Ave Maryam adalah film yang digarap Ertanto Robby Soediskam sekaligus penulis naskahnya. Film ini diapreasiasi di beberapa festival film internasional serta diputar di sana, seperti The Cape Town Interntional Film Market and Festival 2018, Hanoi International Film Festival, Hong Kong Asian Film Festival 2018, serta Jogja-NETPAC Asian Film Festival 2018. Setelah dipangkas 12 menit dari durasi awalnya, akhirnya Ave Maryam bisa tayang di bioskop. Film ini diperankan nama-nama bintang seperti Maudy Koesnaedi, Chico Jericho, serta bermain pula sineas kondang, Joko Anwar. Ave Maryam sempat mengundang kontroversi karena isu agama yang kental.

Suster Maryam merupakan seorang biarawati yang bertugas merawat para suster tua. Suatu hari, ia diperkenalkan oleh Romo Martin kepada Suster Monic yang kemudian akan ia rawat. Suster Monic memiliki anak asuh yang juga memutuskan untuk menjadi pastur, Romo Yosef. Tidak hanya pandai bermain musik dan memimpin orkestra, Yosef pun menawan hati Maryam dengan upaya untuk terus mendekat hingga membuat mereka pergi sembunyi-sembunyi. Hubungan mereka pun semakin dekat dan menggoyahkan janji suci sang suster pada baktinya.

Ave Maryam sudah menarik perhatian sejak adegan pembuka. Secara teknis, baik gambar maupun musik memiliki kualitas yang mapan hingga tak heran mampu meramaikan beberapa festival internasional.  Tone gambarnya sangat memanjakan mata ditambah dengan penggunaan setting dan tata sinematografi yang memukau. Alur cerita yang bersederhana menjadi nikmat untuk ditonton dengan cara-cara cerdas dalam penyajian adegannya. Satu yang menarik adalah adegan makan malam di restoran, di mana para tokohnya tanpa perlu mengeluarkan satu kata pun, namun terwakili oleh tayangan film yang diputar di sana. Ditambah dengan kemapanan akting keduanya, adegan ini tampak begitu manis dan berkesan. Tidak diragukan lagi, tatapan Maudy yang sendu memiliki kekuatan yang berbicara mewakili kata-kata verbal.

Baca Juga  Keluarga Tak Kasat Mata

Guntingan sensor 12 menit panjangnya, rasanya sudah terlihat apa adegan yang hilang. Sayang sekali, saya tidak bisa menonton film ini secara utuh. Adegan yang dipotong tersebut bisa saja memiliki pesan dan kesan yang menguatkan makna, seberapa besar hasrat dan kekosongan hati Maryam yang terisi oleh kehadiran Yosef. Tampak bahwa Maryam memiliki jiwa yang kosong dan dipenuhi kegundahan sejak sebelum Yosef hadir dalam hidupnya. Beberapa adegan simbolis yang disajikan pun menampilkan betapa hausnya Maryam akan kebebasan. Kegalauan akan perasaannya membuat Maryam semakin tertekan. Potongan sensor tersebut bisa jadi adalah titik krusial film ini.

Membuat film dengan isu sensitif macam ini tentu membutuhkan keberanian sehingga tidak hanya sekadar memanfaatkan “keseksian” isu semata. Setelah lama film-film drama religi bernuansa Islami diproduksi dan laris dipasaran, Ave Maryam menjadi pilihan baru. Film sejenis perlu terus diproduksi agar film mampu menjadi media kreativitas yang mengekspresikan ide-ide tanpa batas. Ave Maryam digarap dengan serius, nikmat ditonton, dan mempuni dari segala aspek. Durasi singkat selama 73 menit mampu memberikan kesan dan pesan yang membekas dipikiran dan hati penonton. Bukan sekedar kisah cinta semata. Ave Maryam memberikan pandangan mengenai pilihan hidup. Seperti mengutip dialog yang diucapkan oleh suster senior: “Jika surga belum pasti untukku, buat apa nerakamu menjadi urusanku”.   

WATCH TRAILER

PENILAIAN KAMI
Overall
90 %
Artikel SebelumnyaCaptive State
Artikel BerikutnyaSunyi
Debby Dwi Elsha
Menonton film sebagai sumber semangat dan hiburan. Mendalami ilmu sosial dan politik dan tertarik pada isu perempuan serta hak asasi manusia. Saat ini telah menyelesaikan studi magisternya dan menjadi akademisi ilmu komunikasi di salah satu perguruan tinggi di Yogyakarta.

1 TANGGAPAN

  1. sayang sekali potongan sensor tersebut harus membuat saya sebagai penontonpun tidak terlalu dapat menangkap kekosongan dan keinginan yang ingin diraih oleh Maryam. Saya harap dapat menontonnya di event festival dengan versi lengkapnya. Sayang sekali apabila film seperti ini harus terpotong juga titik krusialnya dengan sensor yang kadang membuatnya menjadi tumpul akan cerita. Jelas-jelas dengan rating 21+ sudah cukup untuk tidak banyak mensensor adegan yang memang tidak perlu.

BERIKAN TANGGAPANMU

Silahkan berikan tanggapan anda
Silahkan masukan nama anda disini

This site uses Akismet to reduce spam. Learn how your comment data is processed.