Setelah memproduksi film drama keluarga yang sarat misteri berjudul Hoax (2018), Ifa Isfansyah kini memproduksi film bertema anak. Setelah sepekan diputar, Koki-Koki Cilik telah mendapatkan sekitar 250.983 penonton. Larisnya film ini didukung oleh momen liburan sekolah yang belum berakhir. Tak heran jika seluruh bangku di bioskop dipenuhi dengan anak-anak dengan orang tuanya. Ifa sendiri bukan kali pertama membuat film bertema anak. Sebelumnya, ia pernah menyutradarai Garuda di Dadaku (2009) dan Ambilkan Bulan (2012).

Film ini berkisah tentang seorang anak bernama Bima (Farras Fatik). Bima berasal dari keluarga kurang mampu, namun ia punya semangat dan hobi memasak. Kemampuannya memasak diturunkan dari ayahnya yang saat ini telah tiada. Berbekal kemampuan memasak, ia berharap bisa mengikuti kompetisi di suatu cooking camp, yakni program kompetisi memasak untuk anak-anak. Bima sengaja menabung untuk bisa ikut acara yang digelar tiap tahunnya itu dan berambisi mendapatkan juara 1. Audrey (Chole Xaviera), juara bertahan di kompetisi tersebut, siap menerima tantangan dari semua peserta. Dengan kegigihan dan kreatifitas Bima, ia lolos 10 besar dalam ajang tersebut.

Tak ada yang baru dari cerita filmnya. Formula cerita sederhana, yakni seorang anak ingin mengapai impiannya sebagai seorang koki kecil. Plot filmnya, dibangun dengan babak lomba dengan sistem eliminasi, yakni 10 besar, 5 besar, hingga 2 besar. Selain itu, Bima tak sengaja bertemu dengan Rama (Morgan Oey) seorang mantan koki ternama yang sekarang bekerja di dapur cooking camp. Pertemuannya dengan Rama, membuat Bima terkesima akan kemampuan Rama memasak, yang berujung menjadi mentornya. Sang sineas mampu mengemas plot ini dengan membangun chemistry antara Rama dan Bima. Salah satu faktor chemistry yang terbangun, didasari karakter Bima yang lugu dan kekanakan beradu akting dengan karakter Rama yang pendiam dan sinis.  Pola ini tentu bukan barang baru. Sekilas mengingatkan saya pada The Karate Kid (2010) yang diperankan Jackie Chan dan Jaden Smith.

Baca Juga  Guru Ngaji

Dalam plot filmnya juga terdapat kejanggalan. Semua tahu, Rama yang memiliki kemampuan memasak luar biasa hanya menjadi tukang bersih-bersih dan memasak. Kharismanya jauh dibanding chef Grant (Ringgo Agus Rahman) yang terlihat tidak serius. Sang sineas tampaknya hanya mengejar unsur humor dari karakter Ringgo saja, tanpa memperhatikan kemampuan memasaknya.

Dalam filmnya yang mayoritas diperankan oleh anak-anak, kental dengan unsur komedi yang ringan dan menghibur. Aspek inilah yang menjadi nilai plus filmnya. Sang sineas secara konsisten mampu menjaga tone komedi dari awal hingga akhir cerita. Sang sineas mampu mengarahkan anak-anak tersebut sehingga bisa berakting dengan luwes dan alami. Untuk settingnya sendiri, terbatas di sebuah lokasi camping di tengah hutan yang asri dan sejuk. Hal ini tentu mendukung suasana filmnya. Selain menghibur, film ini juga mendidik serta memiliki nilai-nilai persahabatan, dan mengajak anak-anak untuk berjuang mendapatkan impiannya. Film ini patut ditonton oleh anak-anak di era kini karena film bertema anak yang mengangkat tema mendidik seperti ini sangat jarang.

 

WATCH TRAILER

PENILAIAN KAMI
Overall
70 %
Artikel SebelumnyaJurassic World 2 Tembus US$ 1 Miliar!
Artikel BerikutnyaBodyguard Ugal-Ugalan
Agustinus Dwi Nugroho lahir di Temanggung pada 27 Agustus 1990. Ia menempuh pendidikan Program Studi Film sejak tahun 2008 di sebuah akademi komunikasi di Yogyakarta. Di sinilah, ia mulai mengenal lebih dalam soal film, baik dari sisi kajian maupun produksi. Semasa kuliah aktif dalam produksi film pendek baik dokumenter maupun fiksi. Ia juga lulus dengan predikat cum laude serta menjadi lulusan terbaik. Ia mulai masuk Komunitas Film Montase pada tahun 2008, yang kala itu masih fokus pada bidang apresiasi film melalui Buletin Montase, yang saat ini telah berganti menjadi website montasefilm.com. Sejak saat itu, ia mulai aktif menulis ulasan dan artikel film hingga kini. Setelah lulus, ia melanjutkan program sarjana di Jurusan Ilmu Komunikasi di salah satu perguruan tinggi swasta di Jogja. Penelitian tugas akhirnya mengambil tema tentang Sinema Neorealisme dan membandingkan film produksi lokal yang bertema sejenis. Tahun 2017, Ia menyelesaikan studi magisternya di Program Pascasarjana Jurusan Pengkajian Seni di Institut Seni Indonesia (ISI) Yogyakarta dengan minat utama film. Penelitian tesisnya terkait dengan kajian narasi dan plot sebuah film. Saat ini, ia tercatat sebagai salah satu staf pengajar di Program Studi Film dan Televisi, ISI Yogyakarta mengampu mata kuliah teori, sejarah, serta kajian film. Ia juga aktif memberikan pelatihan, kuliah umum, seminar di beberapa kampus, serta menjadi pemakalah dalam konferensi Internasional. Biodata lengkap bisa dilihat dalam situs montase.org. Prestasi besar terakhirnya adalah menjadi nominator Festival Film Indonesia 2021 untuk kategori Kritikus Film Terbaik melalui artikel "Asih, Cermin Horor Indonesia Kontemporer" bersama rekan penulisnya, Miftachul Arifin.

BERIKAN TANGGAPANMU

Silahkan berikan tanggapan anda
Silahkan masukan nama anda disini

Situs ini menggunakan Akismet untuk mengurangi spam. Pelajari bagaimana data komentar Anda diproses.