Birds of Prey (2020)
109 min|Action, Comedy, Crime|07 Feb 2020
6.1Rating: 6.1 / 10 from 266,273 usersMetascore: 60
After splitting with the Joker, Harley Quinn joins superheroines Black Canary, Huntress, and Renee Montoya to save a young girl from an evil crime lord.

Birds of Prey adalah film kedelapan dari DC Extended Universe (DCEU) yang juga spin-off dari Suicide Squad (2016). Mengingat kegagalan kritik Squad, dan beberapa film DCEU, DC tentunya mencoba menformat ulang formula yang mereka rencanakan. Birds of Prey seolah tak memiliki banyak beban, sang sineas Cathy Yan bersama sang produser Margot Robbie yang bermain pula di dalamnya, mampu mengutak-atik formula dengan bebas di luar kebiasaan genrenya. Dengan dukungan bintang-bintang, seperti Ewan McGregor dan Mary Elizabeth Winstead, mampukah perjudian ini berbuah hasil?

Alkisah Harley Quinn (argot Robbie) yang kini diputus oleh Joker, tak bisa lagi bertindak seenaknya karena tanpa perlindungan nama besar Mr. J, ia menjadi buron siapa saja, baik penjahat maupun polisi, terutama gangster sadis Roman Sionis (McGregor) alias Black Mask. Di tengah situasi rumit, Roman yang mengincar sebuah intan bernilai tanpa sengaja dicuri oleh seorang pencopet jalanan cilik bernama Cassandra Cain. Tak pelak, Cassandra menjadi incaran banyak orang, sementara Harley justru jatuh hati dan melindungi si kecil dari bahaya.

Harley Quinn and Two Smoking Barrel” bisa jadi merupakan ungkapan yang pas untuk menggambarkan plot Birds of Prey. Awal separuh filmnya adalah segmen yang paling menarik dalam filmnya karena cara penuturan non-kronologisnya. Mirip film-film awal garapan sineas Guy Ritchie, Birds of Prey menyajikan kisahnya bergantian ke banyak karakter dengan plot maju-mundur yang jelas membuat penonton pasti banyak bertanya. Harley sendiri yang juga bertindak sebagai narator mengiringi kisahnya membuat segalanya menjadi gamblang. Walau penuturan plot macam ini sering dipakai dalam film kriminal, namun untuk genre “superhero” rasanya belum pernah menggunakan formula semacam ini. Film ini anggap saja “Deadpool“-nya DC dengan keragaman sinematik dan cara bertuturnya.

Baca Juga  The Holdovers

Sosok Harley Quinn adalah satu-satunya sosok yang membuat Birds of Prey adalah 100% miliknya. Walau kita sudah kenal karakter ini sejak Suicide Squad, namun melalui film inilah kita baru betul-betul mengenal sosok ini. Tak heran, jika kelak (atau sudah) bakal banyak yang mengidolakan sosok brutal ini. Harley bertindak semaunya, enerjik, banyak omong, sadis/brutal, pintar, tidak takut apa pun, lincah dan kuat, sentimentil, dan tentu saja, sinting! Tak banyak komentar, Margot Robbie = Harley Quinn. Harley Quinn adalah Margot Robbie. Sang bintang memang sempurna memerankan sosok brutal ini dari ujung kaki hingga rambut.

Dengan pesona sang bintang, Margot Robbie, Birds of Prey terbilang segar dan unik untuk genrenya dari sisi penuturan kisah maupun semesta sinematiknya, walau sang protagonis jelas bukan sosok tipikal yang tepat untuk diidolakan. Untuk semesta sinematiknya film ini jelas adalah sebuah lompatan besar dan jika sukses komersial, tak lama berita sekuelnya bakal segera muncul. Harley Quinn memang rasanya cocok jika ia berdiri sendiri tanpa sosok besar lain. Karakter ini perlu ruang gerak yang dinamis karena sosoknya yang tak bisa diprediksi. Bermain di level cerita skala kecil bagi DCEU adalah solusi tepat ketimbang ramai-ramai dengan banyak tokoh justru malah arahnya tak jelas. Hati-hati pula bagi penonton (khususnya orang tua yang membawa anak), film ini berating DEWASA karena banyak kata sumpahan kasar dan adegan sadis/brutal, walau kini sensornya terasa halus (jika memang disensor).

1
2
3
PENILAIAN KAMI
Overall
80 %
Artikel SebelumnyaMangkujiwo
Artikel BerikutnyaMontase menjadi Partner FSAI 2020
A lifelong cinephile, he cultivated a deep interest in film from a young age. Following his architectural studies, he embarked on an independent exploration of film theory and history. His passion for cinema manifested in 2006 when he began writing articles and film reviews. This extensive experience subsequently led him to a teaching position at the esteemed Television and Film Academy in Yogyakarta. From 2003 to 2019, he enriched the minds of students by instructing them in Film History, Introduction to Film Art, and Film Theory. His scholarly pursuits extended beyond the classroom. In 2008, he published his seminal work, "Understanding Film," which delves into the core elements of film, both narrative and cinematic. The book's enduring value is evidenced by its second edition, released in 2018, which has become a cornerstone reference for film and communication academics across Indonesia. His contributions extend beyond his own authorship. He actively participated in the compilation of the Montase Film Bulletin Compilation Book Volumes 1-3 and "30 Best Selling Indonesian Films 2012-2018." Further solidifying his expertise, he authored both "Horror Film Book: From Caligari to Hereditary" (2023) and "Indonesian Horror Film: Rising from the Grave" (2023). His passion for film extends to the present day. He continues to provide insightful critiques of contemporary films on montasefilm.com, while actively participating in film production endeavors with the Montase Film Community. His own short films have garnered critical acclaim at numerous festivals, both domestically and internationally. Recognizing his exceptional talent, the 2022 Indonesian Film Festival shortlisted his writing for Best Film Criticism (Top 15). His dedication to the field continues, as he currently serves as a practitioner-lecturer for Film Criticism and Film Theory courses at the Yogyakarta Indonesian Institute of the Arts' Independent Practitioner Program.

BERIKAN TANGGAPANMU

Silahkan berikan tanggapan anda
Silahkan masukan nama anda disini

Situs ini menggunakan Akismet untuk mengurangi spam. Pelajari bagaimana data komentar Anda diproses.