Setelah sukses dengan film horor Pengabdi Setan (2017), sang sineas Joko Anwar merilis sekuelnya, Pengabdi Setan: Communion, bersama rumah produksi Brown Entertainment, Legacy  Pictures, dan Come and See Pictures. Film ini masih dibintangi oleh Tara Basro, Endy Arfian, Nasar Anuz, dan Bront Palarae. Akankah film ini bakal booming seperti sebelumnya hingga mencapai 4 juta penonton? Melihat potensi film dan tren pasar, rasanya bisa mencapai angka tersebut atau bahkan bisa lebih. Kita lihat saja.

Kisahnya masih berkutat pada Rini (Tara Basro), Toni (Endy Arfian) Bondi (Nasar Anuz), dan ayah mereka (Bront Palarae), yang kini tinggal di rumah susun berlantai 14 yang lokasinya terisolir. Di luar problema masing-masing karakternya, mereka tidak menyadari peristiwa besar yang akan terjadi malam itu. Kecelakaan lift mengerikan menewaskan belasan orang di rusun tersebut. Suasana rusun mendadak menjadi mencekam ditambah badai besar yang mengurung penghuninya. Kejadian ini rupanya tidak kebetulan dan terkait dengan masa lalu kelam keluarga Rini dengan kemunculan kembali sosok sang ibu.

Melanjutkan kisah sebelumnya, plot film ini berlatar cerita era 1980-an. Segmen pembuka di Lembang, dijamin akan mampu membuat penonton shock dengan pemandangan yang begitu mengerikan. Dengan cerdik sang sineas melalui opening credit yang diiringi musik lawas, serta adegan perjalanan Rini pulang ke rumah secara efektif (setting) menggambarkan situasi sosial kala itu dan mampu membangun mood untuk masuk ke kisah filmnya. Plot film sebelumnya yang terfokus lokasinya di sebuah rumah tua, kali ini berpindah ke rumah susun belasan tingkat dengan ratusan kamar.

Secara efektif, sejak awal konflik cerita mampu diarahkan ke satu setting besar megah yang terjadi hanya semalam. Satu adegan kecelakan lift yang dibangun begitu intens berujung pada pengelompokan ruang dengan sosok-sosok jenasah yang disemayamkan di sana. Situasi mati listrik serta badai (banjir) makin menambah atmosfir lebih mencekam. Ini adalah satu situasi ideal yang diidamkan para pembuat film horor. Teror demi teror dengan berbagai trik horor disajikan dengan sangat baik memanfaatkan ruang demi ruang dan tiap karakter demi karakter. Film ini boleh dibilang adalah salah satu yang terbaik untuk genrenya.

Baca Juga  My Stupid Boss 2

Intensitas suasana horor dan mencekam di filmnya secara intens bisa terbangun dengan baik melalui setting terbatas dan pengolahan trik horornya. Jumpscare-nya dibangun secara efektif menggunakan beragam teknik dengan memanfaatkan setting, properti, pengambilan gambar, pencahayaan, serta editing yang mampu membuat penonton menahan nafas sejenak. Teknik sederhana dengan hanya bermain-main dengan sebatang korek api mampu membuat ketegangan maksimal. Satu adegan dengan pergerakan kamera panjang yang menyusuri ruang demi ruang, diiringi lagu Rayuan Pulau Kelapa (penutup siaran TVRI era tersebut) mampu memberi efek luar biasa menakutkan bagi penonton.

Diluar aksi penuh teror, penyisipan plot investigasi turut membangun sisi misteri. Tiga kelompok karakter (Rini, Toni, dan Bondi) berjalan terpisah yang secara “tidak sengaja” mendapatkan informasi demi informasi yang membuka misteri tabir rahasia keluarga mereka. Beberapa poin memang terasa sekali dipaksakan, seperti ruang terkunci yang dipaksa untuk dibuka, dinding yang dijebol, serta beberapa kejanggalan aneh lainnya. Namun, intensitas horornya yang terbangun baik, membuat kita secara tidak sadar menolerir itu semua.

Joko Anwar kembali mampu menunjukkan kelasnya untuk memproduksi film horor yang bisa dibilang fresh. Sang sineas masih menyembunyikan banyak informasi yang berujung banyak pertanyaan yang belum bisa terjawab tuntas yang mengisyaratkan kisah lanjutannya. Satu horor berkualitas ini mampu menjadi contoh bagi film-film horor nasional untuk bisa bereksplorasi berbagai cerita maupun penyajian unsur horor yang khas. Sinema kita memiliki potensi dengan unsur-unsur horor lokal yang bisa disajikan dengan pendekatan ruang cerita serta bangunan plot yang bagus.

PENILAIAN KAMI
Overall
90 %
Artikel SebelumnyaParadise Highway
Artikel BerikutnyaPrey
Agustinus Dwi Nugroho lahir di Temanggung pada 27 Agustus 1990. Ia menempuh pendidikan Program Studi Film sejak tahun 2008 di sebuah akademi komunikasi di Yogyakarta. Di sinilah, ia mulai mengenal lebih dalam soal film, baik dari sisi kajian maupun produksi. Semasa kuliah aktif dalam produksi film pendek baik dokumenter maupun fiksi. Ia juga lulus dengan predikat cum laude serta menjadi lulusan terbaik. Ia mulai masuk Komunitas Film Montase pada tahun 2008, yang kala itu masih fokus pada bidang apresiasi film melalui Buletin Montase, yang saat ini telah berganti menjadi website montasefilm.com. Sejak saat itu, ia mulai aktif menulis ulasan dan artikel film hingga kini. Setelah lulus, ia melanjutkan program sarjana di Jurusan Ilmu Komunikasi di salah satu perguruan tinggi swasta di Jogja. Penelitian tugas akhirnya mengambil tema tentang Sinema Neorealisme dan membandingkan film produksi lokal yang bertema sejenis. Tahun 2017, Ia menyelesaikan studi magisternya di Program Pascasarjana Jurusan Pengkajian Seni di Institut Seni Indonesia (ISI) Yogyakarta dengan minat utama film. Penelitian tesisnya terkait dengan kajian narasi dan plot sebuah film. Saat ini, ia tercatat sebagai salah satu staf pengajar di Program Studi Film dan Televisi, ISI Yogyakarta mengampu mata kuliah teori, sejarah, serta kajian film. Ia juga aktif memberikan pelatihan, kuliah umum, seminar di beberapa kampus, serta menjadi pemakalah dalam konferensi Internasional. Biodata lengkap bisa dilihat dalam situs montase.org. Prestasi besar terakhirnya adalah menjadi nominator Festival Film Indonesia 2021 untuk kategori Kritikus Film Terbaik melalui artikel "Asih, Cermin Horor Indonesia Kontemporer" bersama rekan penulisnya, Miftachul Arifin.

BERIKAN TANGGAPANMU

Silahkan berikan tanggapan anda
Silahkan masukan nama anda disini

Situs ini menggunakan Akismet untuk mengurangi spam. Pelajari bagaimana data komentar Anda diproses.