The Maltese Falcon (1941)
100 min|Crime, Drama, Film-Noir|18 Oct 1941
7.9Rating: 7.9 / 10 from 173,248 usersMetascore: 97
San Francisco private detective Sam Spade takes on a case that involves him with three eccentric criminals, a gorgeous liar and their quest for a priceless statuette, with the stakes rising after his partner is murdered.

The Maltese Falcon (1941) banyak dianggap pengamat sebagai titik lahirnya film noir. Lebih dari itu film ini juga menjadi standar bagi film detektif swasta kelak. Film ini sukses mendapatkan tiga nominasi Oscar termasuk film terbaik dan naskah terbaik. Film ini juga kerap kali dinilai sebagai salah satu film terbaik produksi Hollywood. Falcon dianggap sebagai pembuka jalan (pelopor) karena dinilai telah menggunakan seluruh elemen yang menjadi ciri film noir. Tulisan ini membahas sejauh mana karakteristik tema dan estetik film noir digunakan dalam The Maltese Falcon.

The Maltese Falcon merupakan debut karir sutradara John Huston yang diadaptasi dari novel detektif berjudul sama karya Dashiell Hammet. Film produksi Warner Brothers ini dibintangi secara menawan oleh Humprey Bogart, Mary Astor, Sidney Greenstreet, serta Peter Lorre. Kisah film ini pada awalnya tampak begitu sederhana. Seorang wanita cantik bernama Mrs. Wonderly (Astor) datang ke kantor detektif swasta, Archer. Sang wanita menuturkan masalahnya pada Sam Spade (Bogart) dan meminta pertolongan untuk mencari adiknya yang mengaku dibawa seorang bernama Flyod Thurbsy. Spade menerima kasus tersebut dan sang partner, Miles Archer menjalankan tugasnya. Pada titik inilah cerita berkembang semakin rumit. Malamnya, Archer tewas tertembak dan juga tak lama diikuti Thursby. Polisi malah menuduh Spade membunuh Thursby karena ingin membalas dendam partnernya. Spade lalu mengetahui jika kliennya ternyata berbohong tentang adiknya dan nama asli sang wanita ternyata adalah Brigid O’Shaughnessy. Belum selesai masalah, Spade bertemu dengan seseorang bernama Joel Cairo (Lorre) yang memaksanya untuk menyerahkan sebuah patung yang ia pikir ada pada Spade. Belakangan Spade mengetahui jika Brigid, Cairo, dan seorang pria misterius bernama Kasper Gutman (Greenstreet) adalah sekawanan gembong internasional yang menginginkan sebuah patung bernilai tinggi berbentuk burung Falcon.

Baca Juga  Keindahan Barangkali

Sesuai dengan mood kisahnya yang gelap dan misterius. Kisah film sebagian besar mengambil setting indoor dengan tata cahaya yang minim. Nyaris semua ruangan seperti, kantor serta apartemen Spade, Brigid dan Kasper hanya menggunakan cahaya lampu meja atau tembok. Setting eksterior tampak pada beberapa adegan saja dan selalu diambil pada malam hari dengan tata cahaya yang suram pula. Hampir semua adegan menggunakan arah kamera low-angle (dari arah bawah) dan beberapa adegan kerap kali menggunakan teknik deep focus. Pengunaan efek bayangan begitu mengesankan tercatat pada adegan awal serta shot penutup film.

Mood setting yang suram hanya merupakan pendukung semata sementara kunci kekuatan film ini sebenarnya ada pada akting para pemainnya. Bogart bermain brilian sebagai Sam Spade yang berwatak keras, sensitif, cerdas sekaligus sulit ditebak. Sementara Astor bermain menawan sebagai femme fatale yang licik, manipulatif serta cenderung ingin memanfaatkan Spade. Aktor gaek debutan, Greenstreet bermain dingin sebagai fat-man dan akting primanya membawanya meraih nominasi Oscar untuk aktor pembantu terbaik. Alur cerita yang sulit ditebak semakin lengkap dengan penutup yang non happy ending (?). Tak jelas apakah Spade benar-benar menyukai Brigid. Di akhir film, Spade ditanya sang inspektur perihal patung falcon (palsu) yang ada di mejanya, “It’s heavy… what is it?”. Spade menjawab, “ The stuff that dream are made off”.

Artikel SebelumnyaKala, Film Noir yang Tanggung
Artikel BerikutnyaPerkembangan Film Noir
A lifelong cinephile, he cultivated a deep interest in film from a young age. Following his architectural studies, he embarked on an independent exploration of film theory and history. His passion for cinema manifested in 2006 when he began writing articles and film reviews. This extensive experience subsequently led him to a teaching position at the esteemed Television and Film Academy in Yogyakarta. From 2003 to 2019, he enriched the minds of students by instructing them in Film History, Introduction to Film Art, and Film Theory. His scholarly pursuits extended beyond the classroom. In 2008, he published his seminal work, "Understanding Film," which delves into the core elements of film, both narrative and cinematic. The book's enduring value is evidenced by its second edition, released in 2018, which has become a cornerstone reference for film and communication academics across Indonesia. His contributions extend beyond his own authorship. He actively participated in the compilation of the Montase Film Bulletin Compilation Book Volumes 1-3 and "30 Best Selling Indonesian Films 2012-2018." Further solidifying his expertise, he authored both "Horror Film Book: From Caligari to Hereditary" (2023) and "Indonesian Horror Film: Rising from the Grave" (2023). A lifelong cinephile, he developed a profound passion for film from an early age. After completing his studies in architecture, he embarked on an independent journey exploring film theory and history. His enthusiasm for cinema took tangible form in 2006 when he began writing articles and film reviews. This extensive experience eventually led him to a teaching position at the esteemed Television and Film Academy in Yogyakarta. From 2003 to 2019, he enriched students’ understanding through courses such as Film History, Introduction to Film Art, and Film Theory. His scholarly pursuits extended well beyond the classroom. In 2008, he published his seminal work, Understanding Film, an in-depth examination of the essential elements of cinema, both narrative and visual. The book’s enduring significance is reflected in its second edition, released in 2018, which has since become a cornerstone reference for film and communication scholars across Indonesia. His contributions to the field also encompass collaborative and editorial efforts. He participated in the compilation of Montase Film Bulletin Compilation Book Volumes 1–3 and 30 Best-Selling Indonesian Films 2012–2018. Further establishing his authority, he authored Horror Film Book: From Caligari to Hereditary (2023) and Indonesian Horror Film: Rising from the Grave (2023). His passion for cinema remains as vibrant as ever. He continues to offer insightful critiques of contemporary films on montasefilm.com while actively engaging in film production with the Montase Film Community. His short films have received critical acclaim at numerous festivals, both nationally and internationally. In recognition of his outstanding contribution to film criticism, his writing was shortlisted for years in a row for Best Film Criticism at the 2021-2024 Indonesian Film Festival. His dedication to the discipline endures, as he currently serves as a practitioner-lecturer in Film Criticism and Film Theory at the Indonesian Institute of the Arts Yogyakarta, under the Independent Practitioner Program from 2022-2024.

BERIKAN TANGGAPANMU

Silahkan berikan tanggapan anda
Silahkan masukan nama anda disini

Situs ini menggunakan Akismet untuk mengurangi spam. Pelajari bagaimana data komentar Anda diproses