Pulp Fiction (1994)
154 min|Crime, Drama|14 Oct 1994
8.8Rating: 8.8 / 10 from 2,398,909 usersMetascore: 95
The lives of two mob hitmen, a boxer, a gangster and his wife, and a pair of diner bandits intertwine in four tales of violence and redemption.

Pulp Fiction (1994) merupakan film kedua arahan Quentin Tarantino setelah sebelumnya sukses dengan Reservoir Dogs (1990). Pulp Fiction dianggap banyak pengamat sebagai terobosan baru dalam dunia perfilman, yang tidak hanya menaikkan pamor sang sineas, namun juga bagi perkembangan film independen itu sendiri. Film ini berhasil meraup pendapatan kotor lebih dari $200 juta di seluruh dunia, dan di Amerika sendiri tercatat sebagai film independen pertama yang meraih pendapatan kotor di atas $100 juta. Coba bandingkan dengan bujet produksinya yang hanya sekitar $10 juta. Pulp Fiction juga sukses secara kritik dengan meraih tujuh nominasi Oscar termasuk untuk kategori film terbaik serta sukses dalam beberapa ajang penghargaan bergengsi lainnya.

Satu hal yang menjadi nilai lebih film ini adalah cara bertuturnya yang unik. Tarantino membagi plotnya dalam tiga segmen cerita yang berkaitan satu sama lain. Alur cerita secara keseluruhan dituturkan secara non-linier (tidak sesuai urutan waktu kejadian sebenarnya). Sebagai contoh misalnya pada adegan pembuka film yang memperlihatkan aksi sepasang muda-mudi yang tengah merampok sebuah restoran. Aksi perampokan ini muncul kembali pada adegan akhir filmnya. Namun jika Anda cermati lebih jauh, jika cerita dituturkan secara linier aksi perampokan ini sebenarnya terjadi pada sepertiga durasi awal film. Tarantino secara sederhana hanya mengubah urutan kejadian sehingga menjadi lebih membingungkan dan sulit dicerna oleh penontonnya. Kenapa Tarantino melakukan hal ini? Ini sudah menjadi gaya sang sineas, ia berani mengambil resiko untuk ”melawan” film-film mainstream yang lazimnya memakai alur linier. Nyatanya pilihan Tarantino ini berbuah hasil. Gaya bertutur non-linier pun (walau bukan merupakan hal baru) dalam perkembangannya menjadi tren baru yang bahkan kerap diikuti film-film mainstream.

Baca Juga  Independensi dan Sinergi Elemen

Satu hal lainnya yang juga turut membantu kesuksesan film ini adalah kasting para pemain bintangnya. Bruce Willis tercatat sebagai aktor terbesar yang bermain dalam film ini tidak keberatan diupah dengan gaji minim. Tercatat pula bintang-bintang kawakan seperti John Travolta, Samuel L. Jackson, Uma Thurman, hingga Ving Rhames bermain dalam film ini. Peran-peran mereka di film ini tergolong tidak banyak menguras akting namun pesona mereka sebagai bintang-bintang bertalenta tinggi sangat jelas terlihat. Willis sangat pas berperan sebagai Butch, petinju bayaran tua yang lelah; Jackson dan Travolta bermain brilian sebagai Jules dan Vincent, sepasang pembunuh bayaran kejam dan dingin yang selalu bertengkar mulut; Rhames juga sangat pas bermain sebagai sang bos mafia, Marcellus; juga Thurman sebagai Mia, istri sang bos mafia yang suka bertindak. Walau peran-peran tersebut dinilai sangat beresiko (karena kurang menantang) bagi karir mereka, namun justru pamor mereka terangkat setelah membintangi film ini.

Aspek lainnya yang menjadi gaya khas Tarantino adalah dialog-dialog nyeleneh yang kadang tak berhubungan dengan cerita filmnya. Coba simak perbincangan Vincent dan Jules tentang burger di awal film, lalu perdebatan mereka tentang banyak hal di restoran pada sekuen akhir. Dialog-dialog tersebut walau sepertinya tak relevan namun sangat membantu membentuk karakter para pemainnya. Satu lagi yang tak kalah penting adalah penggunaan tembang dan musik lawas yang bersinergi sempurna dalam tiap adegannya, seperti “Miserlou” yang mengalun pada pembuka film serta tembang “You Never Can Tell” yang mengiring dansa ikonik, Mia dan Vincent. Oleh karena cara bertutur yang unik, aksi-aksi yang spontan dan fleksibel, dialog, musik, serta budaya pop lainnya, Pulp Fiction sering kali dinilai pengamat sebagai awal film post-modern terbaik.

Artikel SebelumnyaThe Blair Witch Project, Horor Murah yang Efektif
Artikel BerikutnyaKilas-Balik Perkembangan Film Independen
A lifelong cinephile, he cultivated a deep interest in film from a young age. Following his architectural studies, he embarked on an independent exploration of film theory and history. His passion for cinema manifested in 2006 when he began writing articles and film reviews. This extensive experience subsequently led him to a teaching position at the esteemed Television and Film Academy in Yogyakarta. From 2003 to 2019, he enriched the minds of students by instructing them in Film History, Introduction to Film Art, and Film Theory. His scholarly pursuits extended beyond the classroom. In 2008, he published his seminal work, "Understanding Film," which delves into the core elements of film, both narrative and cinematic. The book's enduring value is evidenced by its second edition, released in 2018, which has become a cornerstone reference for film and communication academics across Indonesia. His contributions extend beyond his own authorship. He actively participated in the compilation of the Montase Film Bulletin Compilation Book Volumes 1-3 and "30 Best Selling Indonesian Films 2012-2018." Further solidifying his expertise, he authored both "Horror Film Book: From Caligari to Hereditary" (2023) and "Indonesian Horror Film: Rising from the Grave" (2023). A lifelong cinephile, he developed a profound passion for film from an early age. After completing his studies in architecture, he embarked on an independent journey exploring film theory and history. His enthusiasm for cinema took tangible form in 2006 when he began writing articles and film reviews. This extensive experience eventually led him to a teaching position at the esteemed Television and Film Academy in Yogyakarta. From 2003 to 2019, he enriched students’ understanding through courses such as Film History, Introduction to Film Art, and Film Theory. His scholarly pursuits extended well beyond the classroom. In 2008, he published his seminal work, Understanding Film, an in-depth examination of the essential elements of cinema, both narrative and visual. The book’s enduring significance is reflected in its second edition, released in 2018, which has since become a cornerstone reference for film and communication scholars across Indonesia. His contributions to the field also encompass collaborative and editorial efforts. He participated in the compilation of Montase Film Bulletin Compilation Book Volumes 1–3 and 30 Best-Selling Indonesian Films 2012–2018. Further establishing his authority, he authored Horror Film Book: From Caligari to Hereditary (2023) and Indonesian Horror Film: Rising from the Grave (2023). His passion for cinema remains as vibrant as ever. He continues to offer insightful critiques of contemporary films on montasefilm.com while actively engaging in film production with the Montase Film Community. His short films have received critical acclaim at numerous festivals, both nationally and internationally. In recognition of his outstanding contribution to film criticism, his writing was shortlisted for years in a row for Best Film Criticism at the 2021-2024 Indonesian Film Festival. His dedication to the discipline endures, as he currently serves as a practitioner-lecturer in Film Criticism and Film Theory at the Indonesian Institute of the Arts Yogyakarta, under the Independent Practitioner Program from 2022-2024.

BERIKAN TANGGAPANMU

Silahkan berikan tanggapan anda
Silahkan masukan nama anda disini

Situs ini menggunakan Akismet untuk mengurangi spam. Pelajari bagaimana data komentar Anda diproses