Ready Player One (2018)

140 min|Action, Adventure, Sci-Fi|29 Mar 2018
7.4Rating: 7.4 / 10 from 536,233 usersMetascore: 64
When the creator of a virtual reality called the OASIS dies, he makes a posthumous challenge to all OASIS users to find his Easter Egg, which will give the finder his fortune and control of his world.

Watch our video review in english below.

     Steven Spielberg kita kenal sebagai sineas box-office dengan film-film garapannya yang amat sukses di era 1970-an hingga 1990-an. Siapa yang tak kenal ikonik sinema macam, Jaws, Indiana Jones, E.T. dan Jurassic Park. Satu dekade terakhir, ia lebih banyak menggarap drama biografi/dokudrama, walaupun film-film ini juga berkualitas sangat baik, macam Munich, Lincoln, Brigde of Spies, serta baru lalu The Post. Sang sineas, belakangan ini seperti kehilangan sentuhannya yang dulu begitu piawai menghibur penonton termasuk saya sendiri sebagai fans berat Spielberg. Terakhir, ia menggarap film fiksi ilmiah tercatat adalah War of the Worlds (2005) bersama Tom Cruise. Setelah melihat trailer Ready Player One, saya anggap ini sebagai aksi keputusasaan sang sineas di usia senjanya. Ternyata saya keliru besar.

     Ready Player One adalah film berlatar masa depan dimana sebuah permainan virtual reality bernama Oasis mengambil-alih kehidupan manusia. Oasis menjadi pelepas dari semua realita yang terjadi di muka bumi yang tak lagi nyaman dihuni. Tokoh protagonis kita, Wade Watts adalah seorang pemuda biasa yang tinggal di pemukiman kumuh bersama bibinya. Ia punya ambisi besar untuk memecahkan misteri terbesar di permainan Oasis yang diwarisi oleh sang pencipta permainan, James Halliday. Siapa pun yang bisa meraihnya akan mendapatkan kontrol penuh permainan Oasis, singkatnya, menjadi raja dunia. Ambisi Wade terhalang oleh pimpinan perusahaan IOI, Nolan Sorrento yang menggunakan cara apapun untuk mendapatkan OASIS.

     Aturan main beserta sejarah permainan OASIS dengan baik digambarkan dalam segmen pembukanya. Layaknya The Matrix, permainan OASIS adalah dunia maya dimana kisah utamanya berlangsung yang disajikan bergantian dengan dunia nyata. Unsur misteri dan investigasi adalah satu hal yang amat menarik dalam plotnya. Persis seperti permainan Role Playing Game (RPG), penonton diajak ikut terlibat dalam pencarian item-item rahasia yang begitu mengasyikkan. Fans game sejenis pasti amat menikmati film ini. Satu segmen aksi di awal yang amat mengesankan disajikan melalui satu lomba balap yang amat cepat dan brutal, yang sama sekali tak pernah terpikir bahwa Spielberg yang membuatnya. Saya juga tak bakal menyangka, bisa menikmati efek visual yang artifisial macam ini karena memang motif visualnya menyatu dengan kisah filmnya.

Baca Juga  Balas Budi | REVIEW

     Satu hal yang membuat film ini berbeda bagi penikmat film tentu adalah tribute-nya terhadap ikon-ikon game dan film tentunya. Penikmat film sejati rasanya bakal menikmati film ini lebih dari penonton awam. Entah terdapat puluhan tribute terhadap film-film populer dari era klasik hingga modern, yang ditampilkan melalui dialog, tokoh, atribut, properti, aksi dan sebagainya dengan gaya dan cara tanpa berkesan tempelan sama sekali. Belum pernah sebelumnya, tribute film begitu banyak digunakan dalam satu film seperti ini, sebut saja Back to the Future, Iron Giant, Shining, King Kong, Robocop, Jurassic park, bersama puluhan tokoh game dan komik. Segmen Shining, bagi saya adalah segmen terbaik dan paling menghibur dalam filmnya, dan terasa sekali sang sineas pun begitu menikmati ketika membuatnya karena ia pun amat memuja Stanley Kubrick. Rasanya penonton masa kini bakal banyak melewatkan puluhan tribute film dalam ini. Rosebud? Siapa yang tahu soal ini jika bukan pecinta film klasik?

     Setelah sekian lama, Spielberg akhirnya mendapatkan kembali mojo-nya melalui Ready Player One yang menghibur tidak hanya generasi milineal, namun juga sebelumnya. Sang sineas kawakan ini memberikan isyarat jika ia belum habis benar, dan kali ini ia mampu berkompromi dengan semua generasi. Entah mengapa saya juga merasakan film ini begitu personal bagi sang sineas. Baru-baru ini, ia melontarkan pernyataan terhadap film-film Netflix yang kini digandrungi generasi milineal. Film yang diproduksi untuk format ini dan hanya sesaat rilis di bioskop, menurutnya tidak layak mendapatkan penghargaan sekelas Academy Awards. Ready Player One seolah adalah juga pernyataan sikap sang sineas untuk menghargai medium film serta proses panjang yang menyertainya. Realita yang dihadapi generasi sekarang jelas berbeda dengan generasi lampau. Melalui Ready Player One, Spielberg menjabarkannya dengan cara yang sangat elegan dan berkesan, sebagai sesuatu yang lebih diapresiasi secara mendalam oleh generasi atau seseorang yang memahami medium film sebagai suatu proses sejarah yang amat panjang.

WATCH OUR REVIEW

PENILAIAN KAMI
Overall
90 %
Artikel SebelumnyaThe Princess and the Matchmaker
Artikel BerikutnyaHari Film Nasional: Sebuah Refleksi
A lifelong cinephile, he cultivated a deep interest in film from a young age. Following his architectural studies, he embarked on an independent exploration of film theory and history. His passion for cinema manifested in 2006 when he began writing articles and film reviews. This extensive experience subsequently led him to a teaching position at the esteemed Television and Film Academy in Yogyakarta. From 2003 to 2019, he enriched the minds of students by instructing them in Film History, Introduction to Film Art, and Film Theory. His scholarly pursuits extended beyond the classroom. In 2008, he published his seminal work, "Understanding Film," which delves into the core elements of film, both narrative and cinematic. The book's enduring value is evidenced by its second edition, released in 2018, which has become a cornerstone reference for film and communication academics across Indonesia. His contributions extend beyond his own authorship. He actively participated in the compilation of the Montase Film Bulletin Compilation Book Volumes 1-3 and "30 Best Selling Indonesian Films 2012-2018." Further solidifying his expertise, he authored both "Horror Film Book: From Caligari to Hereditary" (2023) and "Indonesian Horror Film: Rising from the Grave" (2023). A lifelong cinephile, he developed a profound passion for film from an early age. After completing his studies in architecture, he embarked on an independent journey exploring film theory and history. His enthusiasm for cinema took tangible form in 2006 when he began writing articles and film reviews. This extensive experience eventually led him to a teaching position at the esteemed Television and Film Academy in Yogyakarta. From 2003 to 2019, he enriched students’ understanding through courses such as Film History, Introduction to Film Art, and Film Theory. His scholarly pursuits extended well beyond the classroom. In 2008, he published his seminal work, Understanding Film, an in-depth examination of the essential elements of cinema, both narrative and visual. The book’s enduring significance is reflected in its second edition, released in 2018, which has since become a cornerstone reference for film and communication scholars across Indonesia. His contributions to the field also encompass collaborative and editorial efforts. He participated in the compilation of Montase Film Bulletin Compilation Book Volumes 1–3 and 30 Best-Selling Indonesian Films 2012–2018. Further establishing his authority, he authored Horror Film Book: From Caligari to Hereditary (2023) and Indonesian Horror Film: Rising from the Grave (2023). His passion for cinema remains as vibrant as ever. He continues to offer insightful critiques of contemporary films on montasefilm.com while actively engaging in film production with the Montase Film Community. His short films have received critical acclaim at numerous festivals, both nationally and internationally. In recognition of his outstanding contribution to film criticism, his writing was shortlisted for years in a row for Best Film Criticism at the 2021-2024 Indonesian Film Festival. His dedication to the discipline endures, as he currently serves as a practitioner-lecturer in Film Criticism and Film Theory at the Indonesian Institute of the Arts Yogyakarta, under the Independent Practitioner Program from 2022-2024.

BERIKAN TANGGAPANMU

Silahkan berikan tanggapan anda
Silahkan masukan nama anda disini

Situs ini menggunakan Akismet untuk mengurangi spam. Pelajari bagaimana data komentar Anda diproses