Sineas kawakan asal Korea, Park Chan-wook merilis film terbarunya Decision to Leave yang telah meraih kandidat Palme d’Or dan sutradara terbaik di Cannes Film Festival bulan Mei lalu. Bagi yang sudah mengenal sang sineas, ia telah memproduksi film-film berkualitas tinggi, antara lain JSA, Thirst, Oldboy, dan The Handmaiden. Chan-wook kini masih lekat dengan stempel sinematiknya melalui film terbarunya yang dibintangi aktris Tiongkok, Tang Wei, serta Pak Hae-il, Lee Jung-hyun, serta Yung Ji-seo. Seberapa istimewakah karyanya kini?

Detektif Hae Jun (Hae-il) menyelidiki satu kasus pembunuhan yang diduga melibatkan sang istri, Seo-rae (Wen) yang merupakan orang Tiongkok. Alhasil, Hae-jun mengawasi Seo-rae siang malam dan tanpa diduga ia pun jatuh hati, padahal ia telah memiliki istri. Affair pun terjadi. Semakin dekat dengan Seo-rae, investigasi Hae-jun justru mengarah bahwa sang istri adalah sang pembunuh. Situasi semakin rumit, Seo-rae yang kembali menikah kembali menjadi tersangka kerena suami keduanya pun tewas secara misterius.

Kisahnya masih tak jauh dari tema lama Chan-wook, hubungan terlarang dan pahit getirnya cinta, namun kini adalah kemasan estetiknya yang membuat Decision to Leave begitu istimewa. Kisah yang sebenarnya sederhana dikemas demikian rumit hingga kita pun seolah tak mengenal batas ruang dan waktu. Cinta memang rumit dan serba membingungkan, ini rasanya yang ingin digambarkan Chan-wook melalui gaya visualnya. Ending-nya dijamin membuat shock, menutup kisahnya dengan sempurna, tak jauh beda dari film-film sebelumnya. Satu “kelemahan” kecil hanyalah kisahnya yang dikemas rumit dan tempo alur plot yang cepat, kadang membuat kita yang menonton kadang kehilangan momen dan petilan info yang penting. Rasanya butuh menonton dua kali untuk mendapatkan pemahaman yang komplit.

Baca Juga  47 Meters Down

Semua elemen sinematiknya bekerja sempurna di sini dalam mendukung plotnya. Elemen editing menjadi faktor utama yang membangun tempo plotnya yang cepat, dan seringkali disajikan secara estetik melalui graphic match yang menawan. Editing pula yang memotong waktu cerita menjadi ringkas seolah kita dialihkan ke adegan berikutnya, padahal berjeda lama. Wook begitu terampil mempermainkan kita, layaknya Seo-rae mempermainkan hati Hae-jun, atau sebaliknya. Lalu sisi sinematografi plus setting yang seringkali mengambil sudut pandang yang unik menghiasi nyaris semua scene-nya. Sebuah adegan ketika sang detektif membayangkan skenario pembunuhan adalah salah satu segmen terbaiknya. Pamungkasnya tentu adalah penampilan dua bintangnya, khususnya Tang -Wei yang bermain sangat brilian sebagai istri yang misterius. Entah bagaimana, jika sosok Seo-rae muncul dalam adegan, ada karisma unik (misteri) yang sulit terjelaskan, bak sosok antagonis dan protagonis memadu secara utuh. Jarang sekali kita merasakan ini dalam sebuah film.

Decision to Leave dengan segala kemasan sinematiknya adalah Park Chan-wook dalam performa terbaiknya. Butuh waktu dan pemahaman tentang sang sineas lebih jauh untuk bisa memahami Decision to Leave lebih dalam. Semua filmnya sulit untuk bisa dilupakan karena stempelnya yang membekas kuat. Tidak semua sineas mampu mencapai level brilian semacam ini yang memadukan sisi art dan entertainment secara sempurna. Bersama Bong Joon-ho, Park Chan-wook adalah para sineas terbaik di dunia asal Korea Selatan yang dimiliki medium film saat ini.

1
2
PENILAIAN KAMI
Overall
90 %
Artikel SebelumnyaPersuasion
Artikel BerikutnyaPertaruhan: The Series
A lifelong cinephile, he cultivated a deep interest in film from a young age. Following his architectural studies, he embarked on an independent exploration of film theory and history. His passion for cinema manifested in 2006 when he began writing articles and film reviews. This extensive experience subsequently led him to a teaching position at the esteemed Television and Film Academy in Yogyakarta. From 2003 to 2019, he enriched the minds of students by instructing them in Film History, Introduction to Film Art, and Film Theory. His scholarly pursuits extended beyond the classroom. In 2008, he published his seminal work, "Understanding Film," which delves into the core elements of film, both narrative and cinematic. The book's enduring value is evidenced by its second edition, released in 2018, which has become a cornerstone reference for film and communication academics across Indonesia. His contributions extend beyond his own authorship. He actively participated in the compilation of the Montase Film Bulletin Compilation Book Volumes 1-3 and "30 Best Selling Indonesian Films 2012-2018." Further solidifying his expertise, he authored both "Horror Film Book: From Caligari to Hereditary" (2023) and "Indonesian Horror Film: Rising from the Grave" (2023). His passion for film extends to the present day. He continues to provide insightful critiques of contemporary films on montasefilm.com, while actively participating in film production endeavors with the Montase Film Community. His own short films have garnered critical acclaim at numerous festivals, both domestically and internationally. Recognizing his exceptional talent, the 2022 Indonesian Film Festival shortlisted his writing for Best Film Criticism (Top 15). His dedication to the field continues, as he currently serves as a practitioner-lecturer for Film Criticism and Film Theory courses at the Yogyakarta Indonesian Institute of the Arts' Independent Practitioner Program.

BERIKAN TANGGAPANMU

Silahkan berikan tanggapan anda
Silahkan masukan nama anda disini

Situs ini menggunakan Akismet untuk mengurangi spam. Pelajari bagaimana data komentar Anda diproses.