The Maltese Falcon (1941)
100 min|Film-Noir, Mystery|18 Oct 1941
8.0Rating: 8.0 / 10 from 146,323 usersMetascore: 96
A private detective takes on a case that involves him with three eccentric criminals, a gorgeous liar, and their quest for a priceless statuette.

The Maltese Falcon (1941) banyak dianggap pengamat sebagai titik lahirnya film noir. Lebih dari itu film ini juga menjadi standar bagi film detektif swasta kelak. Film ini sukses mendapatkan tiga nominasi Oscar termasuk film terbaik dan naskah terbaik. Film ini juga kerap kali dinilai sebagai salah satu film terbaik produksi Hollywood. Falcon dianggap sebagai pembuka jalan (pelopor) karena dinilai telah menggunakan seluruh elemen yang menjadi ciri film noir. Tulisan ini membahas sejauh mana karakteristik tema dan estetik film noir digunakan dalam The Maltese Falcon.

The Maltese Falcon merupakan debut karir sutradara John Huston yang diadaptasi dari novel detektif berjudul sama karya Dashiell Hammet. Film produksi Warner Brothers ini dibintangi secara menawan oleh Humprey Bogart, Mary Astor, Sidney Greenstreet, serta Peter Lorre. Kisah film ini pada awalnya tampak begitu sederhana. Seorang wanita cantik bernama Mrs. Wonderly (Astor) datang ke kantor detektif swasta, Archer. Sang wanita menuturkan masalahnya pada Sam Spade (Bogart) dan meminta pertolongan untuk mencari adiknya yang mengaku dibawa seorang bernama Flyod Thurbsy. Spade menerima kasus tersebut dan sang partner, Miles Archer menjalankan tugasnya. Pada titik inilah cerita berkembang semakin rumit. Malamnya, Archer tewas tertembak dan juga tak lama diikuti Thursby. Polisi malah menuduh Spade membunuh Thursby karena ingin membalas dendam partnernya. Spade lalu mengetahui jika kliennya ternyata berbohong tentang adiknya dan nama asli sang wanita ternyata adalah Brigid O’Shaughnessy. Belum selesai masalah, Spade bertemu dengan seseorang bernama Joel Cairo (Lorre) yang memaksanya untuk menyerahkan sebuah patung yang ia pikir ada pada Spade. Belakangan Spade mengetahui jika Brigid, Cairo, dan seorang pria misterius bernama Kasper Gutman (Greenstreet) adalah sekawanan gembong internasional yang menginginkan sebuah patung bernilai tinggi berbentuk burung Falcon.

Baca Juga  Perkembangan Film Noir

Sesuai dengan mood kisahnya yang gelap dan misterius. Kisah film sebagian besar mengambil setting indoor dengan tata cahaya yang minim. Nyaris semua ruangan seperti, kantor serta apartemen Spade, Brigid dan Kasper hanya menggunakan cahaya lampu meja atau tembok. Setting eksterior tampak pada beberapa adegan saja dan selalu diambil pada malam hari dengan tata cahaya yang suram pula. Hampir semua adegan menggunakan arah kamera low-angle (dari arah bawah) dan beberapa adegan kerap kali menggunakan teknik deep focus. Pengunaan efek bayangan begitu mengesankan tercatat pada adegan awal serta shot penutup film.

Mood setting yang suram hanya merupakan pendukung semata sementara kunci kekuatan film ini sebenarnya ada pada akting para pemainnya. Bogart bermain brilian sebagai Sam Spade yang berwatak keras, sensitif, cerdas sekaligus sulit ditebak. Sementara Astor bermain menawan sebagai femme fatale yang licik, manipulatif serta cenderung ingin memanfaatkan Spade. Aktor gaek debutan, Greenstreet bermain dingin sebagai fat-man dan akting primanya membawanya meraih nominasi Oscar untuk aktor pembantu terbaik. Alur cerita yang sulit ditebak semakin lengkap dengan penutup yang non happy ending (?). Tak jelas apakah Spade benar-benar menyukai Brigid. Di akhir film, Spade ditanya sang inspektur perihal patung falcon (palsu) yang ada di mejanya, “It’s heavy… what is it?”. Spade menjawab, “ The stuff that dream are made off”.

Artikel SebelumnyaKala, Film Noir yang Tanggung
Artikel BerikutnyaPerkembangan Film Noir
Himawan Pratista
His hobbies are watching films since he was a child and exploring the theory and history of film self-taught after graduating from an architectural study. He began writing articles and film reviews from 2006. Because of his experience, the writer was drawn into the teaching staff of a private Television and Film Academy in Yogyakarta to teach Film History, Introduction to Film Art, and Film Theory from 2003 to 2019. His debut book is Memahami Film (Understanding Films/2008) which separates film art as narrative and cinematic. His second book, Memahami Film (Understanding Films - Second Edition/2017), has now been published. These two books are favourite references for film and communication academics throughout Indonesia. He was also fully involved in writing the Compilation Book of the Montage Film Bulletin Vol. 1-3 as well as 30 best-selling Indonesian films 2012-2018. Until now, he still writes film reviews and is actively involved in all film productions in the Montase Film Community. Full bio can be viewed on the montase.org site.

BERIKAN TANGGAPANMU

Silahkan berikan tanggapan anda
Silahkan masukan nama anda disini

This site uses Akismet to reduce spam. Learn how your comment data is processed.