The Accused (1988)
111 min|Crime, Drama|14 Oct 1988
7.1Rating: 7.1 / 10 from 39,403 usersMetascore: 65
After a young woman suffers a brutal gang rape in a bar one night, a prosecutor assists in bringing the perpetrators to justice, including the ones who encouraged and cheered on the attack.

Film dibuka dengan gambar muka sebuah Bar di pinggir kota. Seorang gadis muda mendadak berlari keluar dari pintu Bar sembari mejerit dan menangis dengan kondisi pakaian awut-awutan. Gadis muda itu adalah Sarah Tobias (Foster) yang baru saja mengalami perkosaan massal di bar tersebut. Setelah kejadian naas tersebut, jaksa penuntut, Kathryn Murphy (Mc Gillis) dengan usaha keras berhasil memasukkan para pemerkosa Sarah ke dalam bui. Sarah menganggap hukuman mereka terlalu ringan dan bahkan ia juga mencoba menuntut semua orang yang menonton dan mendukung aksi pemerkosaan tersebut agar mendapat ganjaran setimpal.

Konon cerita filmnya ini diambil dari kejadian nyata yang menimpa Cheryl Araujo di sebuah bar di Massachusetts. Secara umum filmnya dibagi menjadi dua segmen besar, yakni proses peradilan untuk para pemerkosa Sarah serta proses peradilan untuk para penonton yang mendukung aksi tersebut. Sisi cerita dramatik menjadi nilai lebih filmnya dengan pendekatan estetik sederhana bahkan boleh dibilang biasa. Sejak awal hingga akhir penonton mampu dibawa masuk ke dalam cerita serta bersimpati penuh dengan Sarah. Satu hal yang menarik dalam plotnya yang amat mendukung sisi dramatik filmnya adalah aksi peristiwa perkosaannya sendiri justru ditampilkan di akhir film sehingga penonton dari waktu ke waktu dibuat penasaran serta ragu dengan pernyataan-pernyataan Sarah.

Baca Juga  Istri Bo'ongan, Hanya Menjual Sensualitas

Sisi dramatik yang menjadi kekuatan filmnya tentu tidak lepas dari pencapaian akting yang sangat mengesankan dari Foster. Setelah peristiwa perkosaan Foster mampu bermain brilian sebagai Sarah yang begitu emosional sekaligus tertekan di saat yang bersamaan nyaris sepanjang film. Sementara sebelum peristiwa perkosaan terjadi, Foster seolah memiliki kepribadian yang berbeda dengan mampu bermain mengejutkan sebagai Sarah yang nakal dan binal yang aksinya memancing tindak perkosaan. Tak heran akting hebat dari aktris muda ini diganjar penghargaan piala Oscar serta Golden Globe untuk aktris terbaik. Sementara para pemain lainnya termasuk McGillis bermain baik sekalipun tidak seistimewa penampilan Foster.

The Accused konon merupakan film pertama Hollywood yang mengangkat tema tentang perkosaan yang aksinya disajikan secara nyata. Visualisasi aksi perkosaan tersebut merupakan kunci utama keberhasilan film ini yang bakal mampu menggetarkan siapapun yang menonton. Tanpa memperlihatkan aksi yang vulgar (eksplisit) namun sineas sudah lebih dari cukup menggambarkan betapa biadab aksi tersebut. Film ini jelas memihak pada kaum hawa namun lebih dari itu film ini memberi pelajaran berharga pada kita bahwa siapapun tidak berhak merendahkan seseorang sekecil apapun bentuknya.

WATCH TRAILER

Artikel SebelumnyaThe Silence of the Lamb, Kemenangan Hopkins, Foster, dan Demme
Artikel BerikutnyaJodie Foster
A lifelong cinephile, he cultivated a deep interest in film from a young age. Following his architectural studies, he embarked on an independent exploration of film theory and history. His passion for cinema manifested in 2006 when he began writing articles and film reviews. This extensive experience subsequently led him to a teaching position at the esteemed Television and Film Academy in Yogyakarta. From 2003 to 2019, he enriched the minds of students by instructing them in Film History, Introduction to Film Art, and Film Theory. His scholarly pursuits extended beyond the classroom. In 2008, he published his seminal work, "Understanding Film," which delves into the core elements of film, both narrative and cinematic. The book's enduring value is evidenced by its second edition, released in 2018, which has become a cornerstone reference for film and communication academics across Indonesia. His contributions extend beyond his own authorship. He actively participated in the compilation of the Montase Film Bulletin Compilation Book Volumes 1-3 and "30 Best Selling Indonesian Films 2012-2018." Further solidifying his expertise, he authored both "Horror Film Book: From Caligari to Hereditary" (2023) and "Indonesian Horror Film: Rising from the Grave" (2023). His passion for film extends to the present day. He continues to provide insightful critiques of contemporary films on montasefilm.com, while actively participating in film production endeavors with the Montase Film Community. His own short films have garnered critical acclaim at numerous festivals, both domestically and internationally. Recognizing his exceptional talent, the 2022 Indonesian Film Festival shortlisted his writing for Best Film Criticism (Top 15). His dedication to the field continues, as he currently serves as a practitioner-lecturer for Film Criticism and Film Theory courses at the Yogyakarta Indonesian Institute of the Arts' Independent Practitioner Program.

BERIKAN TANGGAPANMU

Silahkan berikan tanggapan anda
Silahkan masukan nama anda disini

Situs ini menggunakan Akismet untuk mengurangi spam. Pelajari bagaimana data komentar Anda diproses.