Sebenarnya saya lebih senang membahas terpisah antara teknis film dengan muatan kandungan di dalamnya baik kandungan pesan, ideologi, maupun sisi pemahaman sejarah sang penulis naskah terutama untuk film berlatar belakang sejarah. Tapi Buffalo Boys, film garapan Mike Wiluang ini mungkin perlu dilihat dari dua sisi secara berbarengan. Di mana sisi teknis berkelindan dengan pemahaman sejarah (atau sebutlah imajinasi sejarah) menghasilkan karya “nasi goreng western” sebutannya. Saya lebih memilih menyebutnya “gado-gado western”. Sebutlah sesukanya, mungkin untuk menyanding-nyandingkan diri dengan spaghetti western. Kalau ini nasi goreng maka mungkin peracikan bumbunya tidak matang. Kalau ini gado-gado maka ada kemalasan mengulek kacang menjadi pemersatu sayur-mayur sedangkan sayurannnya justru sudah basi.

Sebagai film sejarah, maupun sebagai film fantasi, film ini benar-benar menyiksa. Seberapa pun saya selalu mengagumi kecantikan Pevita Pearce (Kiona) dan Mika Tambayong (Sri), namun ini tidak membuat saya betah berada di kursi bioskop. Entah berapa lama durasi film ini, rasanya seperti menanti proklamasi kemerdekaan setelah dijajah tiga setengah abad, tapi memang kata siapa Belanda menjajah tiga setengah abad? Kata De Jonge mungkin, gubernur jendral tangan besi pada menjelang akhir masa kolonialisme dan direpetisi terus oleh Soekarno dalam pidato-pidatonya. De Jonge bukan yang pertama mengucapkannya dan belum tentu salah, kita hanya terlalu mudah meyakininya begitu saja, seperti dalam banyak hal.

Kita musti memahami batasannya, narasi di awal film menyebut bahwa ini adalah sebagian fantasi, membuat kita bisa memaklumi beberapa hal yang kurang realistis dalam film ini. Tapi hey, bahkan imajinasi seseorang pun tergantung dari seberapa banyak data yang pernah dicercapnya. Almarhum Kuntowijoyo pernah menyebut bahwa kita memang butuh imajinasi dalam belajar sejarah, namun jangan terjatuh pada romantisme sejarah. Film ini? Nah, dia adalah contoh sempurna bagaimana imajinasi jatuh pada romantisme dan dramatisasi berlebihan di segala bidang.

Saya punya ekspektasi tinggi ketika mengetahui sebuah film western tengah digarap dengan latar belakang era kolonial. Rasionalisasi yang baik sekali, pikir saya waktu itu. Zamannya cocok, tinggal bagaimana memainkannya. Ekspektasi itu, langsung surut ketika detik pertama di layar terpampang narasi “Selama berabad-abad kerajaan Belanda menjajah tanah leluhur Indonesia…” kalimat selanjutnya saya lupa persisnya, intinya adalah penyelamatan diri dengan menyatakan bahwa sebagian dari film ini adalah imajinasi. Sebagian mungkin berdasar data sejarah, saya tidak tahu yang mana.

Ekspektasi turun di awal tapi baiklah kita anggap wajar saja dulu. Berabad-abad dijajah Kerajaan Belanda? Berarti mungkin penulis naskah tidak begitu membedakan mana era kongsi dagang Eropa, pola dominasi VOC, pembubaran VOC oleh Napoleon,  Prancis, Britania dan lain sebagainya. Itu masih bisa dimaklumi. Tidak banyak yang benar-benar detail soal ini. Itu kekurangan yang sangat bisa dimaklumi pada sebuah  bangsa yang narasi sejarahnya terlalu seragam.

Warga desa dipaksa menanam opium dan dilarang menanam padi, agak bolehlah masuk akal, opium adalah komoditas dagang utama pada era itu. Namun, kemudian logika terabrak juga, ketika digambarkan warga desa selalu dibantai dan disiksa dengan tekun oleh kaki tangan Van Track, sang penjajah. Sedikit menghela nafas, saya perlu sedikit menurunkan ekspektasi kembali. Mungkin, sekali lagi sangat mungkin, penulis naskah masih terpengaruh pada penggambaran londo kumpeni versi  film-film Indonesia era 1980-an hingga 1990-an. Tau kan? Macam kumpeni-kumpeni dengan kumis baplang memaki “goddverdomme” itu adegan sangat membekas di banyak generasi yang melewati fase kejayaan Si Pitung Banteng Betawi dan sejenisnya. Itu, adalah dramatisasi penjajahan sebenarnya. Bukannya salah, tapi yah ada lebay-nya. Saya juga penikmat Si Pitung-nya alm. Dicky Zulkarnaen.

Ada kok film kita yang menggambarkan era penjajahan dengan lebih realistis, misal Gadis (1980) dibintangi oleh Dewi Yul, Titiek Puspa, dan Ray Sahetapy. Tentu penderitaan pribumi juga diceritakan, tapi semuanya masuk akal sebagai bentuk kekuasaan yang korup di bawah dan lemahnya pengawasan dari atas. Akan lebih sehat bila film ini memakai narasi seperti Gadis (walau jarak zamannya agak jauh juga, film Gadis jelas sudah era politik etis),  di mana pusat kekuasaan jauh sedangkan penindasan terjadi sebagai bentuk tuntutan ekonomi yang mengejar pemasukan kas negara dan kelokan relasi kuasa yang tidak imbang.

Sebab apa? Film ini terlanjur meletakkan setting waktu tahun 1860, dimana infrastrukturisme Daendels dan reformasi birokrasi Raffles telah berlaku walau memang sering ada penyelewengan kekuasaan. Sisi inilah yang rasanya bisa dimainkan dengan ciamik. Van Track disebut sebagai seorang residen, harap diingat saat itu pemasukan kas negara sedang dikebut karena persaingan antara kongsi dagang sedang sangat ketat. Dan, anda membantai satu desa produksi? Di bawah hidung seorang residen? Dan residennya ikutan? Tidak usah menyebut bahwa pada masa itu ada badan court of justice yang mengawasi berjalannya mekanisme kekuasaan di setiap residen. Sudahlah, pada titik ini ekspektasi adalah kata yang tidak saya pakai lagi, kemungkinan sejak menit ke-sepuluh. Jadi, nikmati saja. Itu pun ternyata tidak membantu.

Dalam sebuah wawancara, sang sutradara Mike Wiluan mengaku sangat terinspirasi dari film western, cowboy tentu maksudnya ya. Melihat gambar-gambar yang berseliweran di film ini, tampaknya yang dimaksud adalah adalah era western spaghetti dimana sutradara Italia seperti Sergio Leonne menggarap film cowboy. Semua penikmat film, pasti pernah mencicipi minimal salah satu dari dollar trilogy, atau Once Upon A Time In The West, Django, dan sejenisnya. Kalau dalam perkomikan, kita masih bisa sedikit mencari-cari benarkah Panji Tengkorak karya Hans Jaladra yang sering menyeret peti mati itu terinspirasi dari Django? Tapi dalam Buffalo Boys ini, tidak perlu otak analisis. Beragam gambar dan teknik potongan dari era western spaghetti seperti diaplikasikan begitu saja, dengan cara yang sangat buruk hampir tidak ada rasionalisasinya. Apakah ini karena ini sekedar imajinasi?

Kontinuitas gambar sangat tidak terjaga, musik berganti dari tiupan ke dentam tanpa alasan sama sekali dan tidak membangun apa-apa juga. Jadi begini, film ini sudah sedikit mewarisi kegagalan faham terhadap sejarah negeri sendiri dan rupanya kriteria western pun tidak begitu dalam juga. Saat almarhum Benyamin membuat film ‘koboy-koboy-an’ yang saya lupa judulnya, busana koboy dengan topi bertepi cukup lebar dan mengenakan rompi tanpa lengan melapisi kemeja kotak-kotak flannel sudah jelas itu adalah terinspirasi dari western era John Wayne.  Koboy-nya Benyamin jelas jauh lebih berhasil, bukankah tidak imbang membandingkan dua genre berbeda? Koboy-nya Benyamin kan komedi sedang ini action? Well, in my not-so-humble opinion, Buffalo Boys ini  sebenarnya adalah komedi dengan lelucon yang tidak lucu. Kalau pun imajinasi, kan setidaknya bisa lucu sedikit.

Spaghetti Western, seperti yang inginnya  diaplikasikan dalam film ini mengambil sisi yang lebih romantis, namun realis dari western. So, western spaghetti secara formula budaya dan teknis adalah heroism Amerika plus romantis-realisme Italia, gambar, musik dan segala macam unsur dalam film mengacu pada ini. Ingat adegan pembuka di The Good, The Bad and The Ugly? Gambar landscape hanya beberapa detik, sekilas saja. Kemudian sorot zoom in wajah beberapa orang menatap satu arah.  Wajah berkulit kasar,berdebu, kulit lecet, lalat, suara hembus, mata mengernyit. Dalam sekejap, penonton bisa membayangkan medan seperti apa yang dilalui para tokoh ini, seperti apa panasnya wild-wild west, liar dan ganasnya menyiksa, kerakusan menjadi wajar.

Tensi terbangun. Banyak adegan serupa dalam film Buffalo Boys ini yang tidak berhasil mencapai apa-apa selain, contoh:  zoom ini ke wajah, mata aktor mengernyit padahal tidak ada debu, pesannya jadi absurd. “Ini lihat Jamar (Ario Bayu), Suwo (Yoshi Sudarso) dua tokoh utama kita, keren kan. Ganteng gitu yah. (mata ngernyit-ngernyit lagi, entah kenapa. Debu? Di hutan tropis yang sedikit  berembun? Seriously?) mereka ini ceritanya anaknya Sultan lho yang dulu dibunuh sama Van Track (musik siul wuiuuwww… maunya mirip musiK garapan Ennio Morricone? Gagal total). Mereka ini saudara kembar,yah ndak identik hanya beda ras ajah (divisi casting please)” ini mau pengkarakteran wajah keras seperti Clint Eastwood maksudnya? Jelas ndak dapat. Fantasi ya ndak gini-gini amat sih.

Baca Juga  Sekilas Sinematek Indonesia

Topi bertepi sebagai penanda para cowboy sebenarnya adalah penanda iklim, modifikasi busana dari Eropa juga sebenarnya. Dalam Buffalo Boys ini, entah apa gunanya. Coba itu  ketika Arana (Tio Pakusadewo) menyarankan para keponakannya untuk membaur di pasar, dua keponakan ini di tengah para pribumi, dengan tinggi menjulang jauh dari rata-rata orang di sekelilingnya kemudian dengan jeniusnya… mengenakan topi koboy, serius nih? Topi itu, bahkan demi kemaslahatan bersama, harus selalu ada di kepala mereka dari berantem di sungai sampai kebakaran di sebuah rumah. Apapun alasannya, itu topi harus kembali dengan cara apa pun. Bicara kekurangan cerita, semua film mengalami tapi dalam film ini semua terlalu jelas dan berserakan lubang plot, logika cerita tidak utuh di mana-mana. Belum lagi,ketika beberapa dialog dituangkan dalam bahasa Inggris-Amerika, logatnya terlalu kekinian. Ini tokoh-tokohnya time traveller apa gimana ini?

Potongan gambar yah, perlu diakui memang banyak yang bagus, tapi tidak menyambung keutuhan. Set desa pribumi dengan persawahan, tidak begitu jelas seberapa jauh-dekatnya dengan kota pusat kekuasaan Van Track yang mirip kota-kota ala film western, komplit dengan bar, rumah bordil dan neng Kiona (Pevita Pierce) yang di tengah keterjajahan desanya karena semua dipaksa menanam opium, masih sempat berjualan bunga setiap hari di sudut kota dan latihan panah di tengah hutan, oh iya jangan lupa menunggang kerbau.

Kejomplangan suasana terbang dengan sukses ketika menggambarkan rumah Van Track yang bergaya kolonial Eropa. Susunan gambar tidak membantu menjembatani lompatan-lompatan yang terasa beda galaksi dan beda dimensi ini. Briliannya, ada  adegan pengintaian dari penginapan, tanpa clue tempat selain dialog “dari gadis manis di bawah ada pintu di samping” oke, namun dari kamar hotel itu para jagoan bisa melihat ke arah kamar pribadi Van Track, isi rumah Van Track, halamannya dan mungkin semua hal yang perlu mereka lihat. Kalau sutradara bikin adegannya dari jendela itu bisa lihat Ka’bah di Mekkah saya juga sudah ndak akan heran lagi sepertinya. Semua ini sebenarnya bisa diperkokoh dengan permainan kamera dan penyusunan gambar saja, hanya pergerakan kamera seperti tidak sabar menampilkan hal-hal keren seperti set dan properti yang memang baik sekali penataannya dan, bila memang tugasnya menghadirkan suasana western itu berhasil. So, divisi artistik mungkin perlu dipuji di sini.

Dari segala keburukan film ini, set dekorasi, make-up dan kostum layak diberi penilaian lebih. Catatan untuk neng Sri, itu maksudnya mau gadis pribumi cantik, apa adanya dengan rambut dikusut-kusutin tapi guntingannya seperti baru pagi tadi ke salon? Bangsa kita memang merana di bawah penjajahan, tetaplah sempat ke salon. Terlalu banyak tokoh dengan kostum dan make-up monumental (two tumbs up buat make-up), masuk ke adegan dengan sangat mengesankan tapi kemudian tidak punya andil ap-apa dalam rajutan cerita. Tokoh-tokoh yang dimainkan justru oleh aktor dan aktris mumpuni secara keaktingan. misal Hannah Al Rasyid (ini make-up terkeren dan aktingnya baik sekali) sampai Sunny Pang. Kalau diakui film ini bujetnya cukup tinggi, tentu saja itu masuk akal mengingat betapa tidak efektifnya jumlah tokoh yang ada di film ini. Alex Abbad sebagai Fakar, juga sangat baik memainkan perannya.

Film ini mungkin ingin menyempilkan beberapa pesan ideologis. Pemahaman kesetaraan gender digambarkan sedikit dengan Kiona yang gadis cantik dengan pikiran melampaui zaman. Dialog antara Kiona dan Suwo di tengah latihan panah bolehlah kita hargai sedikit walau terdengar seperti sepasang yang baru saja membaca buku pengantar feminisme untuk pemula. Tapi yah itu usaha yang bagus. Usaha baik berkebalikan sendiri dengan sifat naskah yang jelas hasil dari otak lelaki yang tidak punya kepekaan pada adegan pelecehan. Neng Sri, hampir (atau malah sudah) diperkosa, diselamatkan oleh para jagoan kita dengan menciderai Fakar (ini yah, pentolannya para penjahat kaki tangan Van Track malah berjaga dengan murah hati di depan lokasi pelecehan terjadi).

Neng Sri yang aduhai gemulai ini bangkit merapikan baju dan rambut, tidak tampak tergoncang sama sekali hanya kayak abis kesenggol andong saja, menawarkan para lelaki asing untuk singgah ke desanya (yang ternyata sudah dia tinggalkan lama, jadi dia balik buat apa? Biar diculik supaya jagoan kita keliatan jago?) dan di kereta sudah cukup nyaman untuk tertidur di bahu lelaki asing (ini masuk akal karena lelakinya Ario Bayu gitu?) Dalam hitungan hari, neng Sri sudah bisa dengan lantang berseru revolusioner radikal “dia memperkosa saya”. Ah, andai pada dunia nyata semua perempuan setegar dik Sri kita ini, tentu patriarki nan hyper-masculine telah lama runtuh dari dunia.

Banyak hal yang perlu kita maklumi karena film ini menjadikan kata imajinasi (atau fantasi? Atau khayalan? Saya lupa kata tepatnya) sebagai tameng. Masuk akalkan saja sekenanya adanya bar dan rumah bordil di kota pusat kekuasaan Van Track. Tidak perlu penjelasan rasional bahwa kalau di film-film western, semua  ini adalah efek dari daerah perbatasan, pertambangan dan pembangunan rel kereta. Kriminalitas tumbuh di daerah-daerah seperti ini. Para jago tembak wild-wild west terjelaskan sebagai efek dari pasca perang sipil di US, baik cowboy hero maupun para bandit, seringnya adalah lulusan perang sipil maka itu genre ini juga disebut film pasca perang sipil. Namun, dalam Buffalo Boys ini, tokoh utama kita menjadi jago hanya karena pernah ke Amerika dan bergaul dengan budak-budak dari Cina. Selebihnya tidak ada penjelasan. Atau, apakah karena ini imajinasi lantas menembakkan senjata berkekuatan satu bazooka yang meruntuhkan gerbang kota dengan satu tangan dari atas punggung kerbau menjadi masuk akal? Entahlah.

Ada masanya booming western diartikulasikan dengan kesesuaian budaya di berbagai tempat. Heroisme pada masyarakat di perbatasan yang jauh dari pusat ekonomi-politik, ini tentu adalah khayalan dari masyarakat negara nation-state, US adalah salah satu simbol keberhasilannya. Bentuk negara yang kemudian dipinjam oleh Eropa untuk membentengi diri dari NAZI. Sayangnya, semua negara mantan kolonial ikut menganut bentuk ini di kemudian hari. Pun, cita rasanya terhadap kepahlawanan, heroism dan antagonism. Khayalan dari western (bermula tahun 1903) itu juga membawa nafas heroism film-film pendekar Cina (Wu Xia movie, walau memang sejak dulu sudah ada sastra wu xia) kemudian pendekar Melayu-Jawa, Samurai Jepang dan sebagainya. Akira Kurosawa jelas ingin menghadirkan John Wayne dengan membuat Yojimbo.

Bila film western adalah gambaran semangat Amerika, kecepatan, ketepatan dan kejituan menembakkan sasaran. Khayalan tentang gambaran diri sebagai hero pembela yang lemah, yang kemudian diterapkan serampangan di mana-mana dari Palestina, Afghanistan, Iran, dan sebagainya. Maka jiwa bangsa seperti apakah yang diwakili oleh imajinasi seperti Buffalo Boys ini?

Untunglah sekedar imajinasi. Kelanjutan negeri imajiner ini mungkin. Seabad kemudian dua orang lelaki membacakan proklamasi kemerdekaan (diperankan oleh Jamar), dengan bentuk negara yang belum selesai juga dibahas. Kemudian seiring berjalannya waktu mereka menjadi bangsa yang kalau belajar sejarah hanya baca narasi bukannya data. Itu pun seringnya hanya narasi pergerakan yang penuh heroisme vs antagonisme.

Mereka hanya ingin meng-hero-kan tokoh-tokohnya tanpa melihat sebab-akibat dari segala kejadian sejarah, kehilangan pijakan, habis saling membenci berdasarkan kubu-kubu pilihan politik yang sama semu, tidak ada efektifitas dalam anggaran, tergila-gila dengan kemegahan, infrastrukturisme, pariwisataisme dan haus pengakuan dari bangsa lain sampai merasa perlu untuk bicara perdamaian di hadapan bangsa-agama tertua yang sudah khatam soal perdamaian tapi memilih menjdi penjajah. Pada puncak kerusakan, ketidakjangkepan membaca diri sendiri dan buram membaca budaya lain yang datang, mereka kemudian melahirkan sebuah film berjudul Buffalo Boys. Untunglah, negeri macam ini hanya imajinasi.

 

Muhammad Zuriat Fadil

Mantan penjaga rental CD yang masih suka memperhatikan film. Saat ini aktif sebagai penulis dan sebagai salah satu tim redaktur web caknun.com juga sesekali bermain teater.

BERIKAN TANGGAPANMU

Silahkan berikan tanggapan anda
Silahkan masukan nama anda disini

This site uses Akismet to reduce spam. Learn how your comment data is processed.