Fiksi. (2008)
90 min|Drama, Thriller|19 Jun 2008
7.5Rating: 7.5 / 10 from 549 usersMetascore: N/A
Alisha (Ladya Cheryl) never feel comfortable staying in her cool and spacious home until one day she meets Bari (Donny Alamsyah) who introduces her the meaning of love.

Fiksi merupakan karya pertama sineas muda kita, Mouly Surya. Film ini dibintangi oleh aktor-aktris muda seperti, Ladya Cheryl, Donny Alamsyah, serta Kinaryosih. Film ini agak berbeda dengan film-film Indonesia lainnya dengan mengangkat tema drama psikologis. Walau tidak sempat menyaksikannya di bioskop namun penulis beruntung karena film ini diputar di Jogjakarta Asian Film Festival yang berlangsung beberapa waktu lalu.

Alkisah Alisha (Ladya Cheryl) merupakan gadis muda yang trauma sejak kecil karena menyaksikan ibunya tewas bunuh diri. Alisha tumbuh menjadi sosok gadis yang dingin, tertutup, dan penyendiri. Sang ayah juga selalu membatasi gerak sang putri dan menugaskan sopir pribadinya untuk menjaga anaknya. Suatu ketika seorang pemuda bernama Bari (Donny Alamsyah), bekerja di rumah Alisha dan menarik perhatian sang gadis. Alisha bahkan diam-diam mengikuti Bari hingga ke tempat tinggalnya di sebuah rusun. Alisha memutuskan untuk kabur dari rumah dan menyewa kamar persis di sebelah kamar Bari. Di tempat barunya ini Alisha berteman dengan Bari dan pacarnya, Renta (Kinaryosih). Bari tak sadar jika Alisha memiliki sisi gelap yang kelak membawa kematian bagi para penghuni rusun.

Tema tentang studi psikologis manusia masih jarang dieksplorasi lebih dalam oleh para sineas kita. Film ini mencoba untuk melakukan studi psikologis seorang gadis traumatik dalam menghadapi kehidupan rutinnya. Satu pertanyaan mencuat sepanjang filmnya berjalan, apakah Alisha memang benar-benar psikopat atau sifat psikopatnya muncul setelah ia dikecewakan oleh Bari. Dari alur kisahnya tampak jika sifat psikopat Alisha muncul setelah ia ditolak cintanya oleh Bari. Cinta terkadang membutakan segalanya dan mampu membuat kita berbuat apa saja untuk bisa mendapatkannya. Tapi Alisha bukanlah gadis biasa. Trauma apa yang lebih hebat daripada melihat ibu kandungnya sendiri bunuh diri pada usia belia. Terasa agak janggal jika lalu si gadis psikopat akhirnya memilih untuk bunuh diri. Jika Alisha begitu obsesif mengapa ia tidak memilih untuk membunuh Bari? Hal yang janggal tampak pula pada adegan klimaks ketika Alisha membunuh si bapak tua. Cerita Bari yang ia tulis di komputer seperti kita ketahui adalah rekaan. Lalu bagaimana mungkin cerita rekaan tersebut bisa sama persis dengan kejadian sesungguhnya. Apa cuma kebetulan atau ada motif lain?

Baca Juga  Jaga Pocong

Dari sisi teknis ada beberapa hal yang patut dicatat. Untuk membangun nuansa serta mood “hampa” filmnya, sineas secara efektif menggunakan kamera statis serta suka berlama-lama dengan shot-nya. Dalam beberapa adegan, dialog yang digunakan juga sangat minim. Sineas juga sering kali menggunakan sudut-sudut kamera yang tidak lazim, seperti shot-shot dalam kamar kontrakan yang sempit beberapa-kali disajikan dalam sudut-sudut yang berbeda sehingga tidak monoton dan mengesankan luas. Sayang sekali, sineas jarang menggunakan shot close-up wajah yang sebenarnya sangat efektif memperlihatkan ekspresi terdalam para karakternya.

Terlepas dari semuanya usaha sineas untuk mengeksplorasi tema psikologis patut mendapat pujian dan ini memperkaya khasanah perfilman kita. Jujur saja, film ini secara kualitas memang lebih baik dari film-film kita kebanyakan. Judul Fiksi memang mengisyaratkan sebuah cerita yang sifatnya rekaan (ilusi) namun suatu studi psikologis tentang manusia membutuhkan sebuah kajian mendalam yang tidak bisa kita reka-reka begitu saja

Artikel SebelumnyaWawancara Produser dan Sineas Fiksi
Artikel BerikutnyaThe Blair Witch Project, Horor Murah yang Efektif
A lifelong cinephile, he cultivated a deep interest in film from a young age. Following his architectural studies, he embarked on an independent exploration of film theory and history. His passion for cinema manifested in 2006 when he began writing articles and film reviews. This extensive experience subsequently led him to a teaching position at the esteemed Television and Film Academy in Yogyakarta. From 2003 to 2019, he enriched the minds of students by instructing them in Film History, Introduction to Film Art, and Film Theory. His scholarly pursuits extended beyond the classroom. In 2008, he published his seminal work, "Understanding Film," which delves into the core elements of film, both narrative and cinematic. The book's enduring value is evidenced by its second edition, released in 2018, which has become a cornerstone reference for film and communication academics across Indonesia. His contributions extend beyond his own authorship. He actively participated in the compilation of the Montase Film Bulletin Compilation Book Volumes 1-3 and "30 Best Selling Indonesian Films 2012-2018." Further solidifying his expertise, he authored both "Horror Film Book: From Caligari to Hereditary" (2023) and "Indonesian Horror Film: Rising from the Grave" (2023). His passion for film extends to the present day. He continues to provide insightful critiques of contemporary films on montasefilm.com, while actively participating in film production endeavors with the Montase Film Community. His own short films have garnered critical acclaim at numerous festivals, both domestically and internationally. Recognizing his exceptional talent, the 2022 Indonesian Film Festival shortlisted his writing for Best Film Criticism (Top 15). His dedication to the field continues, as he currently serves as a practitioner-lecturer for Film Criticism and Film Theory courses at the Yogyakarta Indonesian Institute of the Arts' Independent Practitioner Program.

BERIKAN TANGGAPANMU

Silahkan berikan tanggapan anda
Silahkan masukan nama anda disini

Situs ini menggunakan Akismet untuk mengurangi spam. Pelajari bagaimana data komentar Anda diproses.