Pada suatu masa dengan sepotong kecil cerita kehidupan, para peminjam uang yang ditolak oleh bank tak punya pilihan lain kecuali mendatangi seorang rentenir. Adalah garis besar cara orang-orang bermain-main dengan “uang” menurut pandangan Asun Mawardi, sutradara yang mengarahkan Once Upon a Time in Indonesia. Pengerjaan skenario film ini ia lakukan secara tandem bersama Matthew Ryan Fischer, partnernya sejak pembuatan Pirate Brothers (2011) dan #66 (2015). Film bergenre drama aksi kriminal produksi RA Pictures dan Creative Motion Pictures ini diperankan oleh sederet nama baru dalam panggung perfilman Tanah Air, yakni Franki Darmawan, Maria Parkis, Djaitov Tigor, J Ryan Karsten, Rendy Septino, dan Ryana Dea. Mempertimbangkan nama-nama baru sebagai para pengisi peran tersebut, sejauh mana keberanian sineas film ini sebenarnya?

Orang-orang yang mengedepankan kebutuhan hidupnya terhadap nominal keuangan mulai tergiur pada iming-iming kemudahan peminjaman dari rentenir. Kendati pada saat yang sama, mereka pun tahu risiko bila telat melunasi bahkan tak mampu membayar sama sekali. Di atas prevalensi berutang-piutang inilah Ruel (J Ryan Karsten) bermain. Seorang bos lintah darat dengan banyak anak buah, dibantu Dave (Rendy Septino) sebagai kepala pencopet, dan Kay (Ryana Dea) si penagih utang yang punya utang budi terhadap Ruel. Kekuasan Ruel terhadap bisnis perutangan tampak tak tergoyahkan. Tak terkecuali bagi keluarga kecil Max (Franki Darmawan), Misha (Maria Parkis) –adik Max, dan Leo (Djaitov Tigor) –suami Misha, yang sebenarnya sangat menentang cara-cara kelompok Ruel bermain-main dengan uang. Tetapi dendam warisan yang turut andil pun malah memperkeruh suasana konfrontasi di antara mereka.

Ada bagian-bagian yang bisa tertebak dan ada yang tidak. Di separuh akhir Once Upon a Time in Indonesia, tokoh-tokoh yang nantinya akan terlibat dalam klimaks cerita sudah bisa diperkirakan. Namun, mengingat ini adalah film aksi, yang tak bisa ditebak adalah siapakah yang hidup dan tokoh mana yang ‘dimatikan’. Aspek lain yang umumnya ada dalam film aksi adalah faktor balas dendam. Variasi yang diberikan adalah pada pemicunya, yakni untuk siapakah pembalasan tersebut. Beberapa adalah dendam kesumat yang terpendam sejak kecil, karena melihat perlakuan orang lain kepada orang tua sendiri –semacam dendam yang diwariskan; ada pula dimotivasi oleh balas budi; membalas perlakuan buruk karena sudah mengganggu anggota keluarga (selain orang tua); atau solidaritas persahabatan.

Hal lumrah lain yang kerap kali didapatkan dari sebuah film aksi adalah kualitas naratif yang alakadarnya. Film aksi, meski punya embel-embel genre drama sekalipun, lebih sering menitikberatkan kontennya pada intensitas perkelahian. Nyaris tak ada yang masih bisa memuaskan dari segi penceritaannya. Memang hanya ada tiga pilihan bila seseorang ingin membuat film drama aksi, antara mengedepankan keseruan adegan pertarungan dan mengesampingkan penceritaan, mengisi kisah drama dengan penyelesaian masalah lewat perkelahian, atau mengangkat drama dan aksi sekaligus melalui cara instan –penggunaan senjata api.

Kendati beberapa kasus dapat menyajikan keduanya sekaligus, yakni penceritaan yang masih dapat dinikmati melalui drama dan pertarungan seru melalui aksi, bahkan tanpa mengandalkan senjata api. Namun rasanya hal ini hanya bisa dilakukan pada ide cerita tertentu, serta keberanian sang sineas tentunya. Bukan berarti adegan aksi tanpa senjata api atau hanya murni beradu seni bela diri itu selalu dijamin bagus, seperti The Raid yang booming pada masanya. Bila tak ada latar belakang yang jelas seperti konsistensi di sepanjang film, keterbatasan senjata, hingga memang secara jelas merupakan pilihan para tokohnya sendiri, penggunaan konsep semacam itu malah akan jadi bumerang.

Baca Juga  Jembatan Pensil

Walau apa yang dilakukan oleh film ini mengenai keseimbangan drama dan aksinya patut dibanggakan tapi tetap saja ada yang mengganjal dan menjadi bahan pertanyaan. Seperti logika kepemilikan harta Leo dan Misha. Keduanya di ambang keputusasaan sampai terpaksa berutang demi tagihan biaya rumah sakit, padahal masih punya rumah besar dan mobil. Juga kondisi ekonomi Max yang langsung terpuruk usai dipecat, padahal mestinya ia masih dapat pesangon atau setidaknya punya tabungan, karena bekerja di sebuah bank yang notabene bagian dari BUMN. Dramatisasi “kesialan”-nya dikejar, tapi malah mengabaikan keberadaan hal-hal kecil di belakangnya.

Tema “once upon a time” sendiri telah jadi barang pasaran sekarang. Banyak sineas telah memanfaatkan tema ini untuk menceritakan kisah-kisah undercover, tak terjamah oleh pengetahuan publik, cerita dari masa lalu, hingga mengangkat isu khusus yang sudah jadi pengetahuan umum karena seolah-olah dilupakan. Titik tolaknya bermacam-macam, ada yang dari raksasa studio film, fenomena masyarakat, atau tentang sebuah daerah –mulai dari provinsi sampai negara. Tak melulu soal kisah klasik masa lalu dari sesuatu yang saat ini telah punya nama besar karena mengambil potongan kecil dari persoalan tertentu dalam kehidupan pun nyatanya ada.

Once Upon a Time in Indonesia terbilang cukup berani menggunakan adegan aksi tanpa senjata api. Hanya ada aksi baku hantam antarfisik, kemampuan bela diri, senjata tajam biasa, serta benda-benda yang ada di sekitar tempat perkelahian. Sama sekali tak ada senjata api, sebagaimana telah sangat umum dijumpai pada kebanyakan film aksi selama ini. Bahkan The Raid yang begitu terkenal pada masanya dengan ilmu bela diri silat, tetap mengandung adegan tembak-menembak. Sekuelnya tak jauh berbeda. Hit & Run, film aksi yang muncul saat momen lebaran tahun lalu pun demikian.

Keberanian sineas Once Upon a Time in Indonesia tak cuma soal konsep adegan pertarungan tapi betapa pemain dalam filmnya pun adalah para pendatang baru. Tentu saja ada konsekuensi dari ini. Salah satunya jelas, pembawaan karakter dari masing-masing tokoh yang masih kaku, termasuk cara-cara mereka berdialog. Kata-kata yang digunakan pun tak konsisten; kadang formal, kadang tidak; kadang memakai prokem atau kosakata bahasa gaul khas Jakarta, kadang baku.

Keberanian yang tak diimbangi dengan nalar konsistensi dialog adalah kelemahan Once Upon a Time in Indonesia, di balik konsep adegan aksi adu ketangguhan fisik dan kehadiran nama-nama baru. Satu sisi dapat dianggap alternatif, tapi di sisi lain bisa jadi bom bunuh diri. Ibarat kata, keberanian film ini adalah pisau bermata dua. Walhasil banyak unsur dalam Once Upon a Time in Indonesia dipaksakan harus memukau, karena belum memungkinkan memaksa para pemeran baru agar terdengar, terlihat, dan terasa se-natural mungkin saat membawakan dialog beserta karakteristik tokoh masing-masing.

PENILAIAN KAMI
Overall
65 %
Artikel SebelumnyaRun
Artikel BerikutnyaPawn
Miftachul Arifin lahir di Kediri pada 9 November 1996. Pernah aktif mengikuti organisasi tingkat institut, yaitu Lembaga Pers Mahasiswa Pressisi (2015-2021) di Institut Seni Indonesia Yogyakarta, juga turut andil menjadi salah satu penulis dan editor dalam media cetak Majalah Art Effect, Buletin Kontemporer, dan Zine K-Louder, serta media daring lpmpressisi.com. Pernah pula menjadi kontributor terpilih kategori cerpen lomba Sayembara Goresan Pena oleh Jendela Sastra Indonesia (2017), Juara Harapan 1 lomba Kepenulisan Cerita Pendek oleh Ikatan Penulis Mahasiswa Al Khoziny (2018), Penulis Terpilih lomba Cipta Puisi 2018 Tingkat Nasional oleh Sualla Media (2018), dan menjadi Juara Utama lomba Short Story And Photography Contest oleh Kamadhis UGM (2018). Memiliki buku novel bergenre fantasi dengan judul Mansheviora: Semesta Alterna􀆟f yang diterbitkan secara selfpublishing. Selain itu, juga menjadi salah seorang penulis top tier dalam situs web populer bertema umum serta teknologi, yakni selasar.com dan lockhartlondon.com, yang telah berjalan selama lebih-kurang satu tahun (2020-2021). Latar belakangnya dari bidang film dan minatnya dalam bidang kepenulisan, menjadi motivasi dan alasannya untuk bergabung dengan Komunitas Film Montase sejak tahun 2019. Semenjak menjadi bagian Komunitas Film Montase, telah aktif menulis hingga puluhan ulasan Film Indonesia dalam situs web montasefilm.com. Prestasi besar terakhirnya adalah menjadi nominator Festival Film Indonesia 2021 untuk kategori Kritikus Film Terbaik melalui artikel "Asih, Cermin Horor Indonesia Kontemporer" bersama rekan penulisnya, Agustinus Dwi Nugroho.

BERIKAN TANGGAPANMU

Silahkan berikan tanggapan anda
Silahkan masukan nama anda disini

Situs ini menggunakan Akismet untuk mengurangi spam. Pelajari bagaimana data komentar Anda diproses.