To the Stars (2019)
109 min|Drama|24 Apr 2020
6.2Rating: 6.2 / 10 from 2,022 usersMetascore: 60
Under small town scrutiny, a withdrawn farmer's daughter forges an intimate friendship with a worldly but reckless new girl in 1960s Oklahoma.

To the Stars adalah film drama remaja arahan Martha Stephens yang diputar pertama kali di ajang Sundance Film Festival, awal tahun lalu. Film berdurasi 109 menit ini dibintangi oleh Kara Hayward, Liana Liberato, Shea Wigham, Adelaide Clemens, serta Malin Akerman. Film remaja yang ber-setting cerita era 60-an di wilayah pinggiran memang tergolong langka, so apa yang mau ditawarkan film ini dengan yang lainnya?

Iris Deerborne adalah gadis remaja canggung yang kurang percaya diri dalam pergaulan. Suatu ketika, siswi baru bernama Maggie datang dengan pesona gadis kota, kontras dengan karakter Iris. Maggie pun langsung dekat dengan Iris, dan ia membawa banyak perubahan bagi si gadis desa sehingga ia bisa lebih percaya diri. Namun, dibalik semua kepercayaan diri Maggie, ternyata gadis ini memiliki problem yang jauh lebih besar dari Iris.

Kisahnya diawali dengan ringan yang menggambarkan pertemuan hingga hubungan Iris dengan Maggie yang semakin lekat. Plot macam ini memang sudah jamak untuk genre remaja sejenis. Namun,  berjalannya waktu, kisahnya ternyata tidak sesederhana yang kita pikir. Sejalan dengan masalah batin yang mulai terkuak dari sosok Maggie, alur kisahnya menjadi lebih kompleks dan arah plot hingga ending pun sulit diantisipasi. Bahkan siapa sangka, unsur LGBT pun disinggung di sini, tanpa basa-basi sebelumnya.

Baca Juga  Moana

To the Stars adalah sebuah drama unik dengan beragam konflik remaja-dewasa yang mengekspresikan dengan baik enegara AS di era ini. Pujian besar tentu ditujukan pada sang bintang, Liana Liberato yang bermain demikian ekspresif sebagai sosok Maggie yang “modern”. Sosok Iris yang konvensional dan Maggie yang bebas dan liar serta kelseluruhan kisahnya, merepresentasikan dengan baik bagaimana kecanggungan negara AS di awal era perang dingin, yang sulit menerima sesuatu satu hal baru, yang tak bisa mereka pahami.

1
2
PENILAIAN KAMI
Overall
80 %
Artikel SebelumnyaTime to Hunt
Artikel BerikutnyaBraking for Whales
A lifelong cinephile, he cultivated a deep interest in film from a young age. Following his architectural studies, he embarked on an independent exploration of film theory and history. His passion for cinema manifested in 2006 when he began writing articles and film reviews. This extensive experience subsequently led him to a teaching position at the esteemed Television and Film Academy in Yogyakarta. From 2003 to 2019, he enriched the minds of students by instructing them in Film History, Introduction to Film Art, and Film Theory. His scholarly pursuits extended beyond the classroom. In 2008, he published his seminal work, "Understanding Film," which delves into the core elements of film, both narrative and cinematic. The book's enduring value is evidenced by its second edition, released in 2018, which has become a cornerstone reference for film and communication academics across Indonesia. His contributions extend beyond his own authorship. He actively participated in the compilation of the Montase Film Bulletin Compilation Book Volumes 1-3 and "30 Best Selling Indonesian Films 2012-2018." Further solidifying his expertise, he authored both "Horror Film Book: From Caligari to Hereditary" (2023) and "Indonesian Horror Film: Rising from the Grave" (2023). His passion for film extends to the present day. He continues to provide insightful critiques of contemporary films on montasefilm.com, while actively participating in film production endeavors with the Montase Film Community. His own short films have garnered critical acclaim at numerous festivals, both domestically and internationally. Recognizing his exceptional talent, the 2022 Indonesian Film Festival shortlisted his writing for Best Film Criticism (Top 15). His dedication to the field continues, as he currently serves as a practitioner-lecturer for Film Criticism and Film Theory courses at the Yogyakarta Indonesian Institute of the Arts' Independent Practitioner Program.

BERIKAN TANGGAPANMU

Silahkan berikan tanggapan anda
Silahkan masukan nama anda disini

Situs ini menggunakan Akismet untuk mengurangi spam. Pelajari bagaimana data komentar Anda diproses.