Akhir-akhir ini, hari senin selalu menjadi hari yang paling saya tunggu, bukan karena semangat memulai aktifitas setelah berakhir pekan, tapi karena hari senin adalah hari tayang episode terbaru Games Of Thrones (GoT), serial TV produksi HBO yang bertahun-tahun menghipnotis penonton setianya di berbagai penjuru planet Bumi. Serial ini telah masuk musim ke 6 dan minggu ini masuk episode 9, setiap musim ada 10 episode berdurasi kurang lebih 55 menit. Tulisan ini bukan bermaksud memberikan ulasan tentang Game of Thrones baik aspek cerita, sinematik ataupun tentang episode sembilan yang baru tayang dan mendapatkan pujian yang berlimpah itu, karena saya yakin sudah banyak yang melakukannya. Saya hanya ingin berbagi begitu menyenangkan dan menegangkannya menunggu episode demi episode serial ini.

GoT musim pertama episode pertama dimulai tahun 2011 pada bulan April, setiap musim akan berakhir dibulan Juni. Sudah 6 tahun serial ini berjalanan dan akan ada 1 musim lagi (mungkin 2) untuk menyelesaikan kisah perebutan kekuasaan ini. Setiap tahun para penggemarnya harus bersabar mengikuti perjalanan setiap karakter yang jumlahnya cukup banyak. Hal ini tidak membuat penggemarnya berkurang malah selalu bertambah. Untuk musim ke 6, setiap penayangan perdana episode baru, selalu ditonton kurang lebih 7.66 juta penonton, jumlah ini akan berlipat-lipat kalau dihitung dengan penonton yang menonton siaran tundanya.

Selama ini saya terus saja mengkhayalkan bahwa film layar lebar (yang ditayangkan di bioskop dan biasanya berbayar) adalah jenis tontonan yang lebih adiluhung daripada serial TV. Kita meluangkan waktu dan uang untuk menonton di dalam ruang bioskop yang gelap, dingin dan difokuskan pada satu layar. Sekeluarnya dari bioskop kita akan berbunga-bunga karena film yang baru saja kita tonton mampu menghibur maupun menggugah rasa kita yang terdalam. Apalagi film yang kita tonton adalah film-film yang sudah kita tunggu dari jauh-jauh hari. Meskipun tak jarang kita merasa kecewa sekeluarnya bioskop. Pokoknya film layar lebar, paling prestiselahhhh. Sementara menonton serial TV kita tidak butuh usaha sebesar nonton di bioskop (kalau serial TV semacam GoT tentu kita harus berlangganan yang berarti membayar) dan bisa kita tonton sambil mengerjakan sesuatu. Lalu pertanyaan saya mengapa serial TV seperti GoT mampu menghipnotis layaknya film-film layar lebar semacam Inception, Lord of The Ring maupun Harry Potter ?

Saya pribadi terus mengikuti GoT karena cerita dan karakter-karakter unik dalam serial ini nantinya akan berakhir dimana & seperti apa. GoT dibuat sangat serius dan detail. Setiap episode di musim ke 6 rata-rata berbujet 10 juta US$, yang membuat menonton serial ini berasa menonton film semacam Lord of the Ring. Cerita ditambah penggarapan yang serius membuat serial ini begitu meyakinkannya hingga saya merasa dunia dalam cerita ini bisa jadi pernah ada di masa lalu.

Baca Juga  Aphicatpong Weerasethakul : Dalam Perbincangan

Film layar lebar yang memikat adalah campuran pas antara cerita dan bagaimana menceritakannya, begitu juga dalam serial-serial TV. Tidak hanya GoT, saya juga menemuinya dalam serial Sherlock, Da Vinci’s Demons maupun Breaking Bad. Bagaimana saya mengikuti setiap episodenya dan rela menunggu setahun kadang lebih untuk menunggu kelanjutan cerita dimusim selanjutnya. Suatu kali penyair kelahiran Lebanon, Kahlil Gibran pernah berujar “Setelah makan dan minum, kebutuhan dasar utama manusia adalah bercerita”, melalui GoT saya bisa memahami apa yang pernah diungkapkan Kahlir Gibran tersebut. Bagaimana GoT maupun serial-serial bagus yang lain benar-benar “hanya” fokus menyuguhkan cerita yang menarik. Kadang sebuah film ingin mengatakan sesuatu yang penting kepada penontonnya. Dalam GoT saya merasa sedang mengikuti sebuah cerita ataupun didongengin, terlepas apakah ada sesuatu dibalik cerita itu, saya tidak terlalu peduli. Yang saya perhatikan bahwa saya menikmati cerita dan menonton dongeng luar biasa.

Sepertinya kedepan akan semakin banyak serial menarik yang diproduksi, bukan karena jumlah penonton yang semakin banyak yang berarti pasar semakin besar tetapi karena kebutuhan bercerita bagi pembuat dan menikmati cerita bagi penontonya. Mendongeng atau didongengin. Seperti Wachosky bersaudara yang membuat serial untuk Neetflix berjudul Sense8, cerita ini akan mempunyai batasan kalau dibuat film layar lebar meskipun dibuat dalam format trilogy. Saya juga merasa dalam sense8 ada semangat untuk bercerita/mendongeng itu. Semasa sekolah dasar/menengah saya pernah merasakan bagaimana kesenangan mengikuti kisah Yoko dan Bibi Lung, Mak Lampir maupun Tersanjung.

Hari Senin depan (tanggal  27 Juni) adalah episode terakhir GoT musim ke 6, setelahnya saya harus menunggu lagi hampir satu tahun untuk mengetahui siapa yang akan memimpin 7 kerajaan. Yang berarti juga hari Senin tidak perlu saya tunggu-tunggu lagi karena Sansa, Arya, Daenerys maupun Missande baru akan datang tahun depan. Menunggu Didongengin tentang mereka 😛

Artikel SebelumnyaFinding Dory Bakal Tembus US$ 1 Milyar?
Artikel BerikutnyaVader is Back!
Pernah belajar film secara formal di Jogja dan Jakarta. Pernah dan masih membuat film diwaktu luang. Sekarang tinggal dan beraktifitas di Kota Bogor. Ketika akan menonton film selalu ingat dengan kata-kata “Hidup terlalu singkat untuk menonton film yang jelek”. Penulis saat ini mengasuh kolom frontier pada montasefilm.com

BERIKAN TANGGAPANMU

Silahkan berikan tanggapan anda
Silahkan masukan nama anda disini

Situs ini menggunakan Akismet untuk mengurangi spam. Pelajari bagaimana data komentar Anda diproses.