitchannart Sakakorn menjadi ting ♥ sayang gak di sambung ceritanya tentang ting…
    mungkin klau perang ting diteruskan… mungkin Ting (Pitchannart Sakakorn) bakalan jadian sama polisi ituu ♥♥♥♥

BERIKAN TANGGAPANMU

Silahkan berikan tanggapan anda
Silahkan masukan nama anda disini

Situs ini menggunakan Akismet untuk mengurangi spam. Pelajari bagaimana data komentar Anda diproses.