Opera Jawa Memang Beda

0
207
Boleh jadi film Opera Jawa (2006) karya Garin Nugroho kurang sukses di negeri sendiri namun justru mampu meraih penghargaan di beberapa ajang Festival Film Internasional. Salah satu prestasi yang paling sukses adalah dalam ajang Hong Kong Film Festival, Opera Jawa mendapatkan penghargaan untuk ilustrasi musik terbaik serta nominasi untuk film terbaik. Kisah Opera Jawa mengambil inspirasi dari salah satu segmen kisah Ramayana, yakni “Penculikan Sinta”. Seperti judulnya, seluruh dialog disajikan dalam bentuk “musikal” atau lebih tepatnya tembang. Filmnya berkisah tentang Siti (Artika Sari Devi), seorang penari cantik yang dipersunting pengusaha tembikar bernama Setio (Martinus Miroto). Kehidupan perkawinan mereka berjalan langgeng namun ketika situasi dagang semakin sulit, Siti mulai merasa dijauhi  suaminya. Anak pengusaha kaya, Ludiro (Eko Supriyanto) yang sejak dulu menyukai Siti mulai mencoba merayunya.
Satu hal yang menjadi nilai lebih Opera Jawa adalah perpaduan antara berbagai seni seperti, seni tari, seni pertunjukan, seni musik, seni instalasi, seni rupa, dan seni sinematografi. Film ini banyak berisi musik dan tarian tradisional maupun kontemporer. Nuansa jawa begitu kental dalam setting, ilustrasi musik, serta penggunaan bahasa Jawa dalam “dialog”nya. Falsafah Jawa sangat terasa melalui tempo filmnya yang lambat. Pada adegan ramai-ramainya (perang) justru tempo semakin melambat, digambarkan dengan alunan gamelan Jawa yang mengiringi tari Bedoyo. Seni instalasi menjadi latar abstrak yang sangat mengesankan seperti labirin kelapa, patung dan lilin merah, ratusan lilin dalam ruangan, televisi batu, bentangan kain merah, serta tenda kain pada akhir adegan. Opera Jawa penuh dengan simbol-simbol visual yang kuat namun tidak sulit untuk kita cerna, yaitu dalam adegan asmara antara Siti dan Setio di kamar tidur, pada waktu sang suami menutup wajahnya dengan kaos, Ludiro yang merayu Siti di ruang penuh “lilin” maupun di rumahnya (adegan kain merah), Ludiro yang ingin kembali ke rahim ibunya, serta adegan Setio membunuh Siti. Terakhir, para pemain juga bermain sangat baik, terutama Eko Supriyanto yang mampu menarik perhatian melalui gerak tubuhnya yang lentur.
Beberapa hal yang menjadi kelemahan film ini justru terdapat pada keunikannya. Penggunaan beberapa seni instalasi dengan karakter yang berbeda membuat film ini seperti kehilangan totalitas. Tampak tidak ada ikatan “visual” yang kuat antar adegannya sehingga membuat satu adegan dengan adegan lain seolah terpisah. Film menjadi lebih enak dinikmati dan diikuti adegan per adegan ketimbang menyeluruh. Penggunaan dialog Jawa (krama) juga menjadi masalah tersendiri. Entah mengapa pada adegan ber”dialog” menjadi sulit untuk dinikmati, karena setiap saat mata kita harus melihat teks terjemahannya. Penggunaan tembang yang temponya lambat senantiasa membuat kita menunggu teksnya. Orang yang memahami bahasa Jawa mungkin bisa menikmati film ini lebih baik. Di luar hal-hal tersebut pencapaian artistik yang dicapai Opera Jawa patutlah kita puji. Garin terbukti telah membawa nama bangsa kita di bidang seni film menuju ke level yang lebih tinggi. Sejauh ini Opera Jawa menurut penulis adalah film terbaik produksi kita dalam sat
u dekade terakhir.
Artikel SebelumnyaNagabonar Versus Nagabonar Jadi 2
Artikel BerikutnyaKala, Film Noir yang Tanggung
Himawan Pratista
Hobi menonton film sejak kecil dan mendalami teori dan sejarah film secara otodidak setelah lulus dari Jurusan Arsitektur. Ia mulai menulis artikel dan ulasan film sejak tahun 2006. Karena pengalamannya, penulis ditarik menjadi staf pengajar sebuah Akademi Televisi dan Film swasta di Yogyakarta untuk mengampu mata kuliah Sejarah Film, Pengantar Seni Film, dan Teori Film sejak tahun 2003 hingga kini. Buku karya debutnya adalah Memahami Film (2008) yang memilah seni film secara naratif dan sinematik. Buku keduanya, Memahami Film - Edisi Kedua (2017) kini sudah terbit.

BERIKAN TANGGAPANMU

Silahkan berikan tanggapan anda
Silahkan masukan nama anda disini