Birds of Prey: And the Fantabulous Emancipation of One Harley Quinn (2020)
109 min|Action, Adventure, Crime|07 Feb 2020
6.6Rating: 6.6 / 10 from 42,728 usersMetascore: 60
After splitting with the Joker, Harley Quinn joins superheroes Black Canary, Huntress and Renee Montoya to save a young girl from an evil crime lord.

Birds of Prey adalah film kedelapan dari DC Extended Universe (DCEU) yang juga spin-off dari Suicide Squad (2016). Mengingat kegagalan kritik Squad, dan beberapa film DCEU, DC tentunya mencoba menformat ulang formula yang mereka rencanakan. Birds of Prey seolah tak memiliki banyak beban, sang sineas Cathy Yan bersama sang produser Margot Robbie yang bermain pula di dalamnya, mampu mengutak-atik formula dengan bebas di luar kebiasaan genrenya. Dengan dukungan bintang-bintang, seperti Ewan McGregor dan Mary Elizabeth Winstead, mampukah perjudian ini berbuah hasil?

Alkisah Harley Quinn (argot Robbie) yang kini diputus oleh Joker, tak bisa lagi bertindak seenaknya karena tanpa perlindungan nama besar Mr. J, ia menjadi buron siapa saja, baik penjahat maupun polisi, terutama gangster sadis Roman Sionis (McGregor) alias Black Mask. Di tengah situasi rumit, Roman yang mengincar sebuah intan bernilai tanpa sengaja dicuri oleh seorang pencopet jalanan cilik bernama Cassandra Cain. Tak pelak, Cassandra menjadi incaran banyak orang, sementara Harley justru jatuh hati dan melindungi si kecil dari bahaya.

Harley Quinn and Two Smoking Barrel” bisa jadi merupakan ungkapan yang pas untuk menggambarkan plot Birds of Prey. Awal separuh filmnya adalah segmen yang paling menarik dalam filmnya karena cara penuturan non-kronologisnya. Mirip film-film awal garapan sineas Guy Ritchie, Birds of Prey menyajikan kisahnya bergantian ke banyak karakter dengan plot maju-mundur yang jelas membuat penonton pasti banyak bertanya. Harley sendiri yang juga bertindak sebagai narator mengiringi kisahnya membuat segalanya menjadi gamblang. Walau penuturan plot macam ini sering dipakai dalam film kriminal, namun untuk genre “superhero” rasanya belum pernah menggunakan formula semacam ini. Film ini anggap saja “Deadpool“-nya DC dengan keragaman sinematik dan cara bertuturnya.

Baca Juga  Men in Black 3

Sosok Harley Quinn adalah satu-satunya sosok yang membuat Birds of Prey adalah 100% miliknya. Walau kita sudah kenal karakter ini sejak Suicide Squad, namun melalui film inilah kita baru betul-betul mengenal sosok ini. Tak heran, jika kelak (atau sudah) bakal banyak yang mengidolakan sosok brutal ini. Harley bertindak semaunya, enerjik, banyak omong, sadis/brutal, pintar, tidak takut apa pun, lincah dan kuat, sentimentil, dan tentu saja, sinting! Tak banyak komentar, Margot Robbie = Harley Quinn. Harley Quinn adalah Margot Robbie. Sang bintang memang sempurna memerankan sosok brutal ini dari ujung kaki hingga rambut.

Dengan pesona sang bintang, Margot Robbie, Birds of Prey terbilang segar dan unik untuk genrenya dari sisi penuturan kisah maupun semesta sinematiknya, walau sang protagonis jelas bukan sosok tipikal yang tepat untuk diidolakan. Untuk semesta sinematiknya film ini jelas adalah sebuah lompatan besar dan jika sukses komersial, tak lama berita sekuelnya bakal segera muncul. Harley Quinn memang rasanya cocok jika ia berdiri sendiri tanpa sosok besar lain. Karakter ini perlu ruang gerak yang dinamis karena sosoknya yang tak bisa diprediksi. Bermain di level cerita skala kecil bagi DCEU adalah solusi tepat ketimbang ramai-ramai dengan banyak tokoh justru malah arahnya tak jelas. Hati-hati pula bagi penonton (khususnya orang tua yang membawa anak), film ini berating DEWASA karena banyak kata sumpahan kasar dan adegan sadis/brutal, walau kini sensornya terasa halus (jika memang disensor).

PENILAIAN KAMI
Overall
80 %
Artikel SebelumnyaMangkujiwo
Artikel BerikutnyaMontase menjadi Partner FSAI 2020
Himawan Pratista
Hobi menonton film sejak kecil dan mendalami teori dan sejarah film secara otodidak setelah lulus dari Jurusan Arsitektur. Ia mulai menulis artikel dan ulasan film sejak tahun 2006. Karena pengalamannya, penulis ditarik menjadi staf pengajar sebuah Akademi Televisi dan Film swasta di Yogyakarta untuk mengampu mata kuliah Sejarah Film, Pengantar Seni Film, dan Teori Film sejak tahun 2003 hingga kini. Buku karya debutnya adalah Memahami Film (2008) yang memilah seni film secara naratif dan sinematik. Buku keduanya, Memahami Film - Edisi Kedua (2017) kini sudah terbit.

BERIKAN TANGGAPANMU

Silahkan berikan tanggapan anda
Silahkan masukan nama anda disini

This site uses Akismet to reduce spam. Learn how your comment data is processed.