Seperti dari judulnya, film ini mengisahkan sepasang kekasih gila yang membuat penonton merasa geli lalu tertawa dengan tingkahnya. Tetapi setelah menonton filmnya, kemungkinan penonton akan berpikir, siapa yang gila sebenarnya? Balada Sepasang Kekasih Gila (BSKG) disutradarai oleh Anggy Umbara yang juga menulis naskahnya bersama Han Gagas, dengan Denny Sumargo dan Sara Fajira sebagai bintangnya.

Jarot (Denny Sumargo) dirawat di rumah sakit jiwa. Sebelumnya, ia pernah dipenjara karena membunuh hingga ia dituduh sebagai komunis. Sementara Lastri yang juga mengalami gangguan jiwa mengalami pelecehan seksual, dan ia pun dipenjara karena membunuh para pelakunya. Saat Lastri kabur, ia pun ditolong Jarot. Kisah cinta mereka pun mulai bersemi.

Jangan terkecoh, film ini tidak berfokus pada kisah romantis semata. Ada pesan yang mendalam yang dimaksudkan untuk menjadi bahan perenungan. Namun sayangnya, sepanjang film saya dibuat terheran-heran. Kegilaan dua karakter utama yang ditampilkan dalam film membuat saya bingung. Kondisi status gangguan mental mereka tidak jelas, seperti datang dan pergi tanpa ada penyebab dan penjelasan. Kadang kumat, namun kadang terlihat waras. Meski ada alasan di balik hilang-timbulnya gangguan tersebut, tetapi masalah penempatannya memang dapat memberi kesan yang mengambang.

Lastri yang jelas di awal ditampakkan sebagai orang yang memiliki gangguan kejiwaan, bagaimana bisa dipenjara? Sedangkan menurut hukum yang tertulis di pasal 44 KUHP, menyatakan bahwa pengidap gangguan jiwa tidak bisa dipenjara. Pada plot filmnya pun tidak pernah ditampakkan bahwa Lastri berada di RSJ. Namun rupanya seseorang seperti Lastri mampu memahami buku berbobot seperti “Aku” karangan Chairil Anwar. Jarot yang masih terlihat mengidap gangguan jiwa, dinyatakan sembuh begitu saja oleh pihak RS. Dengan kondisi kejiwaannya, ia bahkan mampu mempersiapkan diri untuk menikah dengan membeli baju yang rapi, lalu pergi ke masjid menemui pemuka agama, dan melafalkan kalimat ijab qobul dengan lancar. Dalam hal ini besar-kecil kemungkinannya dapat benar terjadi memunculkan pertanyaan.

Sejak awal, tampak film ini juga tidak digarap dengan sungguh-sungguh. Terlihat dari kostum dan properti yang tampak tidak natural dan tidak masuk akal. Contoh saja baju “bolong-bolong” yang dikenakan Jarot tampak sekali hasil dari guntingan-guntingan yang rapi. Tidak bisakah menyajikan pakaian yang benar-benar terlihat kumal? Tidak bisakah menyajikan rambut palsu yang lebih alami? Rasanya geregetan ingin mencatat dan memberi nilai atas semua kekurangan ini.

Baca Juga  Hompimpa

Lalu sebenarnya siapa yang edan? Absurd. Seperti narator film yang dibuat absurd, karena tidak eksis untuk suatu alasan. Ditujukan untuk mengejutkan dengan nuansa pertemuan antardimensi. Semacam garapan sang sineas 4 bulan lalu, Till Death Do Us Part, yang mengandung banyak ketidaklogisan. Jika saja kegilaan Jarot dan Lastri ini bertujuan untuk membuat jalan cerita, tentu saja masih bisa diupayakan untuk membuat batasan sehingga jalan cerita menjadi lebih masuk akal dan dapat diterima. Atas ketidakwarasan yang Jarot alami, berujung pada pencariannya pada Tuhan. Pertanyaan-pertanyaan akan esensi manusia dan kehidupan terlontar dengan kaku. Jarot pun makin menderita hingga akhirnya bertemu sesosok cahaya yang mengatakan bahwa Tuhan tidak pernah pergi meninggalkannya, namun adalah dirinya yang meninggalkan Tuhan. Lalu yang dilakukan Jarot dan Lastri setelahnya justru bertolak belakang.

Rasa gemas sedikit terobati dengan akting Denny Sumargo dan Sara Fajira yang tidak menyangka mereka bisa berakting seperti ini. Pesan moral intinya tersampaikan meskipun terkesan sekadar tempelan. Pesannya memang kadang terlihat manis, tapi tidak memiliki kesinambungan yang jelas dengan cerita. Bagaimana pun, usaha sineas mengusung konsep esensi kehidupan dan ketuhanan patut diapresiasi. Untuk menggambarkan dunia yang “edan”, tidak lantas menjadi ikut-ikutan “edan“.

Balada Sepasang Kekasih Gila lantas kian jeblok dengan aspek-aspek lain yang banyak dipaksakan. Mulai dari kampanye muluk-muluk yang mencekoki penonton dengan beragam sindiran. Dialog yang cenderung terasa aneh, ketimbang menyadarkan pemikiran. Pula penggunaan shot yang biasa saja. Kalau diingat baik-baik, ketiga poin dari film ini sama saja seperti trilogi I, Will, dan Survive garapan sang sineas juga. Setelah mengarahkan ketiganya dengan catatan merah untuk poin-poin tadi, ia seakan tak belajar apapun hingga mengulanginya di film ini.

Balada Sepasang Kekasih Gila memang menawarkan premis yang menarik dengan totalitas akting dari kedua pemeran utamanya, namun lupa bahwa film merupakan satu kesatuan utuh dari banyak hal. Kalau saja bukan karena andil besar dari Danny dan Sara, film ini sahih untuk dikategorikan sangat buruk. Terlepas dari perkara ide, serangkaian pesan moral, dan sindiran politisnya. Jika penyampaiannya lewat medium film saja tak memberi pengalaman estetik yang memadai, maka sia-sia saja. Pada akhirnya takkan jauh berbeda dari film-film komedi satir.

PENILAIAN KAMI
Overall
50 %
Artikel SebelumnyaThe Guilty
Artikel BerikutnyaOld
Menonton film sebagai sumber semangat dan hiburan. Mendalami ilmu sosial dan politik dan tertarik pada isu perempuan serta hak asasi manusia. Saat ini telah menyelesaikan studi magisternya dan menjadi akademisi ilmu komunikasi di salah satu perguruan tinggi di Yogyakarta.

BERIKAN TANGGAPANMU

Silahkan berikan tanggapan anda
Silahkan masukan nama anda disini

Situs ini menggunakan Akismet untuk mengurangi spam. Pelajari bagaimana data komentar Anda diproses.