Aktivitas perfilman di Malang, Jawa Timur, tidak dapat lepas dari peran para penggerak acara-acara seperti festival dan semacamnya. Banyak di antaranya turut pula menjadi bagian adalah komunitas-komunitas film, terutama yang datang dari latar belakang kampus. Sineas Merdeka (Sinedek) merupakan salah satunya. Melalui Muhammad Zidan selaku Ketua Umum Sinedek saat ini dengan Edward Ruru sebagai kepala divisi humas, komunitas yang berbentuk Unit Kegiatan Mahasiswa (UKM) di Universitas Merdeka, Malang, ini membagikan cerita-cerita seputar geliat komunitas film mereka di sana.

Sebagaimana lazim pula komunitas atau organisasi film di kampus dalam bentuk UKM, keberadaan Sinedek mewadahi para mahasiswa dengan kesukaan mereka akan film itu sendiri. Meski tidak sepenuhnya, karena kerap kali keanggotaan dalam sebuah UKM berjalan dengan datang dan pergi. Namun, Sinedek masih bergerak dengan serangkaian kegiatannya. Termasuk secara aktif bersinergi dengan komunitas-komunitas lain, khususnya sesama UKM film di kampus-kampus yang berbeda.

Sinergisme dengan Sesama

Titik permulaan Sinedek saling berkolaborasi dengan komunitas-komunitas lain baru terjadi secara konkret pada sekitar bulan Oktober-November akhir tahun lalu (2023). Melalui pertemuan antara perwakilan dari Sinedek dan sejumlah komunitas lain serta atas inisiasi Arief Akhmad Yani, seorang Community Forum Program Director dari Jogja-Netpac Asian Film Festival (JAFF) yang secara kebetulan tengah berada di Malang, terbentuklah sebuah grup untuk mengumpulkan komunitas-komunitas film dengan kesamaan latar belakang (berbasis UKM) dari kampus-kampus di kota tersebut. Beberapa di antaranya adalah Nol Derajat Film (Nolder) dari Universitas Brawijaya (UB), Societo Sineklub dari FISIP UB, dan Kine Klub dari Universitas Muhammadiyah Malang.

“Di tahun-tahun sebelumnya, dari satu komunitas ke komunitas lain itu kita belum pernah ada forum atau apa pun itu yang membuat kita terkoneksi. Di akhir tahun lalu, sekitar bulan Oktober-November, kebetulan bertemu dengan mas Yani (JAFF –red). Kebetulan beliau juga asli Malang. Beliau menginisiasi untuk bagaimana kalau komunitas di Malang seperti Sinedek, Nolder, Societo, Kine Klub, dan sebagainya itu dibuatkan satu grup,” ungkap ketua yang akrab disapa Zidan.

Sinergisme antarkomunitas film sesama UKM dari berbagai perguruan tinggi di Malang ini bertujuan untuk memudahkan penyebaran informasi kegiatan dari dan ke setiap komunitas.

“Tujuan grup itu untuk menyebarkan informasi-informasi kegiatan dari setiap komunitas. Misalnya dari Sinedek mau mengadakan penayangan, teman-teman Sinedek bisa sharing informasi ke situ. Biar teman-teman komunitas yang lain bisa turut berkontribusi untuk menjadi peserta, atau bahkan kalau misalnya ada komunitas yang masih kesulitan mencari informasi penayangan di Malang, kelas-kelas perfilman di Malang. Nah, dengan adanya grup itu mereka jadi mendapatkan informasi lebih cepat dan valid. Itu yang sampai sekarang masih berjalan,” kata Zidan.

Baca Juga  Merekatkan Rumpun Melayu Lewat Kebudayaan dan Cinta Tak Pernah Tepat Waktu

“Kemarin-kemarin juga beberapa ada yang baru masuk, karena ada komunitas yang baru dibentuk, komunitas penayangan,“ imbuhnya.

Menuju Program Akbar di Penghujung Jabatan

Anggaran dana pada kenyataannya kerap menjadi faktor penting pula untuk setiap kegiatan UKM. Termasuk untuk keberlangsungan dua program kerja (proker) besar yang bakal direalisasikan oleh Sinedek dalam waktu dekat.

“Nah, kebetulan sekarang ini tersisa dua proker lagi yang membutuhkan dana besar, produksi bersama dan bakalan ada Merfis, Merdeka Film Screening. Nah, dua proker ini aku petakan menggunakan dana kampus,” tutur Ketua Umum Sinedek saat ini.

Merfis pun menjadi sebuah cikal bakal pesta film Sinedek yang diniatkan agar kelak menjadi festival film. Namun, untuk saat ini, baik Ketua Umum Sinedek maupun kepala divisi humasnya merencanakan bahwa Merfis tahun ini adalah festival kecil-kecilan terlebih dulu.

“Bisa dibilang mini festival,” menurut kepala divisi humas yang sering dipanggil Edo.

“Kebetulan ini juga di tahun pertama. Dan kebetulan ini salah satu visi-misi aku ketika mencalonkan sebagai ketua umum. Jadi aku mau kita ada hal baru lah di Sinedek. Karena Sinedek penayangannya cuma satu kalau tahun lalu. Cuma Cangkem, Cangkruk Film. Nah aku mau menambah penayangan yang value-nya lebih meningkat lah, skalanya lebih besar dari Cangkem, dari sebelumnya,” ungkap Zidan menambahkan anggapan dari humasnya sekaligus menjabarkan secara ringkas salah satu tujuan Merfis.

Geliat komunitas film di daerah Malang terhadap ekosistem perfilman di sana berjalan beriringan dengan eskalasi animo khalayaknya sejak pascapandemi. Terbukti melalui keramaian membludak saat Sinedek mengadakan penayangan film-filmnya pada bulan Januari lalu. Rekan-rekan Sinedek tidak menduga akan itu ketika memilih lokasi dan menyangka akan cukup hanya dengan ruang yang ada. Namun, menurut kesaksian dari Zidan, saat registrasi memasuki waktu 30 menit sebelum film dimulai, massa ternyata membludak. Walhasil, tim panitia pun dengan cekatan mengambil kursi-kursi lain untuk menambah kapasitas ruangan. Kendati pada saat yang sama merasa tidak enak hati dengan pemilik lokasi penayangan tersebut.

Namun, berdasarkan peristiwa tersebut, Zidan dan Edo kemudian dapat menyimpulkan bahwa ketertarikan masyarakat terhadap kehadiran kegiatan perfilman yang menggeliat kembali pun mulai menunjukkan kenaikan sejak saat itu. Jadi secara tidak langsung, juga saling memengaruhi kegiatan perfilman setiap komunitas di sana. Tidak terkecuali Sineas Merdeka Malang yang akan menyelenggarakan festival kecil-kecilan mereka nanti. Walau pada saat yang sama, juga berupaya mencari jalan dalam memenuhi kebutuhan anggaran untuk menjalankan setiap program kerja dan serangkaian kegiatan dari yang kecil hingga berskala besar. Tidak semata berharap pada besaran dana dari kampus atau menanti kenaikan nominalnya.

Artikel SebelumnyaThe First Omen
Artikel Berikutnya3 Body Problem
Miftachul Arifin lahir di Kediri pada 9 November 1996. Pernah aktif mengikuti organisasi tingkat institut, yaitu Lembaga Pers Mahasiswa Pressisi (2015-2021) di Institut Seni Indonesia Yogyakarta, juga turut andil menjadi salah satu penulis dan editor dalam media cetak Majalah Art Effect, Buletin Kontemporer, dan Zine K-Louder, serta media daring lpmpressisi.com. Pernah pula menjadi kontributor terpilih kategori cerpen lomba Sayembara Goresan Pena oleh Jendela Sastra Indonesia (2017), Juara Harapan 1 lomba Kepenulisan Cerita Pendek oleh Ikatan Penulis Mahasiswa Al Khoziny (2018), Penulis Terpilih lomba Cipta Puisi 2018 Tingkat Nasional oleh Sualla Media (2018), dan menjadi Juara Utama lomba Short Story And Photography Contest oleh Kamadhis UGM (2018). Memiliki buku novel bergenre fantasi dengan judul Mansheviora: Semesta Alterna􀆟f yang diterbitkan secara selfpublishing. Selain itu, juga menjadi salah seorang penulis top tier dalam situs web populer bertema umum serta teknologi, yakni selasar.com dan lockhartlondon.com, yang telah berjalan selama lebih-kurang satu tahun (2020-2021). Latar belakangnya dari bidang film dan minatnya dalam bidang kepenulisan, menjadi motivasi dan alasannya untuk bergabung dengan Komunitas Film Montase sejak tahun 2019. Semenjak menjadi bagian Komunitas Film Montase, telah aktif menulis hingga puluhan ulasan Film Indonesia dalam situs web montasefilm.com. Prestasi besar terakhirnya adalah menjadi nominator Festival Film Indonesia 2021 untuk kategori Kritikus Film Terbaik melalui artikel "Asih, Cermin Horor Indonesia Kontemporer" bersama rekan penulisnya, Agustinus Dwi Nugroho.

BERIKAN TANGGAPANMU

Silahkan berikan tanggapan anda
Silahkan masukan nama anda disini

Situs ini menggunakan Akismet untuk mengurangi spam. Pelajari bagaimana data komentar Anda diproses.