The Great Wall (2016)

103 min|Action, Adventure, Fantasy|17 Feb 2017
5.9Rating: 5.9 / 10 from 148,524 usersMetascore: 42
In ancient China, a group of European mercenaries encounters a secret army that maintains and defends the Great Wall of China against a horde of monstrous creatures.

The Great Wall adalah film produksi patungan Amerika dan Cina dengan tidak tanggung-tanggung menggunakan bintang top sekelas Matt Damon dan sineas kawakan Zhang Yimou. Damon dan Yimou adalah alasan awal mengapa saya menonton film ini. Yimou telah memproduksi film-film berkualitas tinggi yang sepertinya terlalu banyak untuk disebutkan disini. Sementara Damon, semua orang sudah tahu, dan baru lalu ia bermain dalam The Martian yang sukses kritik dan komersil. Hasil kolaborasi mereka sungguh sangat diluar dugaan.

Alkisah ribuan tahun silam di wilayah kekaisaran Cina, sekawanan pengembara asal Eropa terjebak dalam kejaran para bandit. Malamnya mereka diserang monster misterius hingga hanya menyisakan 2 orang dari mereka, yakni William dan Tovar. Lari dari kejaran para bandit dan terpojok di tembok raksasa membuat mereka menjadi tawanan pasukan kekaisaran. Tak diduga William dan Tovar terjebak dalam pertarungan berusia ratusan tahun antara manusia dengan Taotie, monster ganas pemakan manusia.

Dari plot bahkan trailer-nya saja sudah membuat ekspektasi terhadap film ini begitu rendah. Kombinasi antara unsur sejarah dan fantasi sudah bukan hal baru namun apa yang dilakukan The Great Wall sangat jauh dari harapan. Tak ada latar cerita, penokohan, serta pengadeganan yang kuat. Semua terasa hanya sebagai tempelan tidak terkecuali sang komandan yang cantik jelita. Adegan demi adegan berlalu tanpa ada kesan sama sekali. Tempo cerita yang demikian cepat dan melihat pertarungan demi pertarungan sungguh amat melelahkan terlebih ditambah pencapaian visual (CGI) yang sangat buruk. Tidak ada yang peduli dengan segala yang terjadi dan semuanya hanya membuang waktu.

Baca Juga  Terminator Salvation

Dengan segala hormat pada Zhang Yimou dan Matt Damon, The Great Wall adalah pencapaian terendah karir mereka baik dari aspek tema, cerita, maupun visual. Bisa jadi kita berpikir sama mengapa sineas dan pemain top macam mereka mau menggarap dan bermain dalam film ini. Jawabnya jelas semua orang sudah tahu. Konon film ini sukses besar di Cina dan bisa jadi kita bakal sering melihat bintang top Hollywood melakukan langkah yang sama. Jika mau membuat film hiburan macam Transformers, jangan setengah-setengah, cerita seperti apapun tidak akan mampu mengangkat filmnya, setidaknya beri saja penonton kenikmatan visual semaksimal mungkin. Not like this.

WATCH TRAILER

PENILAIAN KAMI
Artikel SebelumnyaThe Girl on The Train
Artikel BerikutnyaArrival
A lifelong cinephile, he cultivated a deep interest in film from a young age. Following his architectural studies, he embarked on an independent exploration of film theory and history. His passion for cinema manifested in 2006 when he began writing articles and film reviews. This extensive experience subsequently led him to a teaching position at the esteemed Television and Film Academy in Yogyakarta. From 2003 to 2019, he enriched the minds of students by instructing them in Film History, Introduction to Film Art, and Film Theory. His scholarly pursuits extended beyond the classroom. In 2008, he published his seminal work, "Understanding Film," which delves into the core elements of film, both narrative and cinematic. The book's enduring value is evidenced by its second edition, released in 2018, which has become a cornerstone reference for film and communication academics across Indonesia. His contributions extend beyond his own authorship. He actively participated in the compilation of the Montase Film Bulletin Compilation Book Volumes 1-3 and "30 Best Selling Indonesian Films 2012-2018." Further solidifying his expertise, he authored both "Horror Film Book: From Caligari to Hereditary" (2023) and "Indonesian Horror Film: Rising from the Grave" (2023). His passion for film extends to the present day. He continues to provide insightful critiques of contemporary films on montasefilm.com, while actively participating in film production endeavors with the Montase Film Community. His own short films have garnered critical acclaim at numerous festivals, both domestically and internationally. Recognizing his exceptional talent, the 2022 Indonesian Film Festival shortlisted his writing for Best Film Criticism (Top 15). His dedication to the field continues, as he currently serves as a practitioner-lecturer for Film Criticism and Film Theory courses at the Yogyakarta Indonesian Institute of the Arts' Independent Practitioner Program.

BERIKAN TANGGAPANMU

Silahkan berikan tanggapan anda
Silahkan masukan nama anda disini

Situs ini menggunakan Akismet untuk mengurangi spam. Pelajari bagaimana data komentar Anda diproses.