Sekuel Tersukses

Seri Jurassic Park memang belum setua franchise yang lain, seperti James Bond, Star Trek, Star Wars, atau Terminator, namun tetap dianggap sebagai seri film berpengaruh dalam sejarah sinema dunia. Pada eranya Jurassic Park menghebohkan banyak orang karena rekayasa digital Dinosaurus yang terlihat begitu realistik. Dimana-mana semua orang demam Jurassic Park seperti halnya kasus Star Wars saat ini. Sukses komersil berlanjut pada dua sekuelnya, The Lost World, dan Jurassic Park 3. Walau dianggap tidak sebaik film awalnya namun setidaknya dua film ini menawarkan adegan aksi menawan plus Dino yang lebih realistik, dan yang terpenting lagi dua film ini sukses besar secara komersil.

Sekuel ketiganya, Jurassic World, sukses komersil luar biasa dengan meraih lebih dari $1,6 M dan bahkan film ini banyak sekali dipuji pengamat. Ketika saya ditanya apa film terburuk tahun 2015, film ini adalah jawabnya. Mengapa? Jurassic World menawarkan ragam Dino yang lebih banyak, besar, bergigi, serta aksi dengan penggunaan rekayasa digital (CGI) yang sangat intensif dalam banyak adegannya. Entah mengapa semua ini tidak berarti tanpa plot yang memadai dan menurut saya film ini telah membodohi kita dengan sesuatu yang sangat tidak masuk akal. Film fiksi ilmiah macam ini memang memungkinkan banyak hal terjadi di luar nalar seperti juga semua hal yang terjadi di seri Jurassic Park namun biar bagaimana pun logika cerita tetap tidak bisa kita abaikan begitu saja. Ketika Dinosaurus menjadi lebih cerdas dari manusia, siapa sebenarnya yang dibodohi?

Indominus Rex yang Cerdas

 Indominus Rex, seberapa cerdaskah Dino ini? Ini pertanyaan mendasar yang membuat segala sesuatunya menjadi mungkin dalam cerita film ini. Turning point cerita dalam Jurassic Park diakibatkan oleh human error yang membuat semua Dino di taman tersebut bisa keluar dari kurungan. Tidak ada masalah dengan ini dan semua terjadi dengan wajar dan masuk akal hingga akhir cerita. Sementara turning point dalam Jurassic World tidak ada human error disini, hanya seekor Dino cerdas yang mampu membuat skema demikian kompleks sehingga bisa mengelabui manusia atau memang sang Dino hanya beruntung.

Ini yang terjadi di cerita filmnya, ketika Claire dan Owen mengecek kandang Indominus Rex, Dino tersebut sama sekali tak tampak batang hidungnya. Dino tersebut bahkan lepas dari pantauan sensor panas yang canggih. Claire semakin panik ketika Owen melihat cakar di dinding pagar yang seolah terlihat Dino tersebut telah melompati pagar. Claire panik dan mengira Dino lepas dari kandang, ia langsung menuju markas pusat kontrol dengan mobil dan minta operator disana untuk melacak keberadaan Dino (mengapa ia tidak melakukannya di lokasi?). Apa yang terjadi berikutnya, dari deteksi alat pelacak ternyata Dino besar tersebut masih ada di dalam kandang, dan akhirnya bisa keluar kandang dengan mudah setelah mendobrak pintu dan membunuh beberapa petugas. Apa ada yang salah dengan ini?

Seberapa cerdaskah Dino ini hingga mampu membuat skema pelarian demikian jenius bahkan tidak akan terpikir manusia. Jadi skema Dino ini adalah:

Pertama, membuat cakaran di dinding kandang untuk bisa mengelabui petugas sehingga mereka berpikir sang Dino telah melompati kandang. Cakaran di dinding tersebut jelas baru karena Owen menanyakan hal yang sama pada Claire. Pada momen ini apakah mereka tidak berpikir jika pun sang Dino melompati pagar setinggi itu, apa suara berdentum tidak terdengar sedikitpun untuk ukuran Dino sebesar itu atau setidaknya menarik perhatian? Suara langkah Dino pun pasti menimbulkan getaran hebat dan suara amat keras dan pasti intensitasnya berbeda jika di dalam dan diluar kandang.

Kedua, sesaat setelah ia membuat cakaran di dinding ia lalu bersembunyi di pepohonan (mimikri) dan “menutup” suhu tubuhnya. Dari penjelasan ahlinya, Dino ini bisa lolos sensor pelacak panas kemungkinan karena ia memang bisa mengontrol suhu tubuhnya akibat DNA yang dimilikinya. Ok, anggap saja saya bisa terima fakta ini namun darimana Dino ini bisa mengetahui jika di dalam ruang kontrol kandang ada alat pelacak sensor panas? Ini jelas tidak masuk akal. Kemampuan sang Dino untuk bisa mimikri dan “menutup” suhu tubuhnya pastinya sudah diketahui petugas atau ahlinya sejak lama jika memang bisa (sejak kecil Dino ini sudah ada di kandang ini tidak pernah keluar, kata Claire). Bagaimana mungkin secara sadar ia menggunakan kemampuannya hanya untuk momen ini?

Baca Juga  Box Office 2019: Dominasi Disney

  Ketiga, setelah yakin kedua hal (tidak masuk akal) tersebut diatas berhasil sesuai rencana sang Dino masih harus berjudi jika kandang pasti akan dibuka. Dan nyatanya rencana tersebut berhasil dan petugas termasuk Owen masuk ke dalam kandang. Setelah membunuh beberapa petugas, sang Dino mendobrak pintu kandang yang belum sempat tertutup rapat. Rencana yang demikian kompleks berjalan sesuai rencana sang Dino, atau ini semua cuma kebetulan belaka? Oh come on.. Saya sempat berpikir jangan-jangan Dino ini mengandung DNA alien atau semacamnya. Entah apapun itu, jelas ini adalah turning point cerita yang amat konyol dan ini dibuktikan dengan kekonyolan-kekonyolan berikutnya.

Pelacak Indominus Rex

Sesaat setelah keluar dari kandang, markas pusat kontrol melacak terus posisi sang Dino. Pasukan  militer bersenjata non amunisi dikirim ke lokasi sinyal. Ketika mereka sampai di lokasi, sang kapten menemukan alat pelacak tergeletak di pinggir sungai. Beberapa saat kemudian ia baru menyadari bahwa ini adalah sebuah perangkap, Indominus Rex yang bersembunyi di belakangnya mendadak muncul, dan selanjutnya seluruh pasukan tewas dalam hitungan detik. What the hell is going on?

Dari cerita yang terjadi, skenarionya bisa begini, sang Dino entah bagaimana bisa menyadari jika ada pelacak di tubuhnya sehingga bisa memprediksi lokasinya bakal bisa ditemukan dengan mudah oleh manusia. Bagaimana ia bisa tahu lokasi persis alat pelacak tersebut di tubuhnya? Owen yang cerdas berkata, Dino ini kemungkinan merasakan sakit/nyeri ditempat dimana ditanam pelacak di tubuhnya, sehingga dia lantas bisa mengeluarkan benda tersebut. Namun ini tetap tidak bisa menjawab, bagaimana si Dino bisa tahu jika benda tersebut adalah sebuah pelacak lalu mengeluarkannya dari tubuhnya, dan kemudian meletakkan di ruang terbuka yang cukup strategis untuk bisa menyergap mangsanya sementara ia bersembunyi di balik pepohonan? Wow… This Dino really something. Yang anehnya lagi apa iya dia baru merasakan sakit di tubuhnya (alat pelacak) setelah ia keluar dari kandang. Jika memang alat tersebut sudah tertanam sejak lama dan menimbulkan rasa sakit atau katakan saja tidak nyaman di tubuhnya tentunya benda tersebut akan segera langsung dikeluarkan dari tubuhnya bukan?

Dino yang Buruk

Dari dua aspek cerita diatas sudah lebih dari cukup untuk tidak menaruh harapan lebih pada sisa cerita filmnya. Bagaimana mungkin kita bisa menikmati filmnya jika turning point kisahnya sudah tidak masuk akal. Sepertinya saya hanya menanti kebodohan apalagi yang muncul setelah ini dan ternyata memang banyak sekali dan amat lelah untuk dibicarakan.

Naskah yang buruk dengan logika yang ditendang jauh entah kemana semakin diperparah dengan kualitas dialog yang buruk nyaris di semua adegan. Satu contoh adalah adegan dialog antara Dr. Wu dengan sang bos, Simon Masrani di dalam laboratorium setelah Indominus Rex lepas. Mengapa protes dan mengeluh jika ia sendiri yang meminta? Lalu velociraptor yang bisa dilatih sedemikian rupa layaknya anjing pemburu? Wow, seberapa jinak sebenarnya Dino-Dino kecil ini sehingga bisa dilatih layaknya anjing dan kuda? Saya juga mengampuni adegan Owen dengan motornya yang berpacu mengikuti raptor-raptor yang lari menuju targetnya, begitu mulus motornya melaju layaknya di jalanan aspal ketika Dino-Dino tersebut harus loncat dan turun naik melompati dahan dan pepohonan.

Jurassic World bisa jadi adalah satu contoh sempurna bagaimana film masa kini harus dibuat. Tak perlu otak, ringan dan bisa dinikmati anak-anak, sedikit unsur komedi, banyak aksi dan.. lots and lots and lots CGI. Marvel Cinematic Universe (MCU) sejauh ini adalah franchise yang masih berhati-hati dengan kombinasi antara kekuatan cerita dan visual. Seri Terminator sudah habis dicaci pengamat. Seri Star Trek dan Star Wars juga masih bermain aman dengan tidak bermain dengan sesuatu yang baru. Masih ditunggu James Cameron dengan seri Avatar-nya serta DC Cinematic Universe. Ke depan kita bakal dijejali franchice-franchise baru dengan segala strategi dan trik untuk bisa menyedot penonton sebanyak mungkin. Film-film terbaik tahun lalu seperti Mad Max: Fury Road dan Inside Out memberi sedikit harapan bahwa masih ada film yang mengingatkan saya, mengapa saya begitu mencintai medium ini dan akan terus menonton film di bioskop.

Artikel SebelumnyaJet Li Bergabung dalam XXX: Return of Xander Cage
Artikel BerikutnyaStar Wars Lewati $1,5 Milyar dalam 19 Hari
His hobby has been watching films since childhood, and he studied film theory and history autodidactically after graduating from architectural studies. He started writing articles and reviewing films in 2006. Due to his experience, the author was drawn to become a teaching staff at the private Television and Film Academy in Yogyakarta, where he taught Film History, Introduction to Film Art, and Film Theory from 2003 to 2019. His debut film book, "Understanding Film," was published in 2008, which divides film art into narrative and cinematic elements. The second edition of the book, "Understanding Film," was published in 2018. This book has become a favorite reference for film and communication academics throughout Indonesia. He was also involved in writing the Montase Film Bulletin Compilation Book Vol. 1-3 and "30 Best Selling Indonesian Films 2012-2018." Additionally, he authored the "Horror Film Book: From Caligari to Hereditary" (2023) and "Indonesian Horror Film: Rising from the Grave" (2023). Until now, he continues to write reviews of the latest films at montasefilm.com and is actively involved in all film productions at the Montase Film Community. His short films have received high appreciation at many festivals, both local and international. Recently, his writing was included in the shortlist (top 15) of Best Film Criticism at the 2022 Indonesian Film Festival. From 2022 until now, he has also been a practitioner-lecturer for the Film Criticism and Film Theory courses at the Yogyakarta Indonesian Institute of the Arts in the Independent Practitioner Program.

BERIKAN TANGGAPANMU

Silahkan berikan tanggapan anda
Silahkan masukan nama anda disini

Situs ini menggunakan Akismet untuk mengurangi spam. Pelajari bagaimana data komentar Anda diproses.