Setelah rencana tayang perdananya ditunda dua kali karena pandemi, KKN di Desa Penari akhirnya tayang bertepatan dengan hari libur lebaran 2022. Respon masyarakat pun sangat bagus. Tak lama setelah  dibuka presale, tiket pun langsung diburu penonton. Hal ini menjadi tren positif bagi perfilman nasional setelah sekian lama mengalami pasang surut akibat pandemi. Film ini sendiri diadaptasi dari sebuah cerita yang pertama kali di-publish di media sosial twitter oleh orang yang mengatasnamakan diri simpelman (anonim). Cerita ini akhirnya juga ditulis  menjadi sebuah novel, yang berjudul sama. Cerita ini viral di kalangan masyarakat beberapa tahun lalu, karena konon kisahnya berdasarkan kejadian nyata. Wajar saja, jika film ini ditunggu-tunggu.

Film horor ini diproduksi oleh MD Pictures dan Pichouse. Konon, film ini diproduksi dengan bujet fantastis. Disutradarai oleh Awi Suryadi yang kita kenal denga seri horor Danur, KKN sepertinya bakal mengulang sukses. Film ini juga dibintangi oleh para aktor dan aktris, Tissa Biani, Adinda Thomas, Achmad Megantara, Aqhniny Haque, Calvin Jeremy, Fajar Nugraha, Kiki Narendra, dan Aulia Sarah.

KKN di Desa Penari bercerita tentang sekelompok mahasiswa yang melakukan KKN (Kuliah Kerja Nyata) di desa yang jauh dari kota dan berada di tengah hutan. Walau awalnya sempat ditolak oleh kepala desa, namun pada akhirnya mereka diijinkan KKN di sana. Mahasiswa dan mahasiswi tersebut adalah Nur (Tissa Biani), Widya (Adinda Thomas), Ayu (Aqhniny Haque), Bima (Achmad Megantara), Anton (Calvin Jeremy), dan Wahyu (Fajar Nugraha). Di awal, Nur sudah merasakan hal yang tak beres dengan desa tersebut. Ditambah lagi ada hal-hal yang mereka harus patuhi di sana, namun akhirnya mereka langgar. Hingga akhirnya, mereka mendapatkan gangguan gaib dari sosok yang mendiami desa tersebut.

Film dengan plot semacam ini jelas bukan hal baru di tanah air. Sekelompok anak muda terjebak dalam situasi teror dari lokasi yang mereka kunjungi, sebut saja Jelangkung (2003) dan Alas Pati (2018). Formula ini lazimnya membawa sebuah petualangan misteri tentang satu lokasi yang tak mereka pahami sebelumnya, yang notabene di sini banyak sekali lokasi-lokasi angker seperti desa terpencil, hutan, dan lainnya. KKN di Desa Penari sebetulnya memiliki latar cerita dan setting yang menarik dan bernuansa lokal. Lalu bagaimana dengan alur ceritanya sendiri?

Cerita horor viral di media sosial menjadi modal yang baik bagi film ini, setidaknya pasti membuat banyak orang penasaran. Contoh lainnya, sebut saja Keluarga Tak Kasat Mata (2017) dan Jeritan Malam (2019). Namun sayangnya, alur kisahnya hanya mengejar teror semata tanpa mengemas alur cerita yang horornya dengan baik, padahal setting telah mendukung. Tema filmnya yang terbilang fresh tentang KKN pun tak digali secara maksimal, dan hanya sekedar tempelan semata. Hampir tak ada aktivitas terkait dengan KKN itu sendiri, contohlah bagaimana para mahasiswa menjalankan program, interaksi dengan warga, dan pembahasan intens program mereka. Jika kegiatan KKN diolah lebih dalam, sepertinya akan memberikan nuansa yang berbeda, setidaknya memberikan jeda istirahat dari persoalan gaib dan teror yang mereka alami. Keganjilan pun juga terlihat dari minimnya peran warga desa yang tak terlihat di awal hingga menjelang akhir. Jika desa ini memang aneh, setidaknya informasinya juga dibangun sejak awal.

Baca Juga  Trinity, the Nekad Traveler

Kita tahu, sang sineas sudah akrab dengan trik horor atau jumpscare melalui tiga seri Danur, namun jika faktor ini saja yang dominan pasti akan sangat monoton. KKN di Desa Penari tak memiliki penceritan yang menarik. Seolah adegan yang dibangun hanya berisi pengalan kisah tanpa jalinan motif yang kuat dan logika cerita yang solid. Sepanjang film, kita tak mampu masuk ke tiap karakternya yang motivasinyapun kabur. Informasi terbatas yang dibangun tak mampu membangun unsur misteri dengan intens. Apalagi batasan antara karakter dan sosok gaibnya menjadi terlalu dekat, yang membuat unsur horornya pun luntur secara perlahan.

Walau intensitas ketegangan dalam penceritaan terbilang rendah, namun aspek suara terbilang lumayan membangun jumpscare-nya. Sang sineas terlihat berhati-hati menata kengerian suara dengan jumpscare yang muncul secara visual. Beberapa musik juga mampu mengintimidasi. Satu hal yang juga menarik pula  adalah penggunaan dialog bahasa Jawa. Konon beberapa aktor dan aktrisnya harus belajar bahasa Jawa untuk berperan sehingga terlihat sedikit kaku. Satu hal yang juga terlihat ganjil adalah desanya yang tak terlihat sebagai suasana desa lazimnya di wilayah Jawa Tengah. Tak terlihat rumah warga yang berjejer atau setidaknya lokasinya tidak saling berjauhan.

Walaupun pencapaian filmnya tak sesuai ekspektasi dibandingkan kehebohan di media sosial, setidaknya film ini mampu membangkitkan geliat perfilman Indonesia yang terpuruk dengan mampu meramaikan bioskop lokal. Sensasi dan kehebohan media sosial rupanya masih menarik untuk dikembangkan dalam industri film kita, walau dari sisi penceritaan masih harus dieksplorasi lebih baik lagi.

PENILAIAN KAMI
Overall
50 %
Artikel SebelumnyaGara-Gara Warisan
Artikel BerikutnyaKuntilanak 3
Agustinus Dwi Nugroho lahir di Temanggung pada 27 Agustus 1990. Ia menempuh pendidikan Program Studi Film sejak tahun 2008 di sebuah akademi komunikasi di Yogyakarta. Di sinilah, ia mulai mengenal lebih dalam soal film, baik dari sisi kajian maupun produksi. Semasa kuliah aktif dalam produksi film pendek baik dokumenter maupun fiksi. Ia juga lulus dengan predikat cum laude serta menjadi lulusan terbaik. Ia mulai masuk Komunitas Film Montase pada tahun 2008, yang kala itu masih fokus pada bidang apresiasi film melalui Buletin Montase, yang saat ini telah berganti menjadi website montasefilm.com. Sejak saat itu, ia mulai aktif menulis ulasan dan artikel film hingga kini. Setelah lulus, ia melanjutkan program sarjana di Jurusan Ilmu Komunikasi di salah satu perguruan tinggi swasta di Jogja. Penelitian tugas akhirnya mengambil tema tentang Sinema Neorealisme dan membandingkan film produksi lokal yang bertema sejenis. Tahun 2017, Ia menyelesaikan studi magisternya di Program Pascasarjana Jurusan Pengkajian Seni di Institut Seni Indonesia (ISI) Yogyakarta dengan minat utama film. Penelitian tesisnya terkait dengan kajian narasi dan plot sebuah film. Saat ini, ia tercatat sebagai salah satu staf pengajar di Program Studi Film dan Televisi, ISI Yogyakarta mengampu mata kuliah teori, sejarah, serta kajian film. Ia juga aktif memberikan pelatihan, kuliah umum, seminar di beberapa kampus, serta menjadi pemakalah dalam konferensi Internasional. Biodata lengkap bisa dilihat dalam situs montase.org. Prestasi besar terakhirnya adalah menjadi nominator Festival Film Indonesia 2021 untuk kategori Kritikus Film Terbaik melalui artikel "Asih, Cermin Horor Indonesia Kontemporer" bersama rekan penulisnya, Miftachul Arifin.

BERIKAN TANGGAPANMU

Silahkan berikan tanggapan anda
Silahkan masukan nama anda disini

Situs ini menggunakan Akismet untuk mengurangi spam. Pelajari bagaimana data komentar Anda diproses.