mangkujiwo

Mangkujiwo merupakan film horor besutan sutradara Azhar Kinoi Lubis. Film ini adalah kali ketiga sang sineas memproduksi film horor, setelah sebelumnya, Kafir: Bersekutu dengan Setan (2018) dan Ikut Aku ke Neraka (2019).  Sang sutradara lebih sering memproduksi film drama, seperti Jokowi (2013), Dibalik 98 (2015), Blusukan Jakarta (2016), dan Demi Cinta (2017). Film yang diproduksi oleh MVP Pictures ini dibintangi oleh Sujiwo Tejo, Yasamin Jasem, Asmara Abigail, Roy Marten, Karina Suwandi, Djenar Maesa Ayu, dan Samuel Rizal.

Film ini bercerita tentang seorang perempuan yang tengah dipasung, bernama Kanti (Asmara Abigail). Ia dianggap gila dan membawa petaka bagi warga desa setempat yang isunya digulirkan seorang bernama Cokrokusumo (Roy Marten). Kanti pun sangat membenci Cokrokusumo. Brotoseno (Sujiwo Tejo) akhirnya membawa Kanti pergi dari desa. Di rumahnya, Brotoseno menaruh Kanti di sebuah ruang dekat sebuah cermin Kuno (Pengilon) dan melakukan berbagai ritual untuk mengobatinya. Cerita pun berlanjut 19 tahun kemudian, di mana kisah mengenai cermin ini terus berlanjut dan terus menghantui pemilik rumah.

Cerita tentang Kuntilanak memang sudah banyak dieksplor dalam film horor Indonesia. Kuntilanak jadi sosok hantu paling populer di Indonesia. Film Kuntilanak sendiri telah diproduksi sejak tahun 2006 bahkan sudah di-remake pula. Filmnya telah muncul sejak Kuntilanak (2006), Kuntilanak 2 (2007), Kuntilanak 3 (2008) hingga remake-nya, Kuntilanak (2018) dan Kuntilanak 2 (2019). Cerita tentang Kuntilanak memang tak bisa lepas dari kisah Cermin Kuno (Pengilon) yang menjadi motif penggerak cerita di filmnya. Cermin inilah yang menjadi sumber datangnya sosok hantu Kuntilanak. Kisah film ini mengambil latar cerita dan menguak misteri pengilon serta bagaimana Kuntilanak ini bisa muncul dari cermin tersebut.

Satu hal yang unik dalam Mangkujiwo, ada dua plot besar dalam dua era berbeda dari ceritanya yang disajikan secara bergantian. Walau tidak ada informasi waktu yang jelas, namun dari setting dan properti yang dipakai menunjukkan masa 1920-an – 1930-an, digambarkan dengan suasana pedesaan serta alat transportasi berupa kereta kuda dengan berlatar budaya jawa. Masa lainnya adalah tahun 1940-1950an. Terlihat dari properti yang digunakan, seperti alat transportasi mobil. Dalam dialog pun muncul informasi waktu yang telah berselang 19 tahun kemudian. Belum pernah ada film horor yang menggunakan kedua latar masa tersebut yang disajikan bergantian. Poin lebihnya di sini, namun bagaimana dengan kisahnya sendiri?

Baca Juga  Bu Tejo Sowan Jakarta

Film horor ini tak banyak memperlihatkan sosok hantu seperti dalam film horor kita kebanyakan. Memang bukan masalah, toh tujuan kisahnya hanya ingin mengungkap misteri sosok Kuntilanak. Semestinya kisahnya lebih kuat dari ini. Nyatanya, plotnya terasa cenderung datar dan bertempo sangat lambat, dan tanpa konflik berarti. Adegan-adegannya lambatnya dipenuhi dengan aksi ritual yang berulang, serta beberapa dialog puitik yang kadang sulit dicerna oleh penonton. Cerita filmnya tidak memiliki tone horor yang kuat. Semntera alur kisah yang kedua lebih terlihat seperti film thriller ketimbang horor. Sayang sekali, dengan potensi setting yang unik dan latar kisahnya yang penuh misteri, filmnya terlihat biasa, terlebih banyak kejanggalan dan plot hole dalam cerita filmnya.

Mangkujiwo dengan berlatar waktu masa silam dalam dua era, setting yang digunakan sangat minim. Bahkan perpindahan lokasi dari satu lokasi ke lokasi lainnya pun, kurang terlihat jelas posisinya. Sisi teknis lainnya juga menunjukkan beberapa kejanggalan yang mengganggu, terlihat dari aspek tata rias dan kostum. Karakter Brotoseno dan Cokrokusumo tak menunjukkan perbedaan rias wajah yang signifikan padahal sudah berselang 19 tahun. Lalu dari sisi kostum, kostum yang digunakan oleh Uma terlihat sangat modern dan casual seperti era kini.

PENILAIAN KAMI
Overall
40 %
Artikel SebelumnyaAkhir Kisah Cinta Si Doel
Artikel BerikutnyaBirds of Prey
Agustinus Dwi Nugroho lahir di Temanggung pada 27 Agustus 1990. Ia menempuh pendidikan Program Studi Film sejak tahun 2008 di sebuah akademi komunikasi di Yogyakarta. Di sinilah, ia mulai mengenal lebih dalam soal film, baik dari sisi kajian maupun produksi. Semasa kuliah aktif dalam produksi film pendek baik dokumenter maupun fiksi. Ia juga lulus dengan predikat cum laude serta menjadi lulusan terbaik. Ia mulai masuk Komunitas Film Montase pada tahun 2008, yang kala itu masih fokus pada bidang apresiasi film melalui Buletin Montase, yang saat ini telah berganti menjadi website montasefilm.com. Sejak saat itu, ia mulai aktif menulis ulasan dan artikel film hingga kini. Setelah lulus, ia melanjutkan program sarjana di Jurusan Ilmu Komunikasi di salah satu perguruan tinggi swasta di Jogja. Penelitian tugas akhirnya mengambil tema tentang Sinema Neorealisme dan membandingkan film produksi lokal yang bertema sejenis. Tahun 2017, Ia menyelesaikan studi magisternya di Program Pascasarjana Jurusan Pengkajian Seni di Institut Seni Indonesia (ISI) Yogyakarta dengan minat utama film. Penelitian tesisnya terkait dengan kajian narasi dan plot sebuah film. Saat ini, ia tercatat sebagai salah satu staf pengajar di Program Studi Film dan Televisi, ISI Yogyakarta mengampu mata kuliah teori, sejarah, serta kajian film. Ia juga aktif memberikan pelatihan, kuliah umum, seminar di beberapa kampus, serta menjadi pemakalah dalam konferensi Internasional. Biodata lengkap bisa dilihat dalam situs montase.org. Prestasi besar terakhirnya adalah menjadi nominator Festival Film Indonesia 2021 untuk kategori Kritikus Film Terbaik melalui artikel "Asih, Cermin Horor Indonesia Kontemporer" bersama rekan penulisnya, Miftachul Arifin.

BERIKAN TANGGAPANMU

Silahkan berikan tanggapan anda
Silahkan masukan nama anda disini

Situs ini menggunakan Akismet untuk mengurangi spam. Pelajari bagaimana data komentar Anda diproses.