Justice League: Crisis on Infinite Earths – Part One adalah film animasi ketujuh dari semesta sinematik Tomorrowverse yang diproduksi DC Entertaintment dan Warner Bros. Animation. Tomorrowverse adalah reboot dari DC Animated Movie Universe (DCAMU) yang diakhiri Justice League Dark: Apokolips War (2020) dan film pendek Constantine: House of Mistery (2022). Film ini diarahkan oleh Jeff Wamester serta naskah yang ditulis James Krieg. Film animasi ini dirilis platform Amazon Prime dan Apple TV pada  9 Januari lalu dengan dua sekuelnya dijadwalkan rilis sepanjang tahun 2024 ini.

Dalam penutup Apokolips War dikisahkan Constantine menginisiasi Flash untuk me-reset ulang waktu sehingga muncullah semesta sinematik Tomorrowverse. Dalam dunia baru yang serba membingungkan Flash melakukan perjalanan antar multiverse dengan beragam masalahnya. Semua ini berujung pada satu momen ketika sosok bernama Monitor mengumpulkan semua jagoan dari tiap multiverse untuk mencegah kehancuran alam semesta. Aksi Flash mereset ulang waktu rupanya berbuah konsekuensi yang tak terkira.

Bagi yang belum menonton Apokolips War; Constantine: The House of Mistery; Superman: Man of Tomorrow; Justice Society: World War II; Batman: The Long Halloween; Green Lantern: Beware My Power; Legion of Super-Heroes hingga Justice League: Warworld, rasanya tak perlu repot-repot untuk menonton film ini. Percuma saja, karena kamu dijamin tidak bakal tahu apa yang terjadi. Semua film di atas saling terkait dengan spesifik. Jika kita tidak mengingat cerita satu film saja, bakal berefek besar dalam menikmati kisahnya. Bagi yang sudah menonton pun, rasanya butuh waktu untuk beradaptasi. Ini adalah kelemahan terbesar Crisis on Infinite Earths – Part One. Dua sekuelnya pun masih menanti.

Baca Juga  The Girl in the Spider’s Web

Kisahnya yang unik selalu berpindah dari satu semesta ke semesta lainnya, dengan sosok Flash masing-masing memiliki peran yang spesifik. Flash menjadi sosok Barry Allen (Flash) dalam tiap universe-nya. Ia tidak mampu mengingat memori Apokolips, namun ia mengingat peran dalam tiap universe tersebut. Kisahnya berbeda, namun poin kisahnya memiliki satu benang merah besar yang menuju problem utamanya yakni kehancuran alam semesta. Sosok Contantine di sini (pasca kisah House of Mistery) rasanya memiliki peran besar kelak, walau muncul hanya sekilas. Bisa jadi, Constantine adalah satu-satunya orang di alam semesta yang mengingat peristiwa Apokolips.

Justice League: Crisis on Infinite Earths – Part One terjebak dalam kerumitan semesta sinematiknya walau penuturan kisahnya terhitung inovatif. Lagi, konsep multiverse dieksplorasi melalui cara yang teramat gila melalui kisah-kisah yang dituturkan film sebelumnya. Ini pun belum semuanya terlihat yang rasanya bakal disisakan untuk bagian kedua dan ketiga. Sangat menarik, melihat bagaimana para pembuat filmnya mampu merangkai kisahnya dengan rumit dan detil seperti ini. Bahkan jauh lebih kompleks dari Marvel Cinematic Universe (MCU). Bagi para fans berat komik atau semesta sinematiknya, ini tentu menjadi sesuatu yang bakal sangat menggairahkan mereka tapi bukan untuk penonton awam.

1
2
PENILAIAN KAMI
Overall
75 %
Artikel SebelumnyaRole Play
Artikel BerikutnyaBu Tejo Sowan Jakarta
A lifelong cinephile, he cultivated a deep interest in film from a young age. Following his architectural studies, he embarked on an independent exploration of film theory and history. His passion for cinema manifested in 2006 when he began writing articles and film reviews. This extensive experience subsequently led him to a teaching position at the esteemed Television and Film Academy in Yogyakarta. From 2003 to 2019, he enriched the minds of students by instructing them in Film History, Introduction to Film Art, and Film Theory. His scholarly pursuits extended beyond the classroom. In 2008, he published his seminal work, "Understanding Film," which delves into the core elements of film, both narrative and cinematic. The book's enduring value is evidenced by its second edition, released in 2018, which has become a cornerstone reference for film and communication academics across Indonesia. His contributions extend beyond his own authorship. He actively participated in the compilation of the Montase Film Bulletin Compilation Book Volumes 1-3 and "30 Best Selling Indonesian Films 2012-2018." Further solidifying his expertise, he authored both "Horror Film Book: From Caligari to Hereditary" (2023) and "Indonesian Horror Film: Rising from the Grave" (2023). His passion for film extends to the present day. He continues to provide insightful critiques of contemporary films on montasefilm.com, while actively participating in film production endeavors with the Montase Film Community. His own short films have garnered critical acclaim at numerous festivals, both domestically and internationally. Recognizing his exceptional talent, the 2022 Indonesian Film Festival shortlisted his writing for Best Film Criticism (Top 15). His dedication to the field continues, as he currently serves as a practitioner-lecturer for Film Criticism and Film Theory courses at the Yogyakarta Indonesian Institute of the Arts' Independent Practitioner Program.

BERIKAN TANGGAPANMU

Silahkan berikan tanggapan anda
Silahkan masukan nama anda disini

Situs ini menggunakan Akismet untuk mengurangi spam. Pelajari bagaimana data komentar Anda diproses.