MatiAnak (2019)
85 min|Horror|28 Mar 2019
6.1Rating: 6.1 / 10 from 128 usersMetascore: N/A
Since a new kid arrives at an orphanage, weird things started to happen.

MatiAnak merupakan film horor besutan sutradara pendatang baru Derby Romero. Pada dua dekade lalu, kita mengenal Derby Romero sebagai aktor yang pernah berakting sebagai Sadam dalam film musikal Petualangan Sherina (2000), lalu terakhir ini, ia berakting dalam Orang Kaya Baru (2019). Baru-baru ini pula, film horor Kain Kafan Hitam yang disutradarai oleh aktor Maxime Boutrier. Bisa jadi ke depannya, hal ini jadi sebuah tren, para aktor muda menyutradarai sebuah film. MatiAnak sendiri dibintangi oleh aktris top kita, Cinta Laura Kiehl yang baru kali ini pula bermain dalam film bergenre horor.

Film bercerita tentang sekelompok anak kecil yang tinggal di sebuah panti asuhan bernama “Harapan Baroe”. Mereka selalu riang gembira dan diasuh oleh Ina (Cinta Laura) dan seorang rekannya. Suatu saat, datanglah seorang bocah bernama Andy ke panti asuhan tersebut. Andy memiliki latar belakang suram. Keluarganya meninggal secara misterius dan hanya menyisakan Andy semata wayang. Andy selalu bertingkah aneh sejak ia datang dan kejadian-kejadian aneh pun mulai menimpa para penghuni panti.

Eksplorasi cerita horor di negeri ini yang menyajikan kisah horor terkait mitologi lokal memang sudah banyak diproduksi, sebut saja Jelangkung, Kuntilanak, hingga Pocong. Kali ini, sang sineas mencoba menggali sosok mitologi MatiAnak yang terbilang baru. Dari sisi inilah sebetulnya film ini ingin menyajikan sosok ini, namun dalam visualisasi, kisahnya kurang memperkenalkan latar belakang tentang siapa sebenarnya sosok ini dan apa karakteristiknya. Kisah mengenai MatiAnak sendiri sebenarnya pernah disinggung dalam Jailangkung (2017) dan Jailangkung 2 (2018), walau film ini sendiri lebih bicara soal sosok Jailangkung.

Baca Juga  Saranjana: Kota Ghaib

Dilihat dari set filmnya, MatiAnak jelas tak berlatar waktu masa kini. Walau tak memberikan informasi kapan latar cerita tapi dari setting dan properti  yang tampak, sepertinya ber-setting  era tahun 1990-an. Hal ini memang memberikan kesan suasana yang berbeda, terlebih ditambah tone warna yang bernuansa lawas. Sementara dari formula kisahnya, sebenarnya plot semacam ini sudah bukan barang baru karena beberapa film sebelumnya telah menggunakan tema dan formula cerita panti asuhan dan mengeksplorasi pemain anak-anak, sebut saja Kuntilanak dan Mata Batin 2.

Plotnya terbilang sederhana. Arah plot berubah yang berupa gangguan mulai muncul ketika Andy datang ke panti asuhan. Sang sineas memang tak tergesa-gesa untuk menampilkan teror yang berlebihan seperti pada film horor kita lazimnya walau gangguan muncul hampir sepanjang filmnya. Sisi horor dengan balutan tingkah konyol anak-anak justru membuat kisahnya menarik. Keluguan yang didukung kemampuan akting mereka membuat beberapa adegan terlihat begitu hidup. Contoh saja, si kecil Timmy yang penakut harus berurusan dengan Andy yang bertingkah aneh. Sementara bicara akting sang bintang, Cinta Laura juga bermain tak istimewa.

Intensitas teror yang semakin intens juga sebenarnya membuat filmnya menarik. Sayangnya, alur plotnya mudah sekali tertebak. Satu hal yang sangat mengganggu adalah beberapa adegan brutal dan sadis. Hal ini justru menjadikan film ini terlihat tidak nyaman dilihat dan tak mendidik, bertolak belakang dengan para pemainnya yang kebanyakan anak-anak. Tak ada motif kuat untuk menampilkan adegan-adegan brutal seperti itu. Sayang sekali, sebenarnya dengan potensi para pemain yang terbilang masih belia dan topik kisah horornya, kedalaman alur ceritanya sebenarmya mampu diolah lebih mendalam lagi, terlebih pada babak akhir filmnya.

WATCH TRAILER

PENILAIAN KAMI
Overall
50 %
Artikel SebelumnyaArctic
Artikel BerikutnyaShazam!
Agustinus Dwi Nugroho lahir di Temanggung pada 27 Agustus 1990. Ia menempuh pendidikan Program Studi Film sejak tahun 2008 di sebuah akademi komunikasi di Yogyakarta. Di sinilah, ia mulai mengenal lebih dalam soal film, baik dari sisi kajian maupun produksi. Semasa kuliah aktif dalam produksi film pendek baik dokumenter maupun fiksi. Ia juga lulus dengan predikat cum laude serta menjadi lulusan terbaik. Ia mulai masuk Komunitas Film Montase pada tahun 2008, yang kala itu masih fokus pada bidang apresiasi film melalui Buletin Montase, yang saat ini telah berganti menjadi website montasefilm.com. Sejak saat itu, ia mulai aktif menulis ulasan dan artikel film hingga kini. Setelah lulus, ia melanjutkan program sarjana di Jurusan Ilmu Komunikasi di salah satu perguruan tinggi swasta di Jogja. Penelitian tugas akhirnya mengambil tema tentang Sinema Neorealisme dan membandingkan film produksi lokal yang bertema sejenis. Tahun 2017, Ia menyelesaikan studi magisternya di Program Pascasarjana Jurusan Pengkajian Seni di Institut Seni Indonesia (ISI) Yogyakarta dengan minat utama film. Penelitian tesisnya terkait dengan kajian narasi dan plot sebuah film. Saat ini, ia tercatat sebagai salah satu staf pengajar di Program Studi Film dan Televisi, ISI Yogyakarta mengampu mata kuliah teori, sejarah, serta kajian film. Ia juga aktif memberikan pelatihan, kuliah umum, seminar di beberapa kampus, serta menjadi pemakalah dalam konferensi Internasional. Biodata lengkap bisa dilihat dalam situs montase.org. Prestasi besar terakhirnya adalah menjadi nominator Festival Film Indonesia 2021 untuk kategori Kritikus Film Terbaik melalui artikel "Asih, Cermin Horor Indonesia Kontemporer" bersama rekan penulisnya, Miftachul Arifin.

BERIKAN TANGGAPANMU

Silahkan berikan tanggapan anda
Silahkan masukan nama anda disini

Situs ini menggunakan Akismet untuk mengurangi spam. Pelajari bagaimana data komentar Anda diproses.