first snow of summer

Ini kisah seorang pria eksentrik bernama Alexander (Thomas Prenn) yang bersumpah untuk tidak  jatuh cinta. Ia takut apabila jatuh cinta, ia akan menjadi seperti ayahnya yang larut dalam kedukaannya sejak kematian ibunya. Ia punya hobi unik dan misi tertentu yang membuatnya bekerja di bagian pengaduan dan penemuan barang-barang tertinggal di stasiun kereta bawah tanah. Hingga suatu ketika ia bertemu dan jatuh cinta dengan gadis yang bekerja di toko topi di stasiun tersebut. Gadis itu bernama Caro (Verena Altenberger).

Film asal Austria berjudul First Snow of Summer ini terpilih menjadi film pembuka gelaran Europe on Screen tahun ini. Film berdurasi 90 menitan ini sedari awal menarik minat penonton lewat pengenalan karakter Alexander yang sejak kecil memang tidak seperti anak-anak pada umumnya.

Dibesarkan oleh neneknya, Alexander selalu menonton film koboi bersama sang nenek. Alexander gemar mencatat suhu udara yang diukurnya lewat badannya sendiri setiap hari. Ia menuruti saran sang nenek untuk selalu mandi jika merasa ketakutan.

Berlainan dengan hubungannya dengan sang nenek yang terasa intim. Alexander dan ayahnya seperti terpisah oleh dinding tak kasat mata. Ia dan ayahnya memiliki ikatan dan cara berkomunikasi yang tak biasa. Ia menggambar di sebuah area tersembunyi sebagai caranya berkomunikasi dengan ibunya. Ia melukis helm dandellion sebagai salah satu alat pelindungnya.

Dengan gambar-gambar yang terkadang kabur antara nyata dan sekadar khayalan, juga adakalanya cerita berjalan seperti tak runtut, Chris Raiber seolah-olah terus menyadarkan kepada penonton ini hanyalah sebuah cerita rekaan. Alexander adalah tokoh fiktif ciptaannya

Memang pada awal-awal film, Alexander menjadi fokus cerita. Hingga kemudian kamera mulai beralih ke sosok Caro, ke para rekan kerjanya yang juga punya hobi dan ketakutan tersendiri, ke sosok ayah yang gloomy, hingga tokoh-tokoh lainnya yang ikut menghidupkan cerita.

Baca Juga  Film Hollywood Klasik, Hitam Putih tetapi Menarik dan Hangat

Kehadiran tokoh-tokoh rekan kerja dan para penumpang kereta yang datang ke kantor tersebut berhasil menolong dari pengalaman menonton yang mulai agak monoton dan membosankan. Tingkah laku para rekan kerja dan pelanggan tersebut sebagian terasa janggal. Kejanggalan itulah yang membuat penonton terpancing tertawa. Cara pengenalan tiap-tiap tokoh ini selintas mengingatkan pada gaya Wes Anderson.

Dengan alur yang lambat dan karakter Alexander yang didesain kaku dan tak pandai beremosi, maka jangan harapkan kisah cinta ini menjadi haru biru dan dramatis. Alih-alih romantis, hubungan keduanya berjalan kikuk hingga kemudian Chris Raiber, yang juga sebagai penulis naskah, mencoba memasukkan elemen-elemen klasik khas film romantis ke dalamnya, namun dengan mempertahankan karakter Alexander yang eksentrik.

First Snow of Summer adalah sebuah film drama romantis yang ibarat fairy tale dengan karakter-karakter tokoh yang kuat dengan latar dunia sempit sebuah stasiun bawah tanah.  Jauh dari terpaan sinar matahari, karakter dua tokoh cerita yang unik merebut perhatian penonton, tentunya dengan bantuan skoring dan palet warna yang menarik.

Film ini dirilis bulan Maret 2023. Film ini meraih empat nominasi di Austrian Film Award, mendapatkan nominasi aktor terfavorit untuk Verena Altenberger di Romy Gala Austria, dan berhasil memperoleh penghargaan best original score in a feature film di Diagonale, Austria. Film ini akan diputar kembali di Erasmus Huis Auditorium 18 Juni dan Kedutaan Austria pada 24 Juni di rangkaian Europe on Screen 2023.

PENILAIAN KAMI
Overall
70 %
Artikel SebelumnyaElemental
Artikel BerikutnyaWrath of Becky
Dewi Puspasari akrab disapa Puspa atau Dewi. Minat menulis dengan topik film dimulai sejak tahun 2008. Ia pernah meraih dua kali nominasi Kompasiana Awards untuk best spesific interest karena sering menulis di rubrik film. Ia juga pernah menjadi salah satu pemenang di lomba ulas film Kemdikbud 2020, reviewer of the Month untuk penulis film di aplikasi Recome, dan pernah menjadi kontributor eksklusif untuk rubrik hiburan di UCNews. Ia juga punya beberapa buku tentang film yang dibuat keroyokan. Buku-buku tersebut adalah Sinema Indonesia Apa Kabar, Sejarah dan Perjuangan Bangsa dalam Bingkai Sinema, Antologi Skenario Film Pendek, juga Perempuan dan Sinema.

BERIKAN TANGGAPANMU

Silahkan berikan tanggapan anda
Silahkan masukan nama anda disini

Situs ini menggunakan Akismet untuk mengurangi spam. Pelajari bagaimana data komentar Anda diproses.