The Brave One (2007)
122 min|Action, Crime, Drama|14 Sep 2007
6.7Rating: 6.7 / 10 from 63,277 usersMetascore: 56
Struggling to recover emotionally from a brutal assault that killed her fiancé and left her in a coma, a radio personality begins a quest for vengeance against the perpetrators that leaves a bloody trail across New York City.

Erica Bain (Foster) adalah seorang penyiar radio di kota New York yang hidup bahagia bersama David, tunangannya. Suatu malam ketika mereka berdua tengah bersantai di Central Park, mereka dihadang tiga orang preman yang berniat merampok mereka. David melawan dan mereka berdua dianiaya. David tewas namun Erica selamat. Setelah fisiknya pulih namun tidak demikian mentalnya, ia mengalami trauma serta rasa takut yang berlebihan. Demi rasa nyaman, Erica bahkan membeli senjata api secara ilegal. Suatu ketika Erica terpaksa menembak seorang perampok toko untuk membela dirinya. Di luar dugaan setelah aksinya ini Erica justru menemukan kepuasan batin yang mampu menutup trauma dan rasa takutnya. Erica kini berubah menjadi sosok “penyapu jalanan” yang bekerja di luar hukum. Detektif Mercer (Howard) yang juga fans Erica adalah polisi yang menyelidiki kasus ini.

Bicara plot “balas dendam” mengingatkan beberapa film aksi kriminal populer, seperti seri Dirty Harry hingga Death Wish. Bedanya kali ini sosok tokoh “penegak hukum” adalah seorang wanita. Berbeda pula dengan plot film-film sejenis, The Brave One sama sekali tidak menekankan pada unsur aksi namun justru unsur dramatik. Hal yang menarik justru sisi dramatik lebih fokus pada tekanan psikologis yang dihadapi dua tokoh utamanya. Sineas mampu membangun sisi dramatik plotnya secara sabar namun semakin dalam. Mercer adalah sosok polisi ideal yang frustasi dengan para kriminal yang selalu lolos dari jerat hukum. Sebaliknya Erica adalah sosok warga normal yang berubah menjadi sosok “penjagal” para kriminal setelah menjadi korban kejahatan. Erica muncul seolah sebagai sosok “ideal” menggantikan Mercer. Mereka adalah sosok yang bertolak belakang namun saling membutuhkan. Cerita juga ditutup dengan ending mengejutkan yang menutup manis filmnya.

Baca Juga  The Silence of the Lamb, Kemenangan Hopkins, Foster, dan Demme

Plot yang menekankan sisi psikologis mendalam seperti ini jelas membutuhkan kekuatan akting yang prima. Foster dan Howard masing-masing mampu membawakan perannya dengan sangat baik. Terutama Foster mampu bermain istimewa sebagai Erica Bain yang traumatik, gelisah, dan selalu diliputi ketakutan namun disaat bersamaan juga mampu menjadi sosok pemberani yang penuh dendam dan kebencian. Kita semua tahu apa yang dilakukan Erica adalah salah namun Foster mampu membalikkan semuanya sehingga karakter ini justru mendapat simpati penuh dari penonton. Sementara Terence Howard seperti biasa selalu bermain prima dalam setiap filmnya sekalipun perannya kini tidak sedominan Foster. Baik Howard dan Foster mampu membangun “chemistry” unik antara penggemar dan fans juga antara sosok penegak hukum dan sosok “kriminal”. Sangat disayangkan peran sulit seperti ini mestinya sangat layak meraih nominasi Oscar.

The Brave One mencoba memaknai kebenaran yang kadang tipis batasnya antara kesalahan. Secara hukum dan moral apa yang dilakukan Erica adalah salah namun bukan salah dan benar yang menjadi isu disini. Namun adalah mengapa ia melakukan itu semua. Sineas mampu menggambarkannya dengan sangat rinci dan cermat. Kesalahan bisa kita timpakan ke Erica (manusiawi) ataukah sistem hukum yang tidak bekerja secara optimal. Keadilan kadang tidak selalu sama dengan kebenaran.

WATCH TRAILER

https://www.youtube.com/watch?v=6yh8l6ztvAE

Artikel SebelumnyaTanah Air Beta, Menggugah Rasa Nasionalisme?
Artikel BerikutnyaThe Silence of the Lamb, Kemenangan Hopkins, Foster, dan Demme
His hobby has been watching films since childhood, and he studied film theory and history autodidactically after graduating from architectural studies. He started writing articles and reviewing films in 2006. Due to his experience, the author was drawn to become a teaching staff at the private Television and Film Academy in Yogyakarta, where he taught Film History, Introduction to Film Art, and Film Theory from 2003 to 2019. His debut film book, "Understanding Film," was published in 2008, which divides film art into narrative and cinematic elements. The second edition of the book, "Understanding Film," was published in 2018. This book has become a favorite reference for film and communication academics throughout Indonesia. He was also involved in writing the Montase Film Bulletin Compilation Book Vol. 1-3 and "30 Best Selling Indonesian Films 2012-2018." Additionally, he authored the "Horror Film Book: From Caligari to Hereditary" (2023) and "Indonesian Horror Film: Rising from the Grave" (2023). Until now, he continues to write reviews of the latest films at montasefilm.com and is actively involved in all film productions at the Montase Film Community. His short films have received high appreciation at many festivals, both local and international. Recently, his writing was included in the shortlist (top 15) of Best Film Criticism at the 2022 Indonesian Film Festival. From 2022 until now, he has also been a practitioner-lecturer for the Film Criticism and Film Theory courses at the Yogyakarta Indonesian Institute of the Arts in the Independent Practitioner Program.

1 TANGGAPAN

  1. Setuju sama kata-kata akhirnya. Keadilan tidak selalu sama dengan kebenaran, and thats waht Erica knows. Karakter Erica di sini memang berani tapi fragile, tapi menurut saya Foster yg cukup sering berperan sebagai “wanita pemberani” masih hampir sama performanya dalam film-film terdahulu yg menemptkannya sebagai wanita pemberani, seperti di Panic Room atau Flightplan.

BERIKAN TANGGAPANMU

Silahkan berikan tanggapan anda
Silahkan masukan nama anda disini

Situs ini menggunakan Akismet untuk mengurangi spam. Pelajari bagaimana data komentar Anda diproses.