Eat Pray Love (2010)
133 min|Biography, Drama, Romance|13 Aug 2010
5.8Rating: 5.8 / 10 from 105,482 usersMetascore: 50
A married woman realizes how unhappy her marriage really is, and that her life needs to go in a different direction. After a painful divorce, she takes off on a round-the-world journey to "find herself".

Film ini merupakan adaptasi dari novel berjudul sama karya Elizabeth Gilbert yang konon terinspirasi dari kisah perjalanan hidupnya sendiri. Alkisah Gilbert (Roberts) adalah seorang wanita karir yang gagal dalam perkawinannya dengan Steven (Crudup). Ia merasa ada sesuatu yang hilang dalam hidupnya. Gilbert lalu menjalin hubungan dengan seorang pemain teater, David, namun hubungan mereka pun tak lama. Gilbert akhirnya memutuskan untuk melakukan perjalanan ke Italia, India, dan Indonesia untuk mencari jati dirinya yang hilang.

Plot seperti ini jelas sudah banyak kita lihat dalam film-film drama perjalanan sejenis. Lazimnya sang tokoh belajar atau diberi pelajaran dari pengalaman-pengalaman yang ditemuinya selama perjalanan sehingga ia akhirnya menemukan apa yang ia cari. Into the Wild garapan Sean Pean merupakan salah satu contoh sempurna film drama jenis ini melalui kedalaman temanya. Sementara dalam film ini sang tokoh berkesan “lari” dari kenyataan untuk mencari “kedamaian jiwa” atau lebih tepatnya mencari kenikmatan duniawi yang belum terpuaskan. Sang tokoh melakukan segala upaya dari makan makanan enak, meditasi, hingga seks untuk mencari “kedamaian jiwa”nya. Sama sekali tidak diperlihatkan bagaimana perjalanannya ke India misalnya, mampu merefleksikan kedamaiannya jiwanya. Ending-nya pun nyaris sama solusinya dengan film drama roman kebanyakan. Singkat kata, cerita filmnya terlalu dangkal.

Baca Juga  Pretty Woman, Kisah Cinderella dalam Kemasan Masa Kini

Terlepas dari kisahnya yang dangkal, Roberts telah bermain maksimal. Perannya kali ini sepertinya tidak menguras kemampuan aktingnya sama sekali. Bardem, Crudup, serta Franco pun tampil baik namun tak ada yang istimewa. Bardem sendiri tampil nyaris mirip dengan perannya dalam film roman, Vicky Christina Barcelona. Justu akting aktor kita, Hadi Subiyanto sebagai Ketut Liyer mampu tampil mencuri perhatian. Sementara aktris kawakan kita, Christine Hakim tidak banyak mendapat porsi peran yang cukup untuk menunjukkan kemampuan aktingnya. Ada rasa bangga juga akhirnya bisa melihat aktris kita bisa bermain satu adegan bersama aktor top sekelas Julia Roberts.

Satu hal yang menarik dalam film ini adalah kita seperti benar-benar dibawa traveling ke Italia, India, serta Bali. Sekuen di Italia mungkin adalah yang terbaik dengan mampu memperlihatkan eksotisme kota-kota di Italia, dari arsitektur, makanan, keramahan warga kota, hingga gaya bicara. Sekuen di Bali, sekalipun porsinya cukup banyak namun kurang menunjukkan eksotisme Pulau Dewata yang sebenarnya. Sayang sekali, tampak sineas menghindari penggunaan lokasi-lokasi yang menjadi tempat wisata utama di Bali, tentunya ini untuk kemudahan produksinya. Terlepas dari ini semua secara umum Eat, Pray, Love adalah film drama biasa yang hanya menampilkan eksotisme kota-kota yang disinggahinya. Jika Anda ingin mendapatkan sesuatu yang lebih, film ini sama sekali tidak menawarkan sesuatu yang baru.

WATCH TRAILER

Artikel SebelumnyaSang Pencerah, Film Terbaik Hanung?
Artikel BerikutnyaErin Brockovich, Kombinasi Sempurna “Independen dan Komersil”
His hobby has been watching films since childhood, and he studied film theory and history autodidactically after graduating from architectural studies. He started writing articles and reviewing films in 2006. Due to his experience, the author was drawn to become a teaching staff at the private Television and Film Academy in Yogyakarta, where he taught Film History, Introduction to Film Art, and Film Theory from 2003 to 2019. His debut film book, "Understanding Film," was published in 2008, which divides film art into narrative and cinematic elements. The second edition of the book, "Understanding Film," was published in 2018. This book has become a favorite reference for film and communication academics throughout Indonesia. He was also involved in writing the Montase Film Bulletin Compilation Book Vol. 1-3 and "30 Best Selling Indonesian Films 2012-2018." Additionally, he authored the "Horror Film Book: From Caligari to Hereditary" (2023) and "Indonesian Horror Film: Rising from the Grave" (2023). Until now, he continues to write reviews of the latest films at montasefilm.com and is actively involved in all film productions at the Montase Film Community. His short films have received high appreciation at many festivals, both local and international. Recently, his writing was included in the shortlist (top 15) of Best Film Criticism at the 2022 Indonesian Film Festival. From 2022 until now, he has also been a practitioner-lecturer for the Film Criticism and Film Theory courses at the Yogyakarta Indonesian Institute of the Arts in the Independent Practitioner Program.

BERIKAN TANGGAPANMU

Silahkan berikan tanggapan anda
Silahkan masukan nama anda disini

Situs ini menggunakan Akismet untuk mengurangi spam. Pelajari bagaimana data komentar Anda diproses.