Rebel Moon – Part One: A Child of Fire adalah film fiksi ilmiah arahan sineas kawakan Zack Snyder. Film rilisan Netflix ini dibintangi oleh nama-nama tenar, sebut saja Sofia Boutella, Djimon Hounsou, Ed Skrein, Michiel Huisman, Doona Bae, Ray Fisher, Charlie Hunnam hingga Anthony Hopkins. Film ambisius  yang ditulis dan diproduseri oleh sang sineas sendiri ini memiliki bujet sebesar USD 166 juta. Akankah ini bakal menjadi salah satu karya terbaik sang sineas?

Satu wilayah galaksi The Motherworld kini dipimpin oleh Balisarius dengan tangan kanannya yang bengis, yakni Jenderal Atticus Noble (Skrein). Niat sang kaisar untuk menguasai penuh galaksi diganggu oleh pemberontakan yang beroperasi secara gerilya dan kini tengah diburu oleh sang jenderal. Suatu ketika, sang jenderal mencari suplai makanan untuk pasukannya di sebuah desa di Planet Veldt. Noble pun dapat memaksa warga untuk menyerahkan hasil panen mereka kelak dan meninggalkan belasan tentara di desa tersebut. Kora (Boutella) seorang gadis muda tangguh berhasil membunuh para tentara dengan dibantu satu tentara muda yang membelot. Masalah jauh dari usai, Kora didampingi Gunnar (Huisman) meninggalkan desa untuk mencari bala bantuan sebelum pihak kekaisaran tiba.

Apakah kamu merasa tak asing dengan plotnya? Bagi penikmat film, tentu tahu persis jika plotnya terinspirasi dari Seven Samurai karya Akira Kurosawa yang mengisahkan dua warga desa mencari para ksatria untuk melindungi desa mereka dari para bandit. Tak hanya ini, elemen dan nuansa plot dari beberapa film populer pun juga terasa begitu kental, sebut saja Star Wars, Dune, hingga Gladiator. Entah ini dimaksudkan sebagai tribute atau semacamnya, namun jelas ini bukan satu olahan cerita yang segar dan solid. Filmnya bak video game role playing game (RPG) yang mencari rekan ksatria untuk bergabung dalam petualangan. Kejutan kecil ada di babak akhir, namun itu pun tak banyak menolong kisahnya yang terasa janggal di sana-sini, disamping eksposisi yang lemah.

Baca Juga  Black Widow

Kita tahu persis, kapal angkasa milik sang jenderal bisa melesat dan bolak-balik ke mana pun dengan mudah. Lalu mengapa mereka harus meminta cadangan makanan dari satu desa terisolir di planet kecil? Bahkan hingga sang jenderal sendiri harus turun tangan ke lapangan. Saya tak bisa membayangkan di dalam kapal angkasa tersebut terdapat satu lumbung gandum besar untuk cadangan makanan mereka. Ini sungguh menggelikan. Lantas, apakah tidak terlihat terlalu mudah, para ksatria mau bergabung begitu saja dengan Kora tanpa imbalan yang besar? Ada seribu jalan untuk mencari motif cerita agar situasi bisa mengarah seperti tuntutan naskahnya dengan lebih natural. Penulis naskah seolah terlalu malas untuk mencari opsi yang lebih berkelas. Ini belum terhitung dialog-dialog yang menggelikan dalam banyak adegannya.

Bagi penikmat visual sentuhan sang sineas, Rebel Moon adalah surganya. Snyder kembali ke sentuhan emasnya dengan sisi sinematografinya yang mengesankan, macam 300 dan Watchmen. Komposisi gambar yang terukur sangat memesona di banyak adegan, pula teknik slow-motion yang jadi andalan adegan aksi-aksinya. Namun, apalah arti semua pencapaian estetik berkelas ini tanpa cerita yang solid?

Rebel Moon – Part One: A Child of Fire menderita dari film-film senada yang lebih superior tanpa naskah yang solid, sekalipun gaya visual sang sineas masih menjadi penekanan. Percobaan sang sineas kali ini jelas adalah satu usaha yang terbilang gagal. Karya-karya terbaiknya, seperti The Dawn of the Dead naskahnya ditulis oleh James Gunn, begitu pula Watchmen yang sineas juga tidak terlibat. 300 adalah murni pencapaian estetik dan kisahnya pun sederhana. Film-film superhero DC-nya pun juga dinilai buruk. Rebel Moon menjadi penegas bahwa sang sineas butuh penulis yang handal untuk mengolah naskahnya, walau mungkin ini sudah terlambat bagi part two-nya yang rilis pada bulan April tahun depan.

1
2
PENILAIAN KAMI
Overall
50 %
Artikel SebelumnyaHamka & Siti Raham Vol.2
Artikel BerikutnyaSilent Night
A lifelong cinephile, he cultivated a deep interest in film from a young age. Following his architectural studies, he embarked on an independent exploration of film theory and history. His passion for cinema manifested in 2006 when he began writing articles and film reviews. This extensive experience subsequently led him to a teaching position at the esteemed Television and Film Academy in Yogyakarta. From 2003 to 2019, he enriched the minds of students by instructing them in Film History, Introduction to Film Art, and Film Theory. His scholarly pursuits extended beyond the classroom. In 2008, he published his seminal work, "Understanding Film," which delves into the core elements of film, both narrative and cinematic. The book's enduring value is evidenced by its second edition, released in 2018, which has become a cornerstone reference for film and communication academics across Indonesia. His contributions extend beyond his own authorship. He actively participated in the compilation of the Montase Film Bulletin Compilation Book Volumes 1-3 and "30 Best Selling Indonesian Films 2012-2018." Further solidifying his expertise, he authored both "Horror Film Book: From Caligari to Hereditary" (2023) and "Indonesian Horror Film: Rising from the Grave" (2023). A lifelong cinephile, he developed a profound passion for film from an early age. After completing his studies in architecture, he embarked on an independent journey exploring film theory and history. His enthusiasm for cinema took tangible form in 2006 when he began writing articles and film reviews. This extensive experience eventually led him to a teaching position at the esteemed Television and Film Academy in Yogyakarta. From 2003 to 2019, he enriched students’ understanding through courses such as Film History, Introduction to Film Art, and Film Theory. His scholarly pursuits extended well beyond the classroom. In 2008, he published his seminal work, Understanding Film, an in-depth examination of the essential elements of cinema, both narrative and visual. The book’s enduring significance is reflected in its second edition, released in 2018, which has since become a cornerstone reference for film and communication scholars across Indonesia. His contributions to the field also encompass collaborative and editorial efforts. He participated in the compilation of Montase Film Bulletin Compilation Book Volumes 1–3 and 30 Best-Selling Indonesian Films 2012–2018. Further establishing his authority, he authored Horror Film Book: From Caligari to Hereditary (2023) and Indonesian Horror Film: Rising from the Grave (2023). His passion for cinema remains as vibrant as ever. He continues to offer insightful critiques of contemporary films on montasefilm.com while actively engaging in film production with the Montase Film Community. His short films have received critical acclaim at numerous festivals, both nationally and internationally. In recognition of his outstanding contribution to film criticism, his writing was shortlisted for years in a row for Best Film Criticism at the 2021-2024 Indonesian Film Festival. His dedication to the discipline endures, as he currently serves as a practitioner-lecturer in Film Criticism and Film Theory at the Indonesian Institute of the Arts Yogyakarta, under the Independent Practitioner Program from 2022-2024.

1 TANGGAPAN

  1. Tepat betul… Snyder ini bagusnya memang ngurusin visual saja… Serahkan naskah ke -yang lebih anu. Tapi untuk kali ini masih saya maklumi, saya masih ingat Snyder pernah membuat beberapa ‘potongan’ yang solid di film Zack Snyder’s Justice League, merapihkan film Justice League yang sebelumnya.

BERIKAN TANGGAPANMU

Silahkan berikan tanggapan anda
Silahkan masukan nama anda disini

Situs ini menggunakan Akismet untuk mengurangi spam. Pelajari bagaimana data komentar Anda diproses