The Spy Who Loved Me (1977)
125 min|Action, Adventure, Thriller|03 Aug 1977
7.0Rating: 7.0 / 10 from 116,240 usersMetascore: 55
James Bond investigates the hijacking of British and Russian submarines carrying nuclear warheads, with the help of a K.G.B. agent whose lover he killed.

Secara misterius dua kapal selam bermuatan nuklir milik AS dan Rusia hilang dan ini memancing perang dingin antar kedua negara termasuk negara-negara sekutu mereka. Rusia dan Inggris mengirimkan agen-agen terbaik mereka. Agen MI6, James Bond (Moore) dan agen KGB, Anya Asamova (Bach), awalnya saling berseteru namun mereka menjadi tim mengungkap dalang di balik semuanya. Penyelidikan mengarah pada bilyuner Curd Stromberg (Jürgens), yang memang ingin memancing perang dunia ketiga dan menciptakan dunia baru di bawah samudra. Bawahan Stromberg, Jaws (Kiel), seorang raksasa yang memiliki gigi besi, beberapa kali terlibat bentrok dengan Bond dan Anya.

Plot sejenis ini bukan hal baru lagi untuk film Bond, Your only Live Twice juga memiliki inti plot sama dan bahkan sineasnya pun sama, Lewis Gilbert. Gilbert terbukti sudah piawai menangani film berskala kolosal jenis ini. Kisahnya memang relatif ringan dan ending-nya mudah diantisipasi. Salah satu unsur pembeda adalah bumbu roman Bond dan Anya. Mereka berdua sama-sama cerdas, tangguh, tangkas, berani, serta sepadan dari banyak sisi namun ada usaha untuk membuat situasi tak terkontrol ketika Anya mengetahui bahwa Bond ternyata adalah orang yang membunuh kekasihnya (sekuen pembuka). Tema dan plotnya memang bukan keunggulan film ini dan semata hanya pengantar untuk mendukung aspek lain filmnya, yakni adegan aksi.

Baca Juga  James Bond Movies

Baik gadget Bond maupun adegan aksinya jauh melebihi Your Only Live Twice. Hal yang mencolok adalah mobil Lotus Esprit yang mampu beraksi di darat dan air. Sekuen aksi kejar-mengejar seru Bond versus motor, mobil, hingga helikopter ternyata hanya pembuka saja. Secara mengejutkan mobil ini ternyata mampu menyelam dalam air layaknya kapal selam, bahkan beraksi melawan para penyelam dan kapal selam mini milik Stromberg. Semuanya disajikan dengan sangat meyakinkan tanpa efek visual sama sekali. Sekuen aksi klimaks yang menjadi andalan Gilbert didominasi aksi tembak menembak, namun setting-nya yang besar dan megah (interior tanker) menjadikannya cukup istimewa.

The Spy Who Loved Me menggunakan formula yang terbukti banyak disukai penonton. Plot sederhana dan kolosal, aksi-aksi seru yang menawan, peralatan Bond super modern, setting yang megah, unsur humor, dan bumbu roman digunakan dalam film-film Bond berikutnya (Moonraker dan semua film Bond yang dibintangi Brosnan) dan terbukti semuanya sukses besar. Nuansa thriller spionase mulai meredup tergantikan oleh dominasi teknologi tinggi dan aksi namun bagaimanapun juga formula ini menjadi tradisi film-film Bond. The Spy Who Loved Me adalah satu contoh sempurna bagaimana genre spionase diperlakukan untuk dapat menarik penonton dalam jumlah besar.

Artikel SebelumnyaSisi Humanis Bond: Casino Royale – Skyfall.
Artikel BerikutnyaFrom Russia With Love
His hobby has been watching films since childhood, and he studied film theory and history autodidactically after graduating from architectural studies. He started writing articles and reviewing films in 2006. Due to his experience, the author was drawn to become a teaching staff at the private Television and Film Academy in Yogyakarta, where he taught Film History, Introduction to Film Art, and Film Theory from 2003 to 2019. His debut film book, "Understanding Film," was published in 2008, which divides film art into narrative and cinematic elements. The second edition of the book, "Understanding Film," was published in 2018. This book has become a favorite reference for film and communication academics throughout Indonesia. He was also involved in writing the Montase Film Bulletin Compilation Book Vol. 1-3 and "30 Best Selling Indonesian Films 2012-2018." Additionally, he authored the "Horror Film Book: From Caligari to Hereditary" (2023) and "Indonesian Horror Film: Rising from the Grave" (2023). Until now, he continues to write reviews of the latest films at montasefilm.com and is actively involved in all film productions at the Montase Film Community. His short films have received high appreciation at many festivals, both local and international. Recently, his writing was included in the shortlist (top 15) of Best Film Criticism at the 2022 Indonesian Film Festival. From 2022 until now, he has also been a practitioner-lecturer for the Film Criticism and Film Theory courses at the Yogyakarta Indonesian Institute of the Arts in the Independent Practitioner Program.

BERIKAN TANGGAPANMU

Silahkan berikan tanggapan anda
Silahkan masukan nama anda disini

Situs ini menggunakan Akismet untuk mengurangi spam. Pelajari bagaimana data komentar Anda diproses.