Tanah Air Beta (2010)
95 min|Drama|17 Jun 2010
7.9Rating: 7.9 / 10 from 41 usersMetascore: N/A
N/A

Tatiana (Alexandra Gottardo) bersama kedua anaknya harus hijrah dari tempat asal mereka, Timor timur menuju Kupang, pasca jajak pendapat di Timor Timur. Dalam situasi serba kacau, Merry (Griffit Patricia) berpisah dengan kakaknya, Mauro (Marcel Raymond). Tatiana dan Merry lalu tinggal di sebuah kamp penampungan dimana sang ibu bekerja sebagai guru di sekolah sementara di kamp tersebut. Suka duka mereka rasakan bersama dengan para pengungsi lainya, seperti Abu Bakar (Asrul Dahlan) serta Carlo (Yahuda Rumbindi ) yang selalu jahil terhadap Merry. Hingga pada suatu ketika Merry mendengar kabar bahwa kakaknya saat ini tengah berada di perbatasan. Merry lalu nekat menuju perbatasan untuk mencari kakaknya. Cerita berlanjut pada kisah perjalanan Merry dan Carlo untuk menemukan Mauro.

Sekuen pembuka film yang memperlihatkan iring-iringan ratusan pengungsi sungguh memberi kesan pertama yang sangat mengagumkan dan membanggakan untuk sekelas film kita. Namun setelah cerita berjalan semuanya kekaguman tersebut hilang. Cerita berjalan terlalu datar tanpa konflik yang berarti. Tatiana dan putrinya tidak mendapat tantangan dan konflik moril maupun fisik yang berarti di kamp penampungan sehingga memberi kesan meninggalkan kampung halaman bukan masalah bagi mereka. Logika cerita menjadi masalah utama film ini. Coba anda bayangkan, anak putri berumur 10 tahun berjalan sendirian ke perbatasan, sementara ibu dan rekannya berdiam diri di rumah, dan gilanya lagi mengutus bocah cilik seumuran untuk menjemput Merry, tanpa uang sepeserpun di wilayah yang terhitung masih baru bagi mereka. Ini sungguh terlalu memaksa. Motif yang diinginkan jelas tampak sekali untuk membangun chemistry antara Merry dan Carlo namun untuk apa jika semuanya tak masuk akal. Akhir cerita pun disajikan mengada-ada ketika Tatiana dan Abu bakar mendadak muncul di perbatasan sementara kita sama sekali tidak pernah diperlihatkan usaha Tatiana dan Abu bakar menuju perbatasan. Kejutan yang tak masuk akal.

Baca Juga  Kembalinya Anak Iblis

Secara teknis juga tidak ada yang istimewa dalam filmnya. Keindahan panorama alam Timor rasanya masih kurang diperlihatkan secara maksimal. Bahkan kesalahan mendasar produksi pun masih terlihat, seperti mic yang ”bocor” ketika adegan dialog Tatiana dan Abu Bakar di rumah sakit. Nilai plus filmnya hanya pada lagu dan musik lokal yang mengalun sepanjang film yang menambah nuansa timor film ini. Satu lagi adalah akting si anak Timor, Yahuda Rumbindi yang enerjik dan natural dalam memerankan Carlo.

Judul Tanah Air Beta seakan tidak selaras dengan cerita filmnya. Judul yang seakan mengesankan kecintaan kita terhadap Bumi Lorosae tidak tampak dalam filmnya. Sineas juga mencoba membangkitkan rasa nasionalisme melalui tembang-tembang bernuansa patriotik namun rasanya sia-sia belaka. Misi dan tujuan film ini memang mulia namun dalam medium film baik sisi naratif maupun estetik sama-sama harus memadai dan saling mendukung. Satu hal yang tidak tampak dalam film ini.

WATCH TRAILER

Artikel SebelumnyaIstri Bo’ongan, Hanya Menjual Sensualitas
Artikel BerikutnyaThe Brave One, Bicara Tentang Keadilan dan Kebenaran
Febrian Andhika lahir di Nganjuk, 18 Februari 1987. Ia mulai serius mendalam film sejak kuliah di Akademi Film di Yogyakarta. Sejak tahun 2008, ia bergabung bersama Komunitas Film Montase, dan aktif menulis ulasan film untuk Buletin Montase hingga kini montasefilm.com. Ia terlibat dalam semua produksi awal film-film pendek Montase Productions, seperti Grabag, Labirin, 05:55, Superboy, hingga Journey to the Darkness. Superboy (2014) adalah film debut sutradaranya bersama Montase Productions yang meraih naskah dan tata suara terbaik di Ajang Festival Film Indie Yogyakarta 2014, dan menjadi runner up di ajang Festival Video Edukasi 2014. Sejak tahun 2013 bekerja di stasiun TV swasta MNC TV, dan tahun 2015 menjadi editor di stasiun TV Swasta, Metro TV. Di sela kesibukan pekerjaannya, ia menyempatkan untuk menggarap, The Letter (2016), yang merupakan film keduanya bersama Montase Productions. Film ini menjadi finalis dalam ajang Festival Sinema Australia Indonesia 2018.

BERIKAN TANGGAPANMU

Silahkan berikan tanggapan anda
Silahkan masukan nama anda disini

Situs ini menggunakan Akismet untuk mengurangi spam. Pelajari bagaimana data komentar Anda diproses.