Rupanya para pembuat film masih belum bosan dengan mix comedy “aksi spionase” dan keluarga. Masih hangat, Family Plan yang dibintangi Mark Wahlberg belum lama lalu. Role Play digarap oleh Thomas Vincent yang dibintangi Kaley Cuoco, David Oyelowo, Rudi Dharmalingam, Connie Nielsen, serta Bill Nighy. Cuoco selama ini kita kenal melalui sitkom populer, The Big Bang Theory dan seri The Flight Attendant. Apa lagi kini yang ingin ditawarkan Role Play melalui sang bintang?

Emma (Cuoco) hidup harmonis bersama sang suami, Dave (Oyelowo) dan dua anaknya, Wyatt dan Caroline. Namun siapa sangka, Emma alias Anna Peller adalah pembunuh bayaran tangguh yang sering berpergian dengan berkedok urusan kantor. Suatu hari, satu permainan peran yang dilakukan Emma dan Dave untuk merayakan ultah perkawinan mereka di sebuah hotel, berbuah identitas Emma terekspos. Emma pun diincar dan diburu oleh satu kelompok misterius dan di saat bersamaan ia juga memikirkan keselamatan keluarganya.

Di luar tipikal plotnya yang sudah tumpah ruah di pasaran, Role Play tidak memiliki apa pun yang membekas. Sejak True Lies (1994) garapan James Cameron, Mr. & Mrs. Smith (2005), hingga Nobody {2021), sebagai contoh terbaik, konsepnya nyaris selalu sama dan arah plotnya tak sulit ditebak. Di luar aksinya, semakin lama identitas protagonis terbongkar, semakin menarik kisahnya.

Role Play sedikit berbeda melalui penampilan memikat Cuoco dan Oyelowo. Plotnya tidak banyak berkutat pada aksi seperti lazimnya, namun pada chemistry keduanya yang bermain apik. Sayangnya, permainan peran keduanya tak mampu mengangkat plotnya yang terlampau jamak, plus eksekusi yang lemah dan janggal. Hanya begitukah satu komplotan agensi pembunuh yang berlevel internasional?

Baca Juga  Downfall: The Case Against Boeing

Role Play adalah lagi lagi, sebuah komedi kombinasi spionase dan keluarga yang kali ini dikemas manis melalui penampilan dua kasting utamanya, sekalipun tak banyak menawarkan sesuatu yang baru. Setidaknya, untuk Cuoco ini bisa menjadi pembuka jalan bagi karirnya di layar lebar melalui potensi aktingnya. Subgenre ini bakal akan terus diproduksi dan kini menanti seri Mr. & Mrs Smith yang rilis awal bulan depan.

1
2
PENILAIAN KAMI
Overall
60 %
Artikel SebelumnyaSelf Reliance
Artikel BerikutnyaJustice League: Crisis on Infinite Earths – Part One
A lifelong cinephile, he cultivated a deep interest in film from a young age. Following his architectural studies, he embarked on an independent exploration of film theory and history. His passion for cinema manifested in 2006 when he began writing articles and film reviews. This extensive experience subsequently led him to a teaching position at the esteemed Television and Film Academy in Yogyakarta. From 2003 to 2019, he enriched the minds of students by instructing them in Film History, Introduction to Film Art, and Film Theory. His scholarly pursuits extended beyond the classroom. In 2008, he published his seminal work, "Understanding Film," which delves into the core elements of film, both narrative and cinematic. The book's enduring value is evidenced by its second edition, released in 2018, which has become a cornerstone reference for film and communication academics across Indonesia. His contributions extend beyond his own authorship. He actively participated in the compilation of the Montase Film Bulletin Compilation Book Volumes 1-3 and "30 Best Selling Indonesian Films 2012-2018." Further solidifying his expertise, he authored both "Horror Film Book: From Caligari to Hereditary" (2023) and "Indonesian Horror Film: Rising from the Grave" (2023). His passion for film extends to the present day. He continues to provide insightful critiques of contemporary films on montasefilm.com, while actively participating in film production endeavors with the Montase Film Community. His own short films have garnered critical acclaim at numerous festivals, both domestically and internationally. Recognizing his exceptional talent, the 2022 Indonesian Film Festival shortlisted his writing for Best Film Criticism (Top 15). His dedication to the field continues, as he currently serves as a practitioner-lecturer for Film Criticism and Film Theory courses at the Yogyakarta Indonesian Institute of the Arts' Independent Practitioner Program.

BERIKAN TANGGAPANMU

Silahkan berikan tanggapan anda
Silahkan masukan nama anda disini

Situs ini menggunakan Akismet untuk mengurangi spam. Pelajari bagaimana data komentar Anda diproses.