Danur (2017)

74 min|Horror, Mystery, Thriller|30 Mar 2017
5.3Rating: 5.3 / 10 from 1,003 usersMetascore: N/A
This movie follows the story of a girl who befriends with 3 ghosts.

Film Danur merupakan film horor Indonesia yang sangat fenomenal. Danur merupakan film based on best-seller novel dari Risa Saraswati dimana novel-novel karya Risa Saraswati memiliki banyak penggemar. Hingga kini berhasil meraih lebih dari 2,2 juta penonton dan meraih rekor MURI untuk film horor Indonesia dengan penonton terbanyak. Tim Montase Review pun tertarik untuk mengamati dan melakukan kritik melalui diskusi dan artikel ini adalah inti dari diskusi tersebut.

Danur berkisah tentang seorang anak bernama Risa (Prilly Latuconsina) yang mampu melihat makhluk halus. Ia tinggal di sebuah rumah peninggalan Belanda bersama ibunya. Di rumah yang begitu besar Risa selalu bermain sendirian. Di sinilah Risa berkenalan dengan teman-teman hantunya. Kejanggalan ini segera dirasakan oleh Ibunya, lalu Ia mengundang orang pintar dan akhirnya mengajak Risa pindah dari rumah itu. Risa pun beranjak dewasa dan memiliki seorang adik bernama Riri (Sandrinna Michelle Skornicki). Suatu saat Risa harus kembali ke rumah tersebut bersama Riri karena harus merawat nenek mereka yang belum mendapatkan pengasuh. Di sinilah pengalaman mistis Risa pun terulang kembali.

Devri menyatakan bahwa film ini disajikan begitu singkat dan tanpa basa basi. Apa yang disajikan sebenarnya cukup runtut dengan ciri khas film horor yang membuat penonton tegang. Film ini lebih menitikberatkan pada konflik yang terjadi saat Risa dewasa yang mampu melihat hal-hal gaib. Klimaks dari film ini pun cukup epic. Namun penyelesaian dari film ini yang dirasa kurang cukup. Penyelesaian film ini seperti dibuat seadanya. Padahal saat awal hingga pertengahan film sudah cukup menarik dari segi alur dan penghadiran tokoh-tokohnya.

Tia menangkap pesan yang cukup mulia. Menurutnya, tanpa cerita yang terlalu mendramatisir, tanpa darah dan aksen horor yang berlebihan Danur berhasil membuat penonton berempati. Ikut merasakan bagaimana kesepiannya Risa, kebahagiaan Risa bertemu teman-teman barunya, masa lalu yang kelam dari Asih serta rasa kasih sayang dari sebuah keluarga. Setidaknya, Danur memberikan pesan tentang betapa pentingnya kepedulian dan kehangatan keluarga.

Tetapi, setelah ditelaah lebih jauh terdapat kekurangan-kekurangan dalam film garapan Awi Suryadi ini. Menurut Dwi, konsep logika cerita yang harus dipahami di film ini adalah konsep bisa melihat dan tidak bisa melihat “hantu”. Ketika Risa beranjak dewasa dan tidak dirumah itu lagi, apakah Risa tidak melihat hantu lagi? Bagaimana ia bisa melihat dan tidak bisa melihat? Apakah di rumah itu saja ia bisa melihat hantu? Lalu bagaimana Riri yang juga bisa melihat hantu Asih? Tak dijelaskan background Riri sebelumnya. Lalu kenapa keanehan tentang Asih tak segera dicari? Padahal Risa telah mendapatkan informasi tentang kejanggalan pengasuh baru, terlebih ketika sepupunya Andri merasa janggal soal Asih. Seolah plotnya hanya ingin mengulur waktu saja.

Febri pun beranggapan serupa, ia menilai bahwa logika cerita tampak lemah. Contoh: Bagaimana bisa Risa yang telah mengalami kejadian horor dimasa kecil membiarkan adiknya bermain sendirian tanpa pengawasan di rumah angker tersebut? Bagaimana pula dia tidak mampu menduga ada yang janggal dengan sosok Asih ini? Bukankah seharusnya dia bisa mencium bau danur jika melihat latar belakang masa kecilnya? Tidak ada informasi yang kuat sebelumnya yang menjelaskan hal tersebut. Jelas ini hanyalah untuk menambah kehororan filmnya. Pun juga dengan resolusi cerita yang terkesan instan tanpa ada penjelasan terlebih dahulu.

Baca Juga  Wonder Woman: The First Avenger

Himawan pun mempertanyakan karakter yang tampaknya tidak jelas kehadirannya. Keluarga Risa jelas adalah kalangan atas yang rasanya mampu untuk mengupah belasan pembantu sekaligus, namun rumah Risa yang sangat besar terlihat amat sepi. Sepanjang film hanya terlihat dua orang, pembantu laki-laki dan perempuan. Mang Ujang mendapat satu adegan kecil, namun si pembantu perempuan hanya muncul beberapa detik saja. Selain itu, gaya arsitektur bangunan rumah. Jika Peter dan kawan-kawan sudah puluhan tahun disana (anak orang Belanda), rumah tersebut tidak tampak seperti rumah Belanda (kuno), baik dari sisi eksterior maupun interior. Banyak adegan atau shot yang mubazir dan tak jelas fungsinya, seolah sineas kebingungan untuk menambah durasi filmnya, seperti beberapa shot sang nenek di kala sendiri tidak bermotif apapun. Untuk genrenya, film ini terbilang tidak mampu menampilkan kengerian sama sekali. Trik horornya sudah terlalu umum, baik permainan shot atau ilustrasi musik, bahkan segmen klimaks pun sangat mirip dengan seri Insidious, namun dengan motif lebih tak jelas.

Luluk justru tertawa terpingkal-pingkal menonton pergerakan hantu yang bergerak ke kanan-kiri dengan teknik fast motion, alangkah lebih baik jika dibiarkan seadanya karena hal tersebut mengurangi kesan horor dan malah menimbulkan tawa seisi bioskop. Secara keseluruhan saya hanya mampu berkata bahwa ini adalah film horror yang tidak menakutkan sama sekali. Tetapi, menurut Yooce, walau kadang adegan masih terlihat artifisial, namun film ini berusaha memanfaatkan lighting serta bayangan, seperti pada film noir. Sosok hantu tidak dipaksa untuk tampil dengan make up efek borok, atau berdarah-darah, bahkan kesan “dunia lain” yang dibangun terlihat menarik, sekaligus menegangkan. Walaupun demikian Rachmad berpendapat bahwa tidak menutup kemungkinan sineas film-film horror di Indonesia akan terkena percikan untuk memproduksi film serupa karena melihat kesuksesan yang didapat dari film Danur ini.

            Berkaitan dengan lemahnya sisi naratif dan sinematik yang telah dijelaskan di atas, Sasha kemudian mengamati faktor-faktor yang mungkin menunjang kesusksesan film selain novelnya yang laris terjual. Toh penjualan novel ini tentu tidak berbanding lurus dengan jumlah penonton yang mencapai jutaan. Pertama, Mungkin saja ketenaran Prilly Latuconsina sebagai bintang muda dalam dunia sinetron dan perfilman Indonesia memberikan andil yang cukup besar. Prilly yang naik daun melalui sinetron Ganteng Ganteng Serigala (GGS) ini bahkan memiliki 16 juta followers dalam akun Instagramnya. Tetapi, film sebelumnya yang berjudul Surat Untukmu (2016), nyatanya tidak mendapatkan banyak perhatian dan kesuksesannya sangat jauh dibandingkan Danur. Kedua, perilaku penonton menunjukkan apa yang menjadi daya tarik mereka. Ternyata, sensasi menegangkan dan menakutkan inilah yang mereka sukai. Tidak peduli hantunya menyeramkan atau tidak, ilustrasinya musiknya pas atau berlebihan, dan ceritanya orisinal atau imitasi, yang terpenting adalah mereka have fun bersama teman-teman. Ketiga, produser membaca selera pasar yang ternyata memang seleranya remeh. Tidak bisa disalahkan sepenuhnya ketika produsen dalam industri film terus memproduksi produk yang tidak inovatif. Nyatanya selera konsumen masih tetap sama dan tidak dinamis, sehingga produsen tidak memiliki dorongan yang kuat untuk memproduksi film horror yang berkualitas. Mereka pun sudah meraih untung yang fantastis.

 

Tim Montase: Agustinus Dwi Nugroho, Debby Dwi Elsha, Febrian Andhika, Yooce Tutkey, Rachmad Nurgiyanto, Himawan Pratista, Luluk Ulhasanah, Devri Ifa Nurmita, dan Tia Sukma Sari.

WATCH TRAILER

Artikel SebelumnyaThe Problem with Fast and Furious 8
Artikel BerikutnyaBeauty and the Beast Tembus US$ 1 Milyar!
Menonton film sebagai sumber semangat dan hiburan. Mendalami ilmu sosial dan politik dan tertarik pada isu perempuan serta hak asasi manusia. Saat ini telah menyelesaikan studi magisternya dan menjadi akademisi ilmu komunikasi di salah satu perguruan tinggi di Yogyakarta.

BERIKAN TANGGAPANMU

Silahkan berikan tanggapan anda
Silahkan masukan nama anda disini

Situs ini menggunakan Akismet untuk mengurangi spam. Pelajari bagaimana data komentar Anda diproses.