wrath of becky

Masih ingat Becky (2020), gadis cilik brutal yang membalas dendam kematian ayahnya? Kini sekuelnya telah hadir, Wrath of Becky yang dirilis oleh platform Prime Video. Sekuelnya kini diarahkan oleh Matt Angel dan Suzanne Coote. Sang bintang remaja, Lulu Wilson, kini didampingi oleh Sean William Scott, Denise Burse, Jill Larson, serta Kate Siegel. Akankah sekuelnya kini sebrutal film pertamanya?

Dua tahun setelah kejadian mengerikan yang menimpa Becky (Wilson), sang gadis beberapa kali kabur dari orang tua asuhnya. Ia pun bersama Diego, anjing setianya, akhirnya mendapat tempat di rumah seorang nenek tua bernama Elena (Burse) yang kesepian. Becky pun kini bekerja di sebuah kedai kopi. Suatu ketika, tiga orang laki-laki asing datang dan mengganggunya, Becky pun membalasnya. Tak terima dengan ulah Becky, tiga orang tersebut mengikuti dan mendatangi rumah Becky, lalu tak sengaja membunuh Elena. Becky pun lantas mencari mereka untuk membalaskan dendam. Siapa sangka, ketiga lelaki tersebut rupanya bagian dari komplotan radikal paling dicari di AS yang dipimpin seorang mantan militer bernama Darryl (Scott).

Wrath of Becky dibuka dengan opening title unik dengan gambar-gambar skets layaknya “montage” yang menuturkan eksposisi ringkas petualangan sang gadis sebelum ia tinggal di rumah Elena. Premisnya yang menjanjikan seolah bakal menyajikan aksi sadis yang lebih brutal dari sebelumnya. Faktanya tidak. Kita tentu penasaran bagaimana plot aksi brutal bisa masuk ke dalam kisahnya, dan ini bermula ketika tiga lelaki asing datang masuk ke kafe. Semua berjalan natural, namun ketika mereka ke rumah Becky dan membunuh Elena, serta membawa anjingnya (untuk apa?), ini jelas-jelas tidak masuk akal. Logisnya, Becky seharusnya dibunuh untuk menghilangkan saksi. Belakangan, mereka pun terlibat dalam komplotan radikal yang akan mengadakan pemberontakan di kota, justru membuat segalanya tambah tak masuk akal. Ini adalah kesalahan fatal naskahnya.

Baca Juga  Maze Runner: The Scorch Trials

Aksi brutal yang menjadi trademark, juga kini seolah tanpa gigitan. Aksi sadisnya terasa lebih “soft” dengan hanya sedikit intensitas ketegangan yang bisa kita rasakan. Dalam seri pertama, situasi “Die Hard” dapat kita rasakan kuat karena ancaman begitu nyata. Namun kini, satu-satunya yang mengancam hanyalah sosok Becky sendiri. Lemahnya karisma sosok antagonis yang diperankan Sean William Scott membuat segalanya menjadi terasa seperti banyolan. Dibandingkan sosok antagonis seri pertama yang diperankan Kevin James yang sikapnya dingin, tegas, dan keras, kita pun bisa merasakan aura bengis karakter melalui sorot matanya.

Tidak menyengat seperti film pertamanya, namun Wrath of Becky masih memiliki potensi melalui sosok brutal protagonisnya. Dari sisi aksi dan pemain, seri keduanya ini terasa jauh lebih halus. Pesona Lulu Wilson tidak seperti sebelumnya, kini ia justru terlihat sebagai gadis remaja yang sakit jiwa ketimbang traumatik. Potensi pengembangan kisahnya rasanya justru lebih menarik, namun apa bedanya kelak dengan seri-seri agen perempuan tangguh lainnya yang sudah jamak di pasaran. Sosok gadis kecil yang brutal ini adalah satu hal yang membuat seri ini begitu menarik dan segar.

1
2
PENILAIAN KAMI
Overall
60 %
Artikel SebelumnyaFirst Snow of Summer – EoS 2023
Artikel BerikutnyaAsghar Farhadi
His hobby has been watching films since childhood, and he studied film theory and history autodidactically after graduating from architectural studies. He started writing articles and reviewing films in 2006. Due to his experience, the author was drawn to become a teaching staff at the private Television and Film Academy in Yogyakarta, where he taught Film History, Introduction to Film Art, and Film Theory from 2003 to 2019. His debut film book, "Understanding Film," was published in 2008, which divides film art into narrative and cinematic elements. The second edition of the book, "Understanding Film," was published in 2018. This book has become a favorite reference for film and communication academics throughout Indonesia. He was also involved in writing the Montase Film Bulletin Compilation Book Vol. 1-3 and "30 Best Selling Indonesian Films 2012-2018." Additionally, he authored the "Horror Film Book: From Caligari to Hereditary" (2023) and "Indonesian Horror Film: Rising from the Grave" (2023). Until now, he continues to write reviews of the latest films at montasefilm.com and is actively involved in all film productions at the Montase Film Community. His short films have received high appreciation at many festivals, both local and international. Recently, his writing was included in the shortlist (top 15) of Best Film Criticism at the 2022 Indonesian Film Festival. From 2022 until now, he has also been a practitioner-lecturer for the Film Criticism and Film Theory courses at the Yogyakarta Indonesian Institute of the Arts in the Independent Practitioner Program.

BERIKAN TANGGAPANMU

Silahkan berikan tanggapan anda
Silahkan masukan nama anda disini

Situs ini menggunakan Akismet untuk mengurangi spam. Pelajari bagaimana data komentar Anda diproses.