Masih dengan formula kisah horor bertema seputar ruqyah, kerasukan, penanganan secara Islamis, religiusitas, maupun tokoh agama melawan setan atau iblis, kini ada Qorin. Film horor arahan Ginanti Rona yang juga ditulisnya bersama Lele Laila. Satu di antara beberapa penulis yang ajeg mengerjakan naskah-naskah film horor. Lewat produksi IDN Pictures, mereka tampaknya berupaya mencari celah sisi cerita film horor yang belum tergarap. Sekaligus memasukkan satu isu besar yang beberapa waktu lalu merusak nama baik pesantren. Para pemainnya antara lain Zulfa Maharani, Aghniny Haque, Putri Ayudya, Dea Annisa, Omar Daniel, dan Pritt Timothy. Apa sebenarnya yang coba ditawarkan oleh Qorin lewat ceritanya?

“Cing ciripit. Tulang bajing kajapit.”

Sebuah sekolah berbasis pesantren berdiri jauh dari hiruk-pikuk perkotaan, dan hanya dikhususkan untuk santri perempuan. Listrik saja dibatasi, dan kepemilikan ponsel dilarang. Dalam lingkungan yang sedemikian ketat, ada Zahra (Maharani), siswi teladan paling rajin yang memimpin satu angkatan kelas tiga. Dengan tekanan harapan dari banyak orang, ia mesti mengurus Yolanda (Aghniny), siswi baru dari Jakarta. Perintah dari Ustad Jaelani (Omar) yang mendominasi pesantren yang tidak mungkin ia tolak. Tidak ada orang yang berani melawannya. Meski itu Umi Yana (Putri) sekalipun yang mengawasi asrama, maupun Umi Hana (Dea), istri sang ustad sendiri. Dari sana lah semua masalahnya.

Sebagai film horor yang berikutnya dari IDN Pictures setelah Inang, dan berbalut unsur Islamis amat kental seperti Qodrat, Qorin terasa sekali bergerak dengan hati-hati. Kendati demikian, masih ada saja yang luput bahkan dari penulisan ceritanya. Sementara jika kita lihat rekam jejak baik Lele Laila maupun Ginanti Rona, bukan baru kali ini saja mereka menggarap film horor. Meski pengalaman Rona dalam menyutradarai film-film horor belum ada yang bagus, ketimbang Lele Laila yang sudah banyak terlibat dalam film-film Danur. Sempat bertanya-tanya pula, dari mana gaya eksekusi adegan berdarah Rona berasal. Rupanya ia pernah terlibat sebagai asisten sutradara dalam The Raid dan The Raid 2: Berandal. Walau tidak secara langsung punya kemiripan.

Naskah yang menjadi bagian cukup bermasalah dari Qorin menunjukkan –setidaknya—empat keluputan paling kentara. Ihwal qorin yang kurang definitif, momen tiba-tiba, solusi tak solutif, serta ending cerita. Definisi spesifik mengenai qorin itu sendiri kurang terjelaskan dengan baik. Seolah semua orang bahkan yang awam pun harus sudah tahu apa itu qorin atau bahkan qodam. Apakah dia itu sudah pasti jahat, ataukah ada sebab-sebab khusus dia menjadi jahat hingga menyerang wujud manusianya, dan masih banyak lagi. Ada pula peristiwa tiba-tiba yang harus disegerakan terjadi, yakni ritual pembuka tabir untuk bisa melihat qorin sebagai ujian kelulusan para siswi. Belum lagi tentang segmen solusi dan penutup film ini.

Baca Juga  Asteroid City

Seakan tidak ada pilihan-pilihan jalan keluar yang lebih solutif, kedua penulis Qorin menempatkan para tokoh mereka tampak tak punya konsistensi karakter. Belum lagi keputusan-keputusan ganjil yang dibuat para tokoh tersebut dalam situasi yang tidak seharusnya. Termasuk tokoh-tokoh penting yang dalam pertengahan cerita hilang entah ke mana dan muncul entah dari mana saat situasi genting. Padahal Lele Laila punya rekam jejak yang panjang dalam mengerjakan skenario film-film horor. Tidakkah ada pembelajaran satu pun dari semuanya? Qorin pun ditutup oleh katarsis dengan tensi yang masih tinggi, alih-alih menunjukkan nasib terakhir dari pesantren dan keseluruhan korbannya –termasuk Umi Hana (Dea) dan Umi Yana (Putri). Baik Rona maupun Laila seakan merasa cukup hanya dengan satu scene itu.

Meski demikian, ketiga tokoh sentral Qorin dimainkan dengan baik oleh Maharani, Aghniny, dan Putri. Walau karakterisasi yang dibuat untuk mereka bermasalah. Utamanya adalah Zahra dan Umi Yana yang tampak amat tersiksa dan tidak berdaya untuk melawan dominasi sang ustadz (Omar). Meski “lagi-lagi”, ustadz hanya menjadi status kalah-kalahan belaka. Adapun sosok kiai yang seolah sangat diandalkan oleh para siswi, ternyata pada akhirnya tidak memberi dampak signifikan untuk masalah yang tengah memuncak. Para qorin yang menjerat wujud manusia mereka justru bisa dengan mudah diusir hanya lewat satu bacaan yang jarang kita dengar. Lalu trik horor dengan “mendatangkan” hujan lebat berpetir? Salah satu yang sudah teramat basi rasanya.

Qorin tampak dikerjakan dengan hati-hati, walau ternyata banyak celah di sana-sini. Sang sineas pun tak memasukkan kemasan-kemasan sinematik yang istimewa, kecuali beberapa eksekusi khas horor yang sering kita jumpai. Lele Laila pun berupaya menjelaskan sejumlah keganjilan lewat dialog para tokoh sebelum penonton mempertanyakannya. Terutama posisi sekolah yang nantinya akan mengalami masalah, tetapi tidak ada seorangpun pihak luar yang muncul dan turut campur. Namun sayangnya, masih banyak yang luput dari perhatiannya. Meski perhatian dari Rona maupun Laila untuk mengangkat satu isu besar yang pernah jadi buah bibir di jagat maya patut diapresiasi. Peristiwa pelecehan hingga pemerkosaan banyak santriwati oleh seorang ustadz.

PENILAIAN KAMI
Overall
60 %
Artikel SebelumnyaShe Said
Artikel BerikutnyaLady Chatterley’s Lover
Miftachul Arifin lahir di Kediri pada 9 November 1996. Pernah aktif mengikuti organisasi tingkat institut, yaitu Lembaga Pers Mahasiswa Pressisi (2015-2021) di Institut Seni Indonesia Yogyakarta, juga turut andil menjadi salah satu penulis dan editor dalam media cetak Majalah Art Effect, Buletin Kontemporer, dan Zine K-Louder, serta media daring lpmpressisi.com. Pernah pula menjadi kontributor terpilih kategori cerpen lomba Sayembara Goresan Pena oleh Jendela Sastra Indonesia (2017), Juara Harapan 1 lomba Kepenulisan Cerita Pendek oleh Ikatan Penulis Mahasiswa Al Khoziny (2018), Penulis Terpilih lomba Cipta Puisi 2018 Tingkat Nasional oleh Sualla Media (2018), dan menjadi Juara Utama lomba Short Story And Photography Contest oleh Kamadhis UGM (2018). Memiliki buku novel bergenre fantasi dengan judul Mansheviora: Semesta Alterna􀆟f yang diterbitkan secara selfpublishing. Selain itu, juga menjadi salah seorang penulis top tier dalam situs web populer bertema umum serta teknologi, yakni selasar.com dan lockhartlondon.com, yang telah berjalan selama lebih-kurang satu tahun (2020-2021). Latar belakangnya dari bidang film dan minatnya dalam bidang kepenulisan, menjadi motivasi dan alasannya untuk bergabung dengan Komunitas Film Montase sejak tahun 2019. Semenjak menjadi bagian Komunitas Film Montase, telah aktif menulis hingga puluhan ulasan Film Indonesia dalam situs web montasefilm.com. Prestasi besar terakhirnya adalah menjadi nominator Festival Film Indonesia 2021 untuk kategori Kritikus Film Terbaik melalui artikel "Asih, Cermin Horor Indonesia Kontemporer" bersama rekan penulisnya, Agustinus Dwi Nugroho.

BERIKAN TANGGAPANMU

Silahkan berikan tanggapan anda
Silahkan masukan nama anda disini

Situs ini menggunakan Akismet untuk mengurangi spam. Pelajari bagaimana data komentar Anda diproses.