Lega. Itulah perasaan pertama yang muncul usai nonton film solo Wonder Woman, saat layar kembali kosong dan lampu teater menyala seluruhnya, ketika ternyata tak ada adegan tambahan selepas credit title sebagaimana film-film superhero Marvel.

Lega lantaran akhirnya Warner Bros dan DC menyajikan sesuatu yang layak tonton. Sesuatu yang dibanggakan. Akhirnya, fans DC bisa berjalan dengan kepala tegak di depan fans Marvel setelah ditimpa bencana beruntun, dari Batman v Superman (ingat Martha?) dan kekacauan gaya di atas isi lewat Suicide Squad.

Namun sebelum yang lain-lain, Wonder woman adalah film terbaik di jagat DCEU (DC extended universe) sejauh ini.

Well, sebetulnya agak menyedihkan, butuh hampir 80 tahun—sejak karakternya muncul kali pertama di komik terbitan DC Comics tahun 1941—untuk membuat film layar lebar Wonder Woman yang layak tonton. Sebelumnya film superhero perempuan dianggap “bad for business.” Studio Hollywood masih trauma dengan Catwoman dan Elektra. Dua film itu disebut produk gagal, baik secara kualitas maupun komersial. Itu sebabnya, petinggi studio Hollywood perlu berpikir ratusan kali untuk menyetujui film superhero perempuan. Bahkan Marvel hingga kini tak punya film solo superhero perempuan. Yang ada adalah tokoh super perempuan di film superhero laki-laki: Black Widow. Studio percaya, pasar film superhero kebanyakan pria.

Sejak The Hunger Games (2012) sukses baik novel dan filmnya sesungguhnya ketakutan studio Hollywood kalau film superhero perempuan tak bakal ditonton tak beralasan. Nyatanya, Katniss Everdeen mampu memikat begitu banyak orang ke bioskop, baik pria maupun wanita.

Meski begitu Warner Bros dan DC tetap berhati-hati. Alih-alih mengenalkan sang tokoh di film solo, mereka “test the water” sang jagoan cewek bersama Batman dan Superman di Batman v Superman (2016). Uji coba itu berhasil. Banyak yang bilang, Wonder Woman bagian terbaik di film itu.

Warner Bros dan DC pantas berhati-hati. Wonder Woman pernah dianggap tak layak lagi difilmkan. Karakternya dianggap ketinggalan zaman. Kostum yang ia kenakan, kemben mereah bergambar elang dan cawat biru penuh bintang-bintang seperti di bendera Amerika, tak pas dengan tren kostum superhero kekinian. Pendek kata, ia dianggap norak.

Saat ditanya kenapa tak kunjung membuat film solo Wonder Woman, petinggi Warner Bros pernah mengatakan, “Kami harus membuat filmnya dengan benar. Itu harus.” Kontributor Forbes Melissa Silverstein menanggapi hal itu di artikel yang rilis Oktober 2013, pendapat bos Warner itu bagian dari masalah kenapa film solo Wonder Woman tak kunjung dibuat kala itu.

Tulis Silverstein, tak pernah ada yang mengatakan “harus bikin filmnya dengan benar” saat Hollywood membuat film superhero pria, sebab mereka tetap membuatnya dan dapat uang banyak entah filmnya baik atau buruk.

Baca Juga  Asih 2, Cermin Horor Indonesia Kontemporer - Nominasi Kritik Film Terbaik FFI 2021

***

Well, akhirnya Warner Bros dan DC memahami bagaimana membuat film solo Wonder Woman yang baik dan benar.

Yang hendak saya telisik di sini betapa pemahaman tersebut mereka pelajari dari bagaimana saingan utama mereka, Marvel Studio membuat film solo superhero. Di Wonder Woman, DC seperti meninggalkan gaya kelewat serius dan muram yang membedakan mereka dengan Marvel. Hasilnya adalah sebuah film yang menghibur. Sisi muram dan serius tak sepenuhnya hilang, tapi sisi menghibur dan jenaka diberi tempat.

Lebih khusus lagi, menonton Wonder Woman seperti dejavu nonton film solo pertama Captain America, Captain America: The First Avenger (2012) besutan Joe Johnston. Tengok saja, berbagai unsur di film Wonder Woman telah muncul duluan di Captain America pertama.

Captain America dan Wonder Woman sama-sama memerangi Jerman. Bedanya, Steve Rogers memerangi organisasi Hydra bentukan Nazi di Perang Dunia II, sedang Diana Prince maju ke medan tempur Perang Dunia I. Ini bisa jadi trik DC agar tak dibilang terlalu mengekor Marvel, sebab di versi komik Wonder Woman aslinya memerangi Nazi juga.

Lalu, baik musuh Captain America dan Wonder Woman adalah seorang petinggi militer serta ilmuwan gila. Kita bertemu Johann Schmidt alias Red Skull di Captain America serta Dr. Arnim Zola; sedangkan di Wonder woman berhadapan dengan Jenderal Ludendorff dan ilmuwan gila Dr. Maru.

Kita juga bisa mengidentikkan Steve Trevor di Wonder Woman sebagai pengembangan dari versi pria–dengan peran lebih banyak–Agen Carter di Captain America.

***

Pertanyaannya lalu, salahkah bila DC memang mempraktekkan formula Marvel di film superheronya?

Menurut saya, sih tidak. Apa yang dilakukan DC bukanlah praktek plagiarisme. Ibarat masakan, yang satu membuat sayur asem, satunya juga bikin sayur asem. Semua sayur asem punya resep dan bahan yang sama. Selama ini, DC sok nyentrik, sayur asem mereka tak pakai asam dan kurang garam. Hasilnya jadi hambar. Kini mereka pakai bahan sesuai resep.

O iya, satu lagi. Semua orang, baik pria dan wanita, memuji penampilan Gal Gadot sebagai Wonder Woman. Di sini tak terkecuali. Saya patut gembira sekaligus juga lega lagi. Sebab baik muslim dan non-muslim memuji Gal Gadot seorang Yahudi tulen mantan Miss Israel. Di tengah negeri yang terbelah oleh konflik SARA sejak pilkada DKI kemarin, kesamaan pendapat sekecil apapun patutlah kita syukuri. Bukankah demikian? ***

Artikel SebelumnyaWonder Woman Pecahkan Rekor!
Artikel BerikutnyaThe Mummy
Kontributor Montasefilm.com, bekerja sebagai wartawan di Jakarta. Bukunya yang sudah terbit “Seandainya Saya Kritikus Film” (Homerian Pustaka, Yogyakarta), rilis 2009.

BERIKAN TANGGAPANMU

Silahkan berikan tanggapan anda
Silahkan masukan nama anda disini

Situs ini menggunakan Akismet untuk mengurangi spam. Pelajari bagaimana data komentar Anda diproses.