Sebagaimana ciri khasnya selama ini, Fajar Nugros kembali menyutradarai film drama roman remaja berjudul Dignitate. Ia pun menulis sendiri naskah film ini, berdasarkan adaptasi dari cerita populer berjudul sama karya Hana Margaretha. Melalui produksi MD Pictures, pemeran dalam film ini terdiri dari Al Ghazali, Caitlin Halderman, Giorgino Abraham, Sophia Latjuba, Teuku Rizky Muhammad, dan Izabel Jahja. Masihkah sang sineas menyalin format serupa dari film yang sudah-sudah?

Latar belakang keluarga broken home mempertemukan sepasang remaja SMA dengan karakteristik berbeda, Alif (Al Ghazali), siswa cerdas tapi dingin dan Alana (Caitlin Halderman), penyuka komik yang periang dan berisik. Keduanya pun tak ubahnya sepasang remaja yang seolah-olah ditakdirkan untuk saling menjalin hubungan, walau mendapat luapan iri dari teman-teman satu sekolah yang menargetkan mereka. Alif dan Alana sama-sama memperjuangkan kehormatan masing-masing sebagai alasan dari setiap tindakan dan sikap mereka terhadap orang lain. Salah satu di antaranya adalah tanggung jawab mereka kepada sosok “Ibu”, sebagai satu-satunya orang tua yang masih ada.

Dignitate tampak memiliki dua premis. Premis pertama, mengenai kehormatan bagi perempuan dan kehormatan dalam keluarga, yang terselesaikan dalam tiga perempat bagian film. Premis kedua adalah “semacam cerita tambahan atau sampingan”, tentang kisah para tokoh pendukung, yang dikait-kaitkan sedemikian rupa, agar masih tampak berhubungan dengan perjalanan tokoh utama dan memengaruhi kelancaran hidupnya. Keberadaan dua premis ini, berdampak pada ketidakjelasan identitas dari film ini. Apakah Dignitate merupakan film seputar drama roman remaja populer dengan aspek-aspek yang klise dan telah jamak ada di pasaran? Sebab sekalipun ingin mengangkat satu isu khusus (sebagaimana judulnya dalam terjemahan Indonesia, yakni kehormatan) film ini mencekoki begitu saja informasi tersebut secara terus-menerus di sepanjang penayangannya melalui dialog-dialog yang cukup vokal.

Di luar titik pesan mengenai “kehormatan” ini, penonton hanya akan terus-menerus mendapat asupan tayangan perkembangan relasi Alfi dan Alana dengan konflik dari latar belakang masing-masing. Konflik-konflik tersebut digiring sedemikian rupa dengan motivasi dan alasan yang datang dan pergi, timbul dan tenggelam, seolah ingin membikin penasaran penonton dengan detail informasi yang dibeberkan –tak tanggung-tanggung—langsung tertumpuk di akhir film. Tidak jadi soal jika film ini berakhir selepas banyak fakta selesai terjelaskan dengan baik. Namun, tindakan sia-sia kemudian dilakukan oleh sang sineas, dengan memperpanjang cerita melalui penambahan aksi, konflik, dan masalah baru yang dilakukan oleh sang tokoh utama, disusul respons dari tokoh-tokoh lain. Poin ini yang sangat harus disoroti, karena menyebabkan Dignitate rasanya menjadi dua film dengan dua cerita dan dua premis yang berbeda. Banyak yang hampir mengakhiri ketenangan menonton dari kursi bioskop, karena mengira tidak akan ada cerita lanjutan setelah satu persoalan besar (terkait isu yang diangkat) tuntas. Lain halnya kalau ‘tambahan’ ini ditempatkan sebagai mid credit scene, itu sudah soal lain. Namun, ini malah mengisi plot cerita utama yang semestinya telah memiliki premis sendiri.

Baca Juga  Matt & Mou

Selain itu, terdapat semacam ‘perjudian’ dengan menghadirkan pemain-pemain baru dalam Dignitate. Umumnya, penonton dapat dengan mudah merasa dekat dan memasuki problematika para tokoh dalam film melalui kekuatan akting para pemainnya. Namun, hal ini jarang terjadi kepada para pemain debutan. Satu-dua pemain dalam Dignitate barangkali memang mampu menyampaikan emosi mereka dengan cukup baik, tapi sisa sebagian besarnya tidak demikian.

Bila menilik lebih jauh, catatan deretan film buatan Fajar Nugros memang tak ada yang bisa dibanggakan. Ia seperti nyaman berada di lingkarannya sendiri, tanpa merasa bertanggung jawab untuk membuat film yang tak hanya sekadar drama roman remaja populer belaka (sebagaimana ciri khasnya selama ini), sebut saja MeloDylan, Yowis Ben 2, atau Generasi Micin.

Dignitate semata-mata layaknya sinema picisan yang berusaha membawakan pesan tertentu, menyampaikannya secara sembrono tanpa mempertimbangkan cara-cara lain. Sangat sulit untuk tidak habis pikir dengan pencapaian Fajar Nugros lewat caranya menyampaikan suatu isu atau pesan penting melalui kemasan roman remaja populer. Pasalnya, tidak ada nilai lebih yang patut dibanggakan dari film ini. Tampaknya, bisa saja ini dipengaruhi oleh kurangnya referensi sang sineas. Ia seperti ‘melenggang’ begitu saja, merasa tidak akan jadi soal, karena toh segmentasinya anak-anak remaja yang tengah dalam masa-masa dimabuk asmara, semangat belajar, atau bersenang-senang di usia mereka. Meskipun memang film ini masih bisa dinikmati –terlebih bagi segmentasi tersebut—selain karena keberadaan sisi komedi yang terselip secara tipis di sejumlah bagian.

PENILAIAN KAMI
Overall
40 %
Artikel SebelumnyaRetrospeksi Film Pendek Montase: Journey to the Darkness
Artikel BerikutnyaAkhir Kisah Cinta Si Doel
Redaksi Montase
memberikan ulasan serta artikel tentang film yang sifatnya ringan, informatif, mendidik, dan mencerahkan. Kupasan film yang kami tawarkan lebih menekankan pada aspek cerita serta pendekatan sinematik yang ditawarkan sebuah film.

BERIKAN TANGGAPANMU

Silahkan berikan tanggapan anda
Silahkan masukan nama anda disini

This site uses Akismet to reduce spam. Learn how your comment data is processed.