The Dark Tower (2017)

95 min|Action, Adventure, Fantasy|04 Aug 2017
5.6Rating: 5.6 / 10 from 146,632 usersMetascore: 34
A boy haunted by visions of a dark tower from a parallel reality teams up with the tower's disillusioned guardian to stop an evil warlock known as the Man in Black who plans to use the boy to destroy the tower and open the gates o…

The Dark Tower adalah film fantasi-western yang diadaptasi dari seri novel laris berjudul sama karya penulis kenamaan Stephen King. Film ini disutradarai oleh Nicolaj Arcel dengan dibintangi oleh Idris Elba, Matthew McConaughey, Tom Taylor, serta Claudia Kim. Proyek berbujet US$ 60 juta ini memang sangat jauh dari ekspektasi mengingat novelnya sendiri berjumlah sembilan novel (1982-2004) dan dianggap sebagai karya masterpiece King. Filmnya sendiri konon adalah kombinasi dari beberapa novelnya, sekaligus kelanjutan dari seri novelnya.

Kisah filmnya memang agak rumit, namun saya mencoba menyederhanakan alur cerita filmnya. Di dunia yang kita tinggali saat ini, terdapat dunia paralel lain yang saling memengaruhi satu sama lain. The Dark Tower (Bangunan sangat tinggi entah isinya apa dan ada di dunia mana) menjadi penyeimbang semua dunia ini, sekaligus melindungi dari kekuatan gelap yang masuk, diantaranya adalah Walter Paddick, “The Man in Black”. Roland Deschain si jago tembak “the gunslinger” ditakdirkan untuk menjadi pelindung The Dark tower, namun dendam terhadap Walter membutakan hatinya. Walter membutuhkan kekuatan supernatural dari anak-anak berbakat yang ia culik dari berbagai dunia untuk bisa meruntuhkan The Dark Tower. Suatu ketika, Jake Chambers, seorang bocah asal New York (Bumi) mengalami kejadian aneh dan diincar oleh anak buah Walter, dan melalui sebuah petunjuk ia menemukan sebuah portal yang membawanya ke dunia paralel lain, dimana Roland berada.

Baca Juga  Spotlight

Kisahnya, jika Anda menonton filmnya tidak semudah apa yang tertulis di atas. Saya sama sekali (atau entah sudah lupa) belum membaca novelnya dan merasa kehilangan banyak sekali informasi cerita yang ada dalam kisah filmnya. Kita bahkan tidak tahu ruang dan waktu cerita, secara detil mengenai bagaimana, apa, siapa, mengapa, dan sebagainya. Untuk “merangkum” beberapa novel sekaligus menjadi satu kisah yang kontinu rasanya adalah hal yang amat mustahil. Satu contoh kecil saja hal yang tak masuk akal, mengapa Walter yang punya kekuatan bak dewa masih mau meruntuhkan The Dark Tower jika ia bisa membuat manusia menuruti apa yang ia mau? Ada sesuatu yang hilang disini dan banyak sekali hal yang masih absurd, khususnya bagi penonton yang belum membaca novelnya. Terlalu banyak pertanyaan yang tidak bisa terjawab dan ini jelas amat mengganggu sekali. Padahal konsep dan ide ceritanya amat menarik sekali.

Di luar premisnya yang menarik, The Dark Tower adalah sebuah adaptasi novel yang tanggung dan memaksa dengan informasi cerita yang lemah. Sepertinya akan lebih jelas dan runtut jika kisahnya dibuat satu film per novel seperti halnya Harry Potter, namun bujetnya pasti tidak memadai untuk proyek ambisius sebesar ini. Kombinasi genre fantasi, fiksi ilmiah, western, hingga aksi adalah satu hal yang membuat film ini sebenarnya punya potensi lebih. Walau pencapaian CGI-nya tergolong medioker, film ini memiliki adegan aksi tembak-menembak yang menawan di klimaks dengan penampilan aktor Idris Elba yang punya karisma sebagai Roland. Entahlah, apakah fans novelnya bisa menikmati film ini lebih baik?
WATCH TRAILER

PENILAIAN KAMI
Overall
50 %
Artikel SebelumnyaWolf Warriors 2 Meledak Hebat!
Artikel Berikutnya7 Pasangan Aktor-aktris Masa Kini yang Sering Beradu Akting
A lifelong cinephile, he cultivated a deep interest in film from a young age. Following his architectural studies, he embarked on an independent exploration of film theory and history. His passion for cinema manifested in 2006 when he began writing articles and film reviews. This extensive experience subsequently led him to a teaching position at the esteemed Television and Film Academy in Yogyakarta. From 2003 to 2019, he enriched the minds of students by instructing them in Film History, Introduction to Film Art, and Film Theory. His scholarly pursuits extended beyond the classroom. In 2008, he published his seminal work, "Understanding Film," which delves into the core elements of film, both narrative and cinematic. The book's enduring value is evidenced by its second edition, released in 2018, which has become a cornerstone reference for film and communication academics across Indonesia. His contributions extend beyond his own authorship. He actively participated in the compilation of the Montase Film Bulletin Compilation Book Volumes 1-3 and "30 Best Selling Indonesian Films 2012-2018." Further solidifying his expertise, he authored both "Horror Film Book: From Caligari to Hereditary" (2023) and "Indonesian Horror Film: Rising from the Grave" (2023). His passion for film extends to the present day. He continues to provide insightful critiques of contemporary films on montasefilm.com, while actively participating in film production endeavors with the Montase Film Community. His own short films have garnered critical acclaim at numerous festivals, both domestically and internationally. Recognizing his exceptional talent, the 2022 Indonesian Film Festival shortlisted his writing for Best Film Criticism (Top 15). His dedication to the field continues, as he currently serves as a practitioner-lecturer for Film Criticism and Film Theory courses at the Yogyakarta Indonesian Institute of the Arts' Independent Practitioner Program.

BERIKAN TANGGAPANMU

Silahkan berikan tanggapan anda
Silahkan masukan nama anda disini

Situs ini menggunakan Akismet untuk mengurangi spam. Pelajari bagaimana data komentar Anda diproses.