Sukses Doctor Strange 2 masih terasa gaungnya, Marvel Cinematic Universe (MCU) kini sudah merilis lagi Thor: Love and Thunder. Sekuel ketiga Thor ini tercatat merupakan film ke-29 dari MCU. Sang produser, Kevin Feige rupanya masih mempercayakan Taiki Waititi sebagai sutradara setelah sukses kritik dan komesial Thor: Ragnarok (2017). Love and Thunder masih dibintangi regulernya, Chris Hemsworth, Natalie Portman, Tessa Thompson, Jaimie Alexander, serta pendatang baru aktor-aktor besar, Christian Bale dan Russel Crowe. Dengan gaya humornya yang sudah kita kenal betul, seberapa jauhkah kini Waititi bermain-main dengan Thor 3?

Plotnya terkoneksi langsung dengan akhir peristiwa Avengers: Endgame, di mana dikisahkan Thor (Hemsworth) dan The Guardian of the Galaxy menerima panggilan permintaan bantuan dari segala penjuru semesta. Thor pun berpisah setelah mendapat penglihatan rekan lamanya, Lady Siff yang tengah dalam bahaya. Thor mendapat info bahwa satu sosok jahat penjagal dewa bernama Gorr (Bale) kini mengincar Asgard (Bumi) dan ia pun bergegas ke sana. Tak hanya Gorr yang ia temui di sana, namun adalah mantannya, Jane Foster(Portman), yang entah bagaimana kini mampu mengangkat Mjolnir dan menjadi sosok super layaknya Thor.

Tentu saja, perhatian sebagian fans/pengamat bukan pada kisahnya, namun adalah Taika Waititi. Setelah sentuhan khasnya membawa Ragnarok menjadi sesuatu yang segar dan enerjik, kini Waititi mampu membawa Love and Thunder lebih jauh lagi dengan selera humornya. Nyaris tak ada satu adegan yang tak mampu memancing tawa kita. Humornya yang didominasi oleh dialog berupa celotehan konyol, dipicu termasuk oleh sang sineas sendiri yang mengisi suara Korg, si manusia batu. Sang sineas yang juga turut menulis naskahnya, begitu terampil dan cerdas dalam mengolah selipan humor pada aksi dan dialognya sehingga tidak memaksa dan repetitif, bahkan sesekali mengambil tribute dari film lain, termasuk Gladiator yang dimainkan Russel Crowe. Satu hal yang saya takutkan, sisi humor berlebihan bakal melemahkan kisahnya, tak pernah terjadi, walau harus diakui sisi humor memang membuatnya kisahnya ringan dan mudah diantisipasi.

Baca Juga  The Avengers

Satu hal yang baru dari sisi narasi (MCU) adalah skala ceritanya yang kini memasuki ranah dewa. Selain Thor, Eternals dan Moon Knight juga memiliki ranah mitologi yang sama. Kita lebih jauh dibawa ke tempat di mana para dewa berkumpul dari seluruh penjuru semesta. Semesta yang selama ini seolah sudah kita kenal betul, nyatanya kini, kita tak tahu apa pun tentang segala sesuatunya. Bahkan dewa mitologi Yunani, Zeus (Crowe), ternyata adalah bagian dari semesta ini. Entah bagaimana besok para penulis MCU mengeksplorasi naskahnya dengan skala yang begitu luas semacam ini. Thanos seolah kerikil kecil dibandingkan mereka, dan ke mana pula para dewa besar ini sewaktu peristiwa jentikan jari Thanos terjadi? Entahlah, sesuatu seperti ada yang hilang dan belum terjelaskan.

Thor: Love and Thunder memiliki sentuhan energik sang sineas, baik secara estetik maupun narasi semesta sinematiknya. Eksplorasi narasi MCU dan kontinuitinya di masa datang, jelas bukan masalah bagi Love and Thunder, jelas bukan pula bagi Waititi. Sang sineas terbukti mampu mengemas film ini menjadi sesuatu yang sangat menghibur fansnya plus beberapa nomor musik yang akrab di telinga generasi 1980-an dan 1990-an. Tercatat Love and Thunder adalah film MCU ter-komedi di antara lainnya. Hebatnya, bukan berarti dominasi humor lantas mengabaikan kedalaman pesannya. Love and Thunder memiliki sesuatu yang tidak bisa dianggap remeh. Resolusi hubungan antara Thor dan Jane disajikan manis. Pun demikian dengan sosok antagonisnya. Walau bukan peran terbaiknya, Bale dengan memikat mampu membawakan Gorr dengan sosok karakternya yang terluka begitu mendalam. Bale dan Crowe memang mencuri perhatian dari semua kastingnya, namun pemenangnya adalah sang sineas, Taika Waititi.

1
2
PENILAIAN KAMI
Overall
90 %
Artikel SebelumnyaThe Man from Toronto
Artikel BerikutnyaThe Black Phone
Hobinya menonton film sejak kecil dan mendalami teori dan sejarah film secara otodidak setelah lulus dari studi arsitektur. Ia mulai menulis artikel dan mengulas film sejak tahun 2006. Karena pengalamannya, penulis ditarik menjadi staf pengajar di Akademi Televisi dan Film swasta di Yogyakarta untuk mengajar Sejarah Film, Pengantar Seni Film, dan Teori Film sejak tahun 2003 hingga tahun 2019. Buku film debutnya adalah Memahami Film (2008) yang memilah seni film sebagai naratif dan sinematik. Buku edisi kedua Memahami Film terbit pada tahun 2018. Buku ini menjadi referensi favorit bagi para akademisi film dan komunikasi di seluruh Indonesia. Ia juga terlibat dalam penulisan Buku Kompilasi Buletin Film Montase Vol. 1-3 serta 30 Film Indonesia Terlaris 2012-2018. Ia juga menulis Buku Film Horor: Dari Caligari ke Hereditary (2023) serta Film Horor Indonesia: Bangkit Dari Kubur (2023). Hingga kini, ia masih menulis ulasan film-film terbaru di montasefilm.com dan terlibat dalam semua produksi film di Komunitas Film Montase. Film- film pendek arahannya banyak mendapat apresiasi tinggi di banyak festival, baik lokal maupun internasional. Baru lalu, tulisannya masuk dalam shortlist (15 besar) Kritik Film Terbaik dalam Festival Film Indonesia 2022. Sejak tahun 2022 hingga kini, ia juga menjadi pengajar praktisi untuk Mata Kuliah Kritik Film dan Teori Film di Institut Seni Indonesia Yogyakarta dalam Program Praktisi Mandiri.

2 TANGGAPAN

BERIKAN TANGGAPANMU

Silahkan berikan tanggapan anda
Silahkan masukan nama anda disini

Situs ini menggunakan Akismet untuk mengurangi spam. Pelajari bagaimana data komentar Anda diproses.