Javanese Opera (2006)
120 min|Drama, Musical|16 Jan 2008
6.2Rating: 6.2 / 10 from 435 usersMetascore: N/A
The story of the performer of Javanese Ramayana human wayang. They are the spouses who lives in a village by selling earthenware products. Conflicts arrived as the husband is going bankrupt and the wife start to looking for anothe...

Boleh jadi film Opera Jawa (2006) karya Garin Nugroho kurang sukses di negeri sendiri namun justru mampu meraih penghargaan di beberapa ajang Festival Film Internasional. Salah satu prestasi yang paling sukses adalah dalam ajang Hong Kong Film Festival, Opera Jawa mendapatkan penghargaan untuk ilustrasi musik terbaik serta nominasi untuk film terbaik. Kisah Opera Jawa mengambil inspirasi dari salah satu segmen kisah Ramayana, yakni “Penculikan Sinta”. Seperti judulnya, seluruh dialog disajikan dalam bentuk “musikal” atau lebih tepatnya tembang. Filmnya berkisah tentang Siti (Artika Sari Devi), seorang penari cantik yang dipersunting pengusaha tembikar bernama Setio (Martinus Miroto). Kehidupan perkawinan mereka berjalan langgeng namun ketika situasi dagang semakin sulit, Siti mulai merasa dijauhi suaminya. Anak pengusaha kaya, Ludiro (Eko Supriyanto) yang sejak dulu menyukai Siti mulai mencoba merayunya.

Satu hal yang menjadi nilai lebih Opera Jawa adalah perpaduan antara berbagai seni seperti, seni tari, seni pertunjukan, seni musik, seni instalasi, seni rupa, dan seni sinematografi. Film ini banyak berisi musik dan tarian tradisional maupun kontemporer. Nuansa jawa begitu kental dalam setting, ilustrasi musik, serta penggunaan bahasa Jawa dalam “dialog”nya. Falsafah Jawa sangat terasa melalui tempo filmnya yang lambat. Pada adegan ramai-ramainya (perang) justru tempo semakin melambat, digambarkan dengan alunan gamelan Jawa yang mengiringi tari Bedoyo. Seni instalasi menjadi latar abstrak yang sangat mengesankan seperti labirin kelapa, patung dan lilin merah, ratusan lilin dalam ruangan, televisi batu, bentangan kain merah, serta tenda kain pada akhir adegan. Opera Jawa penuh dengan simbol-simbol visual yang kuat namun tidak sulit untuk kita cerna, yaitu dalam adegan asmara antara Siti dan Setio di kamar tidur, pada waktu sang suami menutup wajahnya dengan kaos, Ludiro yang merayu Siti di ruang penuh “lilin” maupun di rumahnya (adegan kain merah), Ludiro yang ingin kembali ke rahim ibunya, serta adegan Setio membunuh Siti. Terakhir, para pemain juga bermain sangat baik, terutama Eko Supriyanto yang mampu menarik perhatian melalui gerak tubuhnya yang lentur.

Baca Juga  Danur

Beberapa hal yang menjadi kelemahan film ini justru terdapat pada keunikannya. Penggunaan beberapa seni instalasi dengan karakter yang berbeda membuat film ini seperti kehilangan totalitas. Tampak tidak ada ikatan “visual” yang kuat antar adegannya sehingga membuat satu adegan dengan adegan lain seolah terpisah. Film menjadi lebih enak dinikmati dan diikuti adegan per adegan ketimbang menyeluruh. Penggunaan dialog Jawa (krama) juga menjadi masalah tersendiri. Entah mengapa pada adegan ber”dialog” menjadi sulit untuk dinikmati, karena setiap saat mata kita harus melihat teks terjemahannya. Penggunaan tembang yang temponya lambat senantiasa membuat kita menunggu teksnya. Orang yang memahami bahasa Jawa mungkin bisa menikmati film ini lebih baik. Di luar hal-hal tersebut pencapaian artistik yang dicapai Opera Jawa patutlah kita puji. Garin terbukti telah membawa nama bangsa kita di bidang seni film menuju ke level yang lebih tinggi. Sejauh ini Opera Jawa menurut penulis adalah film terbaik produksi kita dalam satu dekade terakhir.

Artikel SebelumnyaNagabonar Versus Nagabonar Jadi 2
Artikel BerikutnyaKala, Film Noir yang Tanggung
Hobinya menonton film sejak kecil dan mendalami teori dan sejarah film secara otodidak setelah lulus dari studi arsitektur. Ia mulai menulis artikel dan mengulas film sejak tahun 2006. Karena pengalamannya, penulis ditarik menjadi staf pengajar di Akademi Televisi dan Film swasta di Yogyakarta untuk mengajar Sejarah Film, Pengantar Seni Film, dan Teori Film sejak tahun 2003 hingga tahun 2019. Buku film debutnya adalah Memahami Film (2008) yang memilah seni film sebagai naratif dan sinematik. Buku edisi kedua Memahami Film terbit pada tahun 2018. Buku ini menjadi referensi favorit bagi para akademisi film dan komunikasi di seluruh Indonesia. Ia juga terlibat dalam penulisan Buku Kompilasi Buletin Film Montase Vol. 1-3 serta 30 Film Indonesia Terlaris 2012-2018. Ia juga menulis Buku Film Horor: Dari Caligari ke Hereditary (2023) serta Film Horor Indonesia: Bangkit Dari Kubur (2023). Hingga kini, ia masih menulis ulasan film-film terbaru di montasefilm.com dan terlibat dalam semua produksi film di Komunitas Film Montase. Film- film pendek arahannya banyak mendapat apresiasi tinggi di banyak festival, baik lokal maupun internasional. Baru lalu, tulisannya masuk dalam shortlist (15 besar) Kritik Film Terbaik dalam Festival Film Indonesia 2022. Sejak tahun 2022 hingga kini, ia juga menjadi pengajar praktisi untuk Mata Kuliah Kritik Film dan Teori Film di Institut Seni Indonesia Yogyakarta dalam Program Praktisi Mandiri.

BERIKAN TANGGAPANMU

Silahkan berikan tanggapan anda
Silahkan masukan nama anda disini

Situs ini menggunakan Akismet untuk mengurangi spam. Pelajari bagaimana data komentar Anda diproses.