Aku Tahu Kapan Kamu Mati

2
12085

Aku Tahu Kapan Kamu Mati, film horor yang diproduksi oleh rumah produksi Unlimited Production dan Maxima Pictures ini  disutradarai Hadrah Daeng Ratu. Sang sineas kita kenal dengan film-film drama dan roman, seperti Heart Beat (2015), Super Didi (2016), dan Mars Met Venus Part Cew dan Cow  (2017). Setidaknya sang sineas juga pernah memproduksi dua film horor,  Jaga Pocong (2018) dan Makmum (2019). Aku Tahu merupakan sebuah adaptasi dari novel horor berjudul sama karya Arumi E. Turut bermain dalam film ini aktris aktor populer, Natasha Wilona, Ria Ricis, dan Al Ghazali. Dengan bintang-bintang populer ini, tampaknya film ini mampu menarik animo penonton.

Bercerita tentang remaja SMA bernama Siena (Natasha Wilona) yang dinyatakan meninggal setelah koma, namun akhirnya ia hidup lagi. Siena pun kembali ke kehidupan lamanya bersama ketiga sahabatnya di satu asrama putri. Setelah peristiwa tersebut, Sinea memiliki kemampuan untuk melihat hal-hal gaib di sekitarnya. Ia pun merasa diteror oleh makhluk-makhluk tak kasat mata itu.

Pengalaman sineas membuat dua film horor, Jaga Pocong dan Makmum, ternyata tak membuat film ini lebih baik. Dibanding dua film sebelumnya, Aku Tahu kurang memiliki sesuatu yang unik dan temanya terlalu umum. Jaga Pocong memiliki keunikan teror dengan setting terbatas sedangkan Makmum diangkat dari sudut padang cerita horor yang menarik. Tema mati suri dan berlatar sebuah sekolah dan asrama sudah sangat umum. Apa lagi yang mau ditawarkan? Film ini bicara tentang seseorang yang mencoba untuk memahami situasinya yang aneh pasca mati suri, namun proses ini  tidak dieksplor secara mendalam, sehingga value yang punya potensi menarik menjadi kurang greget.

Baca Juga  Catatan Laskar Pelangi

Plot film yang mencoba memadukan unsur horor dan komedi terasa begitu tanggung. Plot roman yang coba disisipkan pun juga kurang mengena. Masalah utamanya terletak pada casting yang tanggung pula. Bintang populer memang menarik pasar, namun karakter dan akting yang lemah membuat penonton sulit bersimpati dan masuk pada sang tokoh. Tak hanya itu. Sejak awal visualisasi adegan yang memberi kesan kurang masuk akal pun membuat pertanyaan. Ketika Sinea akhirnya “hidup” kembali dan pulang ke lingkungan asrama, lantas di mana keluarganya? Setidaknya adegan awal mampu dibuat lebih elegan dengan latar karakter yang memadai.

Konflik cerita yang kasusnya terus berulang secara bertubi-tubi dan tak wajar, rasanya juga sulit membuat kita bersimpati pada situasi yang dihadapi sang tokoh. Belum selesai satu kasus, sudah muncul kasus berikutnya. Suasana bukan bertambah mencekam tapi tone-nya masih datar-datar saja. Dengan beragam trik horor yang digunakan, sebenarnya sang sineas mampu mencuri perhatian penonton. Namun, film horor tak hanya bicara soal teror tapi juga bagaimana teror itu melekat pada balutan kausalitas cerita, bukan penggalan-penggalan aksi teror semata.

PENILAIAN KAMI
Overall
50 %
Artikel SebelumnyaMekah I’m Coming
Artikel BerikutnyaBloodshot
Agustinus Dwi Nugroho
Agustinus Dwi Nugroho lahir di Temanggung pada 27 Agustus 1990. Ia menempuh pendidikan Program Studi Film sejak tahun 2008 di sebuah akademi komunikasi di Yogyakarta. Di sinilah, ia mulai mengenal lebih dalam soal film, baik dari sisi kajian maupun produksi. Semasa kuliah aktif dalam produksi film pendek baik dokumenter maupun fiksi. Ia juga lulus dengan predikat cum laude serta menjadi lulusan terbaik. Ia mulai masuk Komunitas Film Montase pada tahun 2008, yang kala itu masih fokus pada bidang apresiasi film melalui Buletin Montase, yang saat ini telah berganti menjadi website montasefilm.com. Sejak saat itu, ia mulai aktif menulis ulasan dan artikel film hingga kini. Setelah lulus, ia melanjutkan program sarjana di Jurusan Ilmu Komunikasi di salah satu perguruan tinggi swasta di Jogja. Penelitian tugas akhirnya mengambil tema tentang Sinema Neorealisme dan membandingkan film produksi lokal yang bertema sejenis. Tahun 2017, Ia menyelesaikan studi magisternya di Program Pascasarjana Jurusan Pengkajian Seni di Institut Seni Indonesia (ISI) Yogyakarta dengan minat utama film. Penelitian tesisnya terkait dengan kajian narasi dan plot sebuah film. Saat ini, ia tercatat sebagai salah satu staf pengajar di Program Studi Film dan Televisi, ISI Yogyakarta mengampu mata kuliah teori, sejarah, serta kajian film. Ia juga aktif memberikan pelatihan, kuliah umum, seminar di beberapa kampus, serta menjadi pemakalah dalam konferensi Internasional. Biodata lengkap bisa dilihat dalam situs montase.org.

2 TANGGAPAN

  1. saya udah punya novel aku tahu kapan kamu mati disitu saya lihat ada perbedaan antara film dan novel, di novel ria ricis mati duluan sedangkan al ghazali hidup, ketika difilm kok al ghazali mati duluan sedangkan ria ricis mati terakhir

    • Terima Kasih atas tanggapannya. Adaptasi dari novel ke film, bisa saja mengubah alur cerita bahkan peran dari karakternya. Hal ini tergantung dari interpretasi dan eksplorasi yang dilakukan oleh penulis naskah dan sutradara filmnya. Perubahan tersebut biasanya memiliki memiliki motif tertentu. Dalam konteks film “Aku Tahu kapan Kamu Mati”, mengapa karakter Al Ghazali terlebih dulu meninggal daripada Ria Ricis, menurut saya ada alasan dan motif tertentu. Alasan pertama terkait dengan motif cerita, sang sineas ingin lebih menunjukkan relasi tokoh utama (Natasha Wilona) dengan sahabat dekatnya, ketimbang dengan pujaan hatinya. Efek dramatis yang ingin dicapai adalah, bagaimana jika akhirnya sahabat terdekatnya yang akan meninggal. Selain itu, alasan kedua terkait dengan popularitas dari sosok Ria Ricis yang punya banyak follower tentu akan menarik banyaknya penonton. Tokoh ini tentu tidak akan hilang di awal atau di tengah cerita.

BERIKAN TANGGAPANMU

Silahkan berikan tanggapan anda
Silahkan masukan nama anda disini

This site uses Akismet to reduce spam. Learn how your comment data is processed.