The Exorcist (1973)
122 min|Horror|26 Dec 1973
8.1Rating: 8.1 / 10 from 453,468 usersMetascore: 81
When a young girl is possessed by a mysterious entity, her mother seeks the help of two Catholic priests to save her life.

The Exorcist (1974) arahan sineas William Friedkin merupakan adaptasi dari novel berjudul sama karya William Peter Blatty. Film ini tercatat merupakan film horor pertama yang sukses secara komersil maupun kritik. Pada masanya film ini sempat menjadi film terlaris sepanjang masa dan merupakan film horor pertama yang mampu meraih nominasi Oscar untuk film terbaik. Film ini sukses meraih dua Oscar dari sepuluh yang dinominasikan, yakni untuk naskah adaptasi serta suara terbaik. Film ini juga mengundang kontroversi karena beberapa aksi vulgar serta sumpah serapah yang diucapkan seorang gadis cilik.

Filmnya sendiri berkisah tentang seorang gadis cilik yang kerasukan iblis yang konon diinsipirasi dari kisah nyata. Alkisah Chris (Ellen Burstyn) adalah seorang aktris dan ibu muda yang baru saja bercerai dan tinggal bersama putrinya, Regan (Linda Blair) yang berusia 12 tahun. Suatu ketika sang putri mengalami perubahan sifat menjadi lebih agresif. Awalnya Regan diduga mengalami gangguan psikis akibat perceraian orang tuanya, namun kondisinya justru semakin memburuk. Wajah dan suara Regan berubah, kekuatannya berlipat, seolah ada makhluk lain yang merasukinya. Pihak dokter akhirnya menyerah dan Chris meminta bantuan seorang pendeta muda, Damien Karras (Jason Miller). Sang pendeta yang tengah dilanda krisis kepercayaan akibat ibunya yang sekarat juga tidak mampu berbuat banyak. Ia akhirnya ditemani pendeta senior berpengalaman, Lankester Merrin (Max Von Sydow) untuk mengusir iblis di tubuh Regan.

The Exorcist seperti lazimnya film horor menggunakan plot kebaikan versus kejahatan. Namun tidak seperti pada umumnya, film ini memiliki tempo cerita yang lambat. Lebih dari separuh cerita dituturkan secara paralel antara kisah Chris/Regan dengan Damien. Cerita juga lebih mengedepankan logika ketimbang hal-hal mistik. Gangguan “kejiwaan” yang dialami Regan mengalami tahapan-tahapan uji-coba medis yang lama, sebelum akhirnya ia divonis “kesurupun”. Film telah berjalan hampir ¾ durasi total ketika Damien pertama kali bertemu Regan. Tidak ada unsur ketegangan yang berarti karena kita tahu persis jika sang iblis selalu berada dalam kamar. Istimewanya justru horor tidak tercipta dari sosok fisik iblis, namun lebih menganggu kita secara psikologis. Ucapan serta tindak-tanduk sang iblis mampu memperdaya kita dengan mengaburkan makna kejahatan dan kebaikan.

Baca Juga  Menunggu Ayat-Ayat Cinta

Tidak seperti film horor pada umumnya, film ini tidak didominasi tata cahaya yang gelap. Iblis rupanya bekerja tidak mengenal waktu. Ketika “Regan” menyerang ibunya dengan kekuatan supernaturalnya, terjadi di siang bolong, dan hanya pada adegan klimaks terjadi di waktu malam. Film menampilkan efek-efek visual yang begitu meyakinkan seperti kepala Regan yang berputar 360°, tubuh sang iblis yang melayang, tempat tidur yang bergoyang-goyang, hingga perabot rumah yang bergerak. Agar set tampak meyakinkan konon sineas mengambil gambar di ruang pendingin pada adegan klimaks agar hembusan nafas terlihat oleh kamera. Sosok iblis makin sempurna dengan tata rias wajah yang begitu meyakinkan serta suara “serak” sang iblis yang khas. Dua aktor debutan, Blair dan Miller bermain sangat baik hingga keduanya diganjar nominasi Oscar. Film ditutup dengan akhir ”manis” yang merupakan solusi dari dilema Damien, ketika sang iblis masuk ke tubuhnya, dan ia lalu mengorbankan dirinya. Pada eranya film ini memang istimewa, namun sekarang, kami serahkan Anda yang menilai.

Artikel SebelumnyaI Am Legend, Legenda yang Tidak Akan Melegenda
Artikel BerikutnyaFilm Horor dari Masa ke Masa
His hobby has been watching films since childhood, and he studied film theory and history autodidactically after graduating from architectural studies. He started writing articles and reviewing films in 2006. Due to his experience, the author was drawn to become a teaching staff at the private Television and Film Academy in Yogyakarta, where he taught Film History, Introduction to Film Art, and Film Theory from 2003 to 2019. His debut film book, "Understanding Film," was published in 2008, which divides film art into narrative and cinematic elements. The second edition of the book, "Understanding Film," was published in 2018. This book has become a favorite reference for film and communication academics throughout Indonesia. He was also involved in writing the Montase Film Bulletin Compilation Book Vol. 1-3 and "30 Best Selling Indonesian Films 2012-2018." Additionally, he authored the "Horror Film Book: From Caligari to Hereditary" (2023) and "Indonesian Horror Film: Rising from the Grave" (2023). Until now, he continues to write reviews of the latest films at montasefilm.com and is actively involved in all film productions at the Montase Film Community. His short films have received high appreciation at many festivals, both local and international. Recently, his writing was included in the shortlist (top 15) of Best Film Criticism at the 2022 Indonesian Film Festival. From 2022 until now, he has also been a practitioner-lecturer for the Film Criticism and Film Theory courses at the Yogyakarta Indonesian Institute of the Arts in the Independent Practitioner Program.

1 TANGGAPAN

BERIKAN TANGGAPANMU

Silahkan berikan tanggapan anda
Silahkan masukan nama anda disini

Situs ini menggunakan Akismet untuk mengurangi spam. Pelajari bagaimana data komentar Anda diproses.