Sultan Agung: Tahta, Perjuangan, Cinta (2018)
148 min|Action, Drama|23 Aug 2018
8.0Rating: 8.0 / 10 from 31 usersMetascore: N/A
N/A

Hanung Bramantyo yang kita kenal sebagai salah satu sutradara yang kerap menciptakan karya film bertema sejarah dan biografi, kali ini semakin membuktikan kualitasnya melalui film terbarunya, Sultan Agung: Tahta, Perjuangan, Cinta. Film ini mulai rilis di bioskop tanggal 23 Agustus 2018 lalu. Mooryati Soedibyo sebagai executive producer, mempersembahan film ini sebagai dedikasinya pada seni budaya dan sejarah bangsa Indonesia, di usianya yang ke-90 tahun.

Sultan Agung menceritakan tokoh Sultan Agung yang selama ini digambarkan sebagai sosok yang ambisius dan kejam dalam literatur Belanda. Salah satunya adalah karena keputusannya menyerang Batavia. Namun, dalam film ini, Hanung ingin menunjukan bahwa dibalik sosok ini, Sultan Agung memiliki banyak pergolakan batin yang sangat berat, dan yang ia lakukan hanyalah untuk kemajuan tanah Mataram, Sultan Agung ingin menunjukan bahwa rakyat Mataram adalah bangsa yang kuat dan tidak mau menjadi kacung VOC. Ini yang menjadi salah satu konflik film ini, selain konflik batin yang harus ia hadapi.

Sejak awal, film dibuka dengan sangat cantik melalui narasi sebagai pengantar yang menyajikan latar belakang sejarah kerajaan Mataram. Kisah film diawali ketika Raden Mas Rangsang yaitu Sultan Agung muda (Martiolio), hidup jauh dari Keraton dan menimba ilmu di sebuah padepokan. Di sana, ia jatuh hati pada Lembayung, salah satu putri Lurah dan berbaur menjadi rakyat jelata. Tidak semua yang bergelar bangsawan ingin memiliki kekuasaan. Namun, setelah ayahnya Panembahan Hanyokrowati wafat, Raden Mas Rangsang yang masih belia diangkat menjadi raja dan diberi gelar Sultan Agung Hanyakrakusuma serta harus kembali ke Keraton. Di sini letak konflik batin yang ia hadapi, terlebih harus meninggalkan Lembayung, perempuan yang ia cintai sementara ia harus mengemban beban berat sebagai raja. Setelah dewasa, dikisahkan makin banyak yang harus ia hadapi. Datangnya VOC, membuat Raden Mas Rangsang harus menghadapi banyak masalah dengan orang-orang didekatnya, yakni adu domba dan perang yang tidak ada habisnya, serta pula pergolakan batinnya sebagai pemimpin tanah Jawa sebagai  pengemban amanah keluarganya.

Baca Juga  Sinetron “Ketika Cinta Bertasbih 2”

Seluruh cerita tersaji tanpa tergesa-gesa dan tidak membosankan. Kisahnya tetap fokus pada konflik utama serta bumbu konflik kecil untuk menambah sisi dramatik cerita. Film ini dibintangi beberapa aktor dan aktris ternama, seperti Ario Bayu, Adinia Wirasti, Putri Marino, Lukman Sardi, Martinolio, Wikana, serta Asmara Abigail. Akting mereka secara keseluruhan memang perlu diacungi jempol. Tidak hanya itu, dialog Jawa yang dibawakan mereka dalam setiap adegan juga tampak natural bahkan hingga para peran pendukung pun mampu berbahasa Jawa dengan fasih. Dari segi gambar dan lihgting pun disajikan dengan begitu indah dengan latar belakang setting Jogjakarta. Pemilihan lagu dan ilustrasi musik yang menggunakan tembang berbahasa Jawa semakin membuat semakin merinding. Sisi artistik yang detail juga membuat segalanya semakin tampak matang. Sultan Agung memang terlihat sangat dipersiapkan dengan baik dari segala sisi.

Film yang mengangkat tema sejarah memang sarat pro dan kontra, tergantung dari mana sudut pandangnya. Namun, hadirnya Sultan Agung mampu mengingatkan bahwa negeri ini memiliki banyak tokoh ksatria yang rela mengorbankan apapun demi bangsa. Dengan hadirnya film ini pula, akan banyak memberi pemahaman dan pengetetahuan tentang budaya Jawa serta Kerajaan Mataram. Semoga film ini semakin membukakan mata anak bangsa bahwa Indonesia itu satu, dan untuk apa harus terpecah belah. Selamat Mas Hanung dan tim, selamat menonton!

WATCH TRAILER

PENILAIAN KAMI
Overall
80 %
Artikel SebelumnyaSearching
Artikel BerikutnyaRilis Bond 25 Bakal Mundur
Tia Sukma Sari
Tia Sukma Sari lahir di Salatiga 14 November 1994. Sekarang ia masih menempuh pendidikan di Institut Seni Indonesia Yogyakarta, Jurusan Film dan Televisi. Kesukaannya terhadap dunia baca dan menulis membuatnya memilih konsentrasi di penulisan naskah film fiksi. Ia cukup aktif menulis di tumblr-nya, dan sekarang mencoba untuk semakin rajin menulis ulasan film.

BERIKAN TANGGAPANMU

Silahkan berikan tanggapan anda
Silahkan masukan nama anda disini