Ayat-Ayat Cinta 2 (2017)

125 min|Drama|21 Dec 2017
5.3Rating: 5.3 / 10 from 300 usersMetascore: N/A
Fahri, now living in Edinburgh and even a lecturer at thd University Pf Edinburgh, was forced to live his daily life alone. Together with Uncle Hulusi, his Turkish household assistant, he continued his life without Aisha.

Mengandung spoiler!

Ayat-Ayat Cinta 2 (AAC2) berhasil meraup perhatian penonton hingga satu juta penonton hanya dalam 5 hari saja. Film terdahulunya tentu masih begitu berkesan dibenak masyarakat akan ketulusan cinta dan kesetiaan yang membuat penonton terbawa perasaan, khususnya para perempuan. Sosok Fahri yang bak laki-laki sempurna membuat imajinasi akan sosok idaman tampak begitu nyata. Seolah-olah kisah nabi hadir kembali di masa modern ini.

Setelah sekian tahun berlalu, kehidupan rumah tangga Fahri dan Aisha rupanya tidak lepas dari cobaan. Aisha dikisahkan telah keguguran dua kali dan pergi ke Palestina untuk menghibur diri. Sementara Fahri yang telah menjadi dosen di Universitas Edinburg, Skotlandia, terus didekati oleh para perempuan hingga permasalahan selanjutnya terjadi dan sulit ia elakkan. Kesetiaan cinta yang selama ini ia buktikan dengan penantian pun dipertanyakan setelah Hullya hadir dalam hidupnya.

Masih kuat dalam ingatan film Ayat-Ayat Cinta mampu membawa penonton terhanyut ke dalam cerita yang disuguhkan. Meskipun penulis sendiri tidak mengagumi kualitas akting para pemain khususnya Fedi Nuril sebagai Fahri. Aktingnya, saya maklumi dengan pertimbangan latar belakang sang tokoh yang merupakan laki-laki agamis, santun, dan sangat menghargai perempuan. Cukup masuk akal, laki-laki seperti ini tipikal yang kurang ekspresif dan canggung. Tetapi, hal ini sudah tidak bisa saya terima lagi ketika menonton film keduanya ini.

Atas begitu banyak penderitaan yang ia alami, tidak tampak hidupnya terdapat guncangan psikologis yang mendalam. Awalnya, saya pikir ini adalah penggambaran sosok yang tabah dan penuh kesabaran sehingga ia masih optimis dan bersemangat menjalani kehidupan yang penuh cobaan Tuhan. Namun, ketika hal yang paling mengharukan terjadi dan cerita penuh pilu diucapkan oleh sang kekasih, Fedi Nuril bahkan tidak dapat berekspresi dengan sewajarnya. Adegan menjadi hambar dan tidak mampu membawa penonton mengharu biru. Tidak ada chemistry di antara dua pemain utama, tidak ada kesan yang menggambarkan betapa besarnya cinta mereka. Bahkan, lagu temanya pun tidak mampu mendukung suasana film, sangat jauh berbeda dengan film sebelumnya.

Baca Juga  Surga Menanti

Sangat disayangkan, film yang disutradarai oleh Guntur Soehardjanto ini tidak memberikan porsi yang cukup untuk menciptakan mood yang membuat penonton ikut merasakan perjuangan seorang istri yang begitu sedih, namun berusaha untuk terus ikhlas demi kebahagiaan suami. Padahal, adegan demi adegan dapat disajikan dengan emosional sehingga kekuatan cinta mereka dapat terlihat dan terasa. Lalu, apa yang diharapkan oleh sang sineas jika adegan-adegan penuh cinta dari dua tokoh utama justru tidak dihadirkan?

Selain bicara soal cinta, film ini juga mengangkat pesan-pesan moral dan nilai keagamaan. Bagaimana perbedaan harus dihadapi dengan sikap yang baik atas dasar saling menghormati dan menyayangi sebagai sesama umat manusia. Tanpa memandang perbedaan agama dan ras, sosok Fahri mengajarkan kita untuk terus menolong sesama dan menciptakan kerukunan meskipun harus mendapatkan perlakuan hina dari banyak orang. Nilai-nilai ini patut diapresiasi meskipun cara penuturannya begitu gamblang. Selama menonton film ini lebih dari dua jam, saya merasa seperti menonton sinetron dengan mood  yang sangat berbeda dengan film pertamanya. Dalam sekuelnya ini, adegan-adegan yang disuguhkan begitu terasa hambar karena tidak ada eksplorasi mendalam pada bagian cerita yang seharusnya menjadi titik penting dari film. Adegan demi adegan berlalu begitu saja, tanpa sentuhan emosi.

AAC2 tidak mampu mengobati kerinduan para penontonnya akan romantisme kisah Fahri dan Aisha. Fahri yang selama bertahun-tahun begitu yakin bahwa cintanya pada Aisha sangat besar dan bersedia menanti kekasih hati pun menjadi meragu sehingga akhirnya luluh jua dengan hadirnya sosok perempuan baru. Apakah kesetiaan itu tidak dapat terus dipertahankan? Keputusan Fahri untuk segera menikah lagi begitu ada kesempatan merupakan sikap yang sangat tipikal dengan sifat laki-laki secara umum yang selama ini tergambar dalam masyarakat (patriarki). Jika masih cinta, mengapa harus menerima sosok perempuan baru? Bukankah sah-sah saja untuk mengambil waktu menenangkan diri? Toh Fahri masih memegang keyakinan bahwa masih ada kemungkinan pujaan hatinya akhirnya kembali. Tiba-tiba saja keyakinan ini luntur atas nama keikhlasan terhadap Allah. Mungkin Fahri hanyalah laki-laki biasa, yang tidak perlu diidam-idamkan para perempuan modern yang memiliki kesadaran akan hak dan harga dirinya. Di titik inilah, AAC2 justru bisa membuat saya terbawa perasaan dan menyentuh sisi emosional saya sebagai perempuan. Penilaian terhadap film ini tentu saja dipengaruhi oleh sisi subjektif tanpa mengurangi pendekatan logis saya sebagai penonton perempuan. Bagaimana pendapat Anda?

WATCH TRAILER

BERIKAN TANGGAPANMU

Silahkan berikan tanggapan anda
Silahkan masukan nama anda disini