Dead Time (2007)
102 min|Crime, Fantasy, Thriller|19 Apr 2007
7.0Rating: 7.0 / 10 from 854 usersMetascore: N/A
A jaded cop. A narcoleptic journalist. A nation divided. A Fantasy you'd wish never come true.

Film karya Joko Anwar ini menawarkan sesuatu yang berbeda dibandingkan film-film kita lainnya. Film ini memiliki karakter tema dan estetik bergaya film noir dan dibumbui dengan sedikit unsur horor. Cerita film diawali seorang detektif bernama Eros (Ario Bayu) dan seorang jurnalis bernama Janus (Fachri Albar) yang secara terpisah menyelidiki kematian lima laki-laki yang tewas mengenaskan. Dikisahkan Janus adalah seorang penderita narkolepsi (mendadak pingsan jika merasa tertekan) yang diambang perceraian dengan istrinya, Sari (Shanty). Suatu ketika dalam penyelidikannya Janus tanpa sengaja merekam pembicaraan misterius istri dari seorang lelaki yang tewas. Tidak seberapa lama wanita tersebut tewas mengenaskan di depan mata Janus. Setiap kali orang lain mengetahui pembicaraan tersebut, orang tersebut juga tewas mengenaskan dibunuh sosok misterius. Penyelidikan kemudian mengarah kepada seorang wanita muda bernama Ranti (Fahrani) yang memiliki hubungan dengan orang-orang yang tewas sebelumnya. Janus dan Eros lebih jauh ternyata terlibat pada pencarian sebuah harta karun terpendam yang juga melibatkan sekelompok orang-orang pemerintah.

Secara tema Kala mengusung cerita penuh misteri. Namun tidak seperti film noir lazimnya, alur ceritanya terlalu sederhana dan mudah ditebak sekalipun kesimpulan cerita disajikan pada akhir filmnya. Nuansa misteri serta intrik tidak mampu dibangun dengan rapi dan matang. Tokoh-tokohnya sejak awal cerita tidak beranjak dari orang-orang yang sama dan kemunculan tokoh-tokoh baru pun mudah untuk diduga. Informasi baru yang diharapkan mampu “membingungkan” penontonnya justru langsung terjawab begitu saja tak lama setelahnya. Misteri sekaligus kunci jawaban lebih banyak terlontar dari dialog ketimbang bahasa visual. Hal inilah yang menjadi kelemahan utama film ini. Munculnya femme fatale (Sari) juga hanya tempelan belaka tanpa intrik berkepanjangan serta motif yang jelas. Aneh, untuk apa Sari menanyakan motif lokasi tersebut jika sejak awal ia hanya menginginkan uang. Beberapa hal juga tampak belum jelas seperti bagaimana kutukan ini bermula dan darimana asalnya makhluk gaib serta data-data mengenai harta karun yang tersedia begitu lengkap di perpustakaan.

Baca Juga  Perempuan Tanah Jahanam

Terlepas dari kelemahan dari segi cerita, pencapaian estetik film ini patut mendapatkan pujian. Karakteristik film noir begitu kental terutama terutama dari aspek tata cahaya serta pemilihan set. Penggunaan area gelap-terang (low-key lighting) tampak sangat dominan dan kombinasi dengan set bangunan kolonial semakin menambah nuansa misteri serta mistis film ini. Amat disayangkan potensi set yang sedemikian megah tidak dimanfaatkan secara maksimal untuk efek bayangan. Penggunaan asap rokok digunakan cukup baik dalam banyak adegannya walau terkadang agak berlebihan. Dari sisi sinematografi, penggunaan low-angle serta high-angle yang menjadi satu ciri film noir juga seringkali digunakan dengan pas. Sayang sekali memang, pencapaian estetik yang demikian baik tidak didukung cerita yang matang. Setidaknya Kala telah memberi warna yang berbeda pada film-film produksi kita. Satu hal lagi, Kala juga sarat dengan pertanda munculnya sosok Ratu Adil di akhir jaman. Terlalu naif rasanya jika lantas sosok sang penidur adalah orang yang “suka tidur” (narkolepsi) serta sosok Ratu Adil adalah laki-laki “wanita” (homoseksual).

Artikel SebelumnyaOpera Jawa Memang Beda
Artikel BerikutnyaThe Maltese Falcon, Pelopor Film Noir
Himawan Pratista
His hobbies are watching films since he was a child and exploring the theory and history of film self-taught after graduating from an architectural study. He began writing articles and film reviews from 2006. Because of his experience, the writer was drawn into the teaching staff of a private Television and Film Academy in Yogyakarta to teach Film History, Introduction to Film Art, and Film Theory from 2003 to 2019. His debut book is Memahami Film (Understanding Films/2008) which separates film art as narrative and cinematic. His second book, Memahami Film (Understanding Films - Second Edition/2017), has now been published. These two books are favourite references for film and communication academics throughout Indonesia. He was also fully involved in writing the Compilation Book of the Montage Film Bulletin Vol. 1-3 as well as 30 best-selling Indonesian films 2012-2018. Until now, he still writes film reviews and is actively involved in all film productions in the Montase Film Community. Full bio can be viewed on the montase.org site.

BERIKAN TANGGAPANMU

Silahkan berikan tanggapan anda
Silahkan masukan nama anda disini

This site uses Akismet to reduce spam. Learn how your comment data is processed.