The Girl on the Train (2016)

112 min|Crime, Drama, Mystery|07 Oct 2016
6.5Rating: 6.5 / 10 from 206,094 usersMetascore: 48
A divorcee becomes entangled in a missing persons investigation that promises to send shockwaves throughout her life.

The Girl on the Train diambil dari novel thriller bertitel sama karya Paula Hawkins yang merupakan debut novelnya. Film ini disutradarai oleh Tate Taylor yang sukses besar dengan The Help (2011) yang meraih empat nominasi Oscar di ajang Academy Awards beberapa tahun lalu. Kali ini dengan masih mengangkat tema perempuan, Taylor mengkasting beberapa pemain top, antara lain Emily Blunt, Rebecca Ferguson, Justin Theroux, Luke Evans, Haley Bennet, hingga Edgar Ramirez.

Rachel kesehariannya diisi dengan naik kereta komuter pulang-pergi dari New York ke tempat tinggalnya. Setiap kali melewati sebuah rumah ia mengamati satu sosok perempuan bernama Megan yang menjadi sosok fantasi idealnya jauh dari kehidupan pribadinya yang kelam dan akrab dengan alkohol. Dalam perkembangan ternyata Rachel pernah tinggal di rumah sebelah persis tempat tinggal Megan setelah ia bercerai dengan suaminya yang kini hidup bersama wanita lain bernama Anna. Suatu ketika dari balik jendela KA, Rachel melihat Megan bersama pria lain dan pada hari yang sama perempuan tersebut dinyatakan hilang.     

Satu hal yang menarik di film ini adalah kemasan ceritanya. Filmnya dituturkan tak lazim bagi genrenya melalui tiga sudut pandang perempuan, Rachel, Anna, dan Megan sekalipun Rachel lebih dominan. Film juga disisipi adegan kilas-balik yang semakin menambah kesan kompleks kisahnya. Misteri demi misteri terus mengusik penonton, apa yang sebenarnya terjadi dan apa hubungan ketiga perempuan tersebut. Berjalannya waktu, misteri demi misteri semakin terkuak dan alur plotnya menjadi terlalu jamak untuk genrenya dan bagi penikmat thriller sejati rasanya tidak sulit untuk mengantisipasi kisahnya. Intinya: tidak ada kejutan berarti.

Baca Juga  Jungle Cruise

Satu kekuatan besar film ini adalah akting para pemainnya khususnya, Emily Blunt. Blunt bermain sangat baik sebagai Rachel yang mendapat tekanan psikologis hebat akibat perceraian dengan suaminya. Nyaris sepanjang film Blunt bermain dalam kondisi setengah mabuk, gelisah, penuh keraguan, insecure, serta mampu membawa kita mengaburkan antara realita dan imajinasinya. Seringkali dalam banyak shot-nya teknik “blur” digunakan dengan amat baik untuk mempertegas status fisik dan mental Rachel. Para pemain lainnya, yakni Ferguson, Bennet, Evans, Theroux, hingga Ramirez sebagai sang terapis, semuanya bermain tanpa cacat.

The Girl on The Train menawarkan sebuah thriller psikologis yang dikemas menarik dengan dukungan akting berkelas dari para pemainnya namun pada akhirnya gagal menjadi thriller berkelas. Para kastingnya telah bermain sempurna dengan mampu memberikan batas tipis antara benar dan salah serta selalu mengusik penafsiran kita namun sayangnya trik-trik misteri yang digunakan sudah terlalu umum untuk genrenya. Untuk sesaat pada segmen pembuka yang secara teknis disajikan begitu manis dan menawan mengingatkan banyak pada film-film thriller berkualitas tinggi garapan Alfred Hicthcock. Ekspektasi yang tinggi ternyata berujung dengan sebuah pencapaian yang sangat biasa.

WATCH TRAILER

PENILAIAN KAMI
Overall
70 %
Artikel SebelumnyaCek Toko Sebelah
Artikel BerikutnyaThe Great Wall
A lifelong cinephile, he cultivated a deep interest in film from a young age. Following his architectural studies, he embarked on an independent exploration of film theory and history. His passion for cinema manifested in 2006 when he began writing articles and film reviews. This extensive experience subsequently led him to a teaching position at the esteemed Television and Film Academy in Yogyakarta. From 2003 to 2019, he enriched the minds of students by instructing them in Film History, Introduction to Film Art, and Film Theory. His scholarly pursuits extended beyond the classroom. In 2008, he published his seminal work, "Understanding Film," which delves into the core elements of film, both narrative and cinematic. The book's enduring value is evidenced by its second edition, released in 2018, which has become a cornerstone reference for film and communication academics across Indonesia. His contributions extend beyond his own authorship. He actively participated in the compilation of the Montase Film Bulletin Compilation Book Volumes 1-3 and "30 Best Selling Indonesian Films 2012-2018." Further solidifying his expertise, he authored both "Horror Film Book: From Caligari to Hereditary" (2023) and "Indonesian Horror Film: Rising from the Grave" (2023). A lifelong cinephile, he developed a profound passion for film from an early age. After completing his studies in architecture, he embarked on an independent journey exploring film theory and history. His enthusiasm for cinema took tangible form in 2006 when he began writing articles and film reviews. This extensive experience eventually led him to a teaching position at the esteemed Television and Film Academy in Yogyakarta. From 2003 to 2019, he enriched students’ understanding through courses such as Film History, Introduction to Film Art, and Film Theory. His scholarly pursuits extended well beyond the classroom. In 2008, he published his seminal work, Understanding Film, an in-depth examination of the essential elements of cinema, both narrative and visual. The book’s enduring significance is reflected in its second edition, released in 2018, which has since become a cornerstone reference for film and communication scholars across Indonesia. His contributions to the field also encompass collaborative and editorial efforts. He participated in the compilation of Montase Film Bulletin Compilation Book Volumes 1–3 and 30 Best-Selling Indonesian Films 2012–2018. Further establishing his authority, he authored Horror Film Book: From Caligari to Hereditary (2023) and Indonesian Horror Film: Rising from the Grave (2023). His passion for cinema remains as vibrant as ever. He continues to offer insightful critiques of contemporary films on montasefilm.com while actively engaging in film production with the Montase Film Community. His short films have received critical acclaim at numerous festivals, both nationally and internationally. In recognition of his outstanding contribution to film criticism, his writing was shortlisted for years in a row for Best Film Criticism at the 2021-2024 Indonesian Film Festival. His dedication to the discipline endures, as he currently serves as a practitioner-lecturer in Film Criticism and Film Theory at the Indonesian Institute of the Arts Yogyakarta, under the Independent Practitioner Program from 2022-2024.

1 TANGGAPAN

  1. Terlepas dari kemasanya yang menarik, yang dengan baik mampu mengusik rasa penasaran kita di hampir 3/4 film nya, pada akhirnya kita harus kecewa karena script nya sendirilah yang akhirnya mengungkap semua misteri yang disembunyikan. Dan setelahnya tidak ada lagi yg terasa menarik. Termasuk usaha untuk membuat kita bersimpati pada tokoh utama di akhir film.

BERIKAN TANGGAPANMU

Silahkan berikan tanggapan anda
Silahkan masukan nama anda disini

Situs ini menggunakan Akismet untuk mengurangi spam. Pelajari bagaimana data komentar Anda diproses