Anoksia

 

Perjodohan, selingkuh, istri mengidap penyakit, dan suami tidak bertanggung jawab. Tidak asing dengan tema-tema ini? Begitulah bangunan cerita Anoksia dibuat lewat skenario garapan pendatang baru, Alfian N. Budianto dengan arahan Indra Gunawan. Drama orisinal KlikFilm Productions dengan hanya dua orang pemeran utama, yaitu Dwi Sasono dan Prisia Nasution. Melihat betapa klise temanya, apa tawaran dari film ini?

Cakra (Dwi Sasono) dan Ajeng (Prisia) hanyalah pasangan suami-istri biasa yang memilih tinggal jauh dari keramaian pemukiman. Namun suatu ketika, penyakit paru-paru Ajeng kambuh dan inhaler yang hampir habis tak bisa banyak membantunya. Cakra lantas berupaya hendak membawa Ajeng mendatangi dokter kenalan mereka di tengah hujan deras malam-malam. Nahasnya, mereka malah terjebak tanah longsor. Situasi yang bisa amat mengancam nyawa Ajeng, karena bahaya anoksia, kondisi tidak adanya oksigen dalam darah dan jaringan tubuh.

Jarang sekali melihat perfilman dalam negeri mau bertaruh dengan konsep penceritaan pada setting terbatas sebagaimana dalam Anoksia. Paling banter seperti Perfect Strangers, Teka Teki Tika, atau Selesai yang membatasi ceritanya masih dalam satu bangunan rumah. Itupun hanya dengan tambahan-tambahan tipis dari lokasi lain. Namun Anoksia memampatkan latar cerita hingga menjadi sebuah ruang kecil dalam mobil dengan dua baris kursi, hanya antara dua tokoh utama, Cakra dan Ajeng. Meski problematika yang kemudian menjadi konflik pertengkaran pasangan suami-istri ini sudah tidak terhitung lagi dalam film-film drama keluarga lokal. Perselingkuhan! Bahkan ketiga contoh film sesama setting terbatas di atas pun menyoal perselingkuhan pula.

Setting terbatas, boleh jadi tampak lebih simpel, tetapi pada saat yang sama juga menuntut banyak kreativitas. Walau Alfian belum mampu seratus persen hanya menggunakan set dalam mobil. Malahan, ia cukup banyak memasukkan tempat-tempat lain di luar mobil dalam bentuk kilas balik. Amat disayangkan, karena tindakan-tindakan semacam ini banyak merusak rasa sesak yang turut dirasakan penonton melalui tokoh cerita yang tengah terjebak. Lihat saja betapa Meander begitu ciamik menyajikan tokohnya terkungkung dalam ruang sempit, tanpa secara terang-terangan memperlihatkan dunia luar sebagai kilas balik maupun halusinasi sang tokoh. Satu hal yang dapat memaksimalkan efek setting terbatas adalah ketika berhasil membuat penonton juga ikut merasakan sensasi yang sama.

Baca Juga  Surat Cinta untuk Starla

Akhir cerita Anoksia pun seperti berdiri di antara dua sisi jurang. Meski pada satu sisi berujung mengecewakan, tetapi di sisi lain itu juga membuat akhir ceritanya menjadi tidak terlalu klise. Sedih dan sangat disayangkan memang melihat nasib tragis salah satu tokoh dalam Anoksia. Namun keputusan Alfian untuk mengakhiri cerita dengan cara demikian –paling tidak—agak menjauhkan Anoksia dari alur yang pasaran. Meski sejujurnya, banyak penonton pasti berharap keduanya sama-sama berhasil selamat dan hidup bahagia dengan anak mereka. Sebagaimana akhir cerita dalam novel karangan Ajeng.

Jangan pula berharap banyak pada variasi gambar dalam setting terbatas pilihan Anoksia, karena pasti mustahil menemukannya. Justru yang lumayan bisa disorot ialah tentang pencahayaannya. Menurut kisah dalam filmnya, mobil yang mengurung Cakra dan Ajeng di bawah tumpukan tanah longsor kehabisan aki. Jadi mereka harus bertahan menunggu bantuan datang dalam cahaya remang-remang dari sebatang senter. Walau logika yang mendasari keteledoran Cakra melupakan ponselnya terasa janggal. Jikapun alasannya adalah kepanikan, toh itu tidak tampak dari olah peran seorang Dwi Sasono. Pun demikian dengan alasan selingkuhannya bisa sampai meninggalkan ponselnya dalam mobil. Tak ada plot yang menunjukkan pemicu kelalaian atau bahkan kesengajaan itu.

Anoksia memang masih mendapat tempat sebagai film ber-setting terbatas, tetapi munculnya berbagai lokasi lain secara terang-terangan malah mendominasi dan mereduksi pokok emosinya. Duet yang lemah pula antara Indra dan Alfian untuk menggarap cerita dengan dua nama besar sebagai pemeran utamanya. Indra dengan rekam jejaknya yang belumlah seberapa, mengarahkan skenario garapan seorang pendatang baru. Jadilah Anoksia, yang menyia-nyiakan talenta Dwi Sasono dan Prisia Nasution.

PENILAIAN KAMI
Overall
50 %
Artikel SebelumnyaReborn Rich
Artikel BerikutnyaThe Beauty of 2022
Miftachul Arifin lahir di Kediri pada 9 November 1996. Pernah aktif mengikuti organisasi tingkat institut, yaitu Lembaga Pers Mahasiswa Pressisi (2015-2021) di Institut Seni Indonesia Yogyakarta, juga turut andil menjadi salah satu penulis dan editor dalam media cetak Majalah Art Effect, Buletin Kontemporer, dan Zine K-Louder, serta media daring lpmpressisi.com. Pernah pula menjadi kontributor terpilih kategori cerpen lomba Sayembara Goresan Pena oleh Jendela Sastra Indonesia (2017), Juara Harapan 1 lomba Kepenulisan Cerita Pendek oleh Ikatan Penulis Mahasiswa Al Khoziny (2018), Penulis Terpilih lomba Cipta Puisi 2018 Tingkat Nasional oleh Sualla Media (2018), dan menjadi Juara Utama lomba Short Story And Photography Contest oleh Kamadhis UGM (2018). Memiliki buku novel bergenre fantasi dengan judul Mansheviora: Semesta Alterna􀆟f yang diterbitkan secara selfpublishing. Selain itu, juga menjadi salah seorang penulis top tier dalam situs web populer bertema umum serta teknologi, yakni selasar.com dan lockhartlondon.com, yang telah berjalan selama lebih-kurang satu tahun (2020-2021). Latar belakangnya dari bidang film dan minatnya dalam bidang kepenulisan, menjadi motivasi dan alasannya untuk bergabung dengan Komunitas Film Montase sejak tahun 2019. Semenjak menjadi bagian Komunitas Film Montase, telah aktif menulis hingga puluhan ulasan Film Indonesia dalam situs web montasefilm.com. Prestasi besar terakhirnya adalah menjadi nominator Festival Film Indonesia 2021 untuk kategori Kritikus Film Terbaik melalui artikel "Asih, Cermin Horor Indonesia Kontemporer" bersama rekan penulisnya, Agustinus Dwi Nugroho.

2 TANGGAPAN

  1. Terima kasih, Mas, reviewnya. Semoga ke depannya saya bisa bikin skenario yang jauh lebih baik lagi. Thank you so much 🤩🤩🤩

    • Sama-sama Mas, pasti bisa dan akan lebih baik di film-film berikutnya. Kami tunggu karya-karya selanjutnya ya Mas. Semangat berkarya!!!

BERIKAN TANGGAPANMU

Silahkan berikan tanggapan anda
Silahkan masukan nama anda disini

Situs ini menggunakan Akismet untuk mengurangi spam. Pelajari bagaimana data komentar Anda diproses.