Hamparan laut biru yang membentang diibaratkan sama seperti dunia pendidikan di Indonesia yang belum terpetakan dengan baik. Istilah diatas tampaknya cocok untuk menjelaskan film Jembatan Pensil arahan Hasto Broto. Film yang bercerita tentang niat mulia seorang siswa terbelakang yang berusaha membangun jembatan bagi teman-temannya. Pemandangan alam yang didominasi dengan laut biru, bebatuan alam yang tinggi menjulang dan pepohonan besar menggambarkan tentang alam Indonesia yang berada di daerah Sulawesi Tenggara.

Siapa yang tidak tahu keindahan alam dari Pulau Bali ? Hampir setiap orang mengetahuinya. Tapi bagaimana dengan kecantikan alam di bumi Indonesia lainnya, tepatnya Sulawesi Tenggara? Tidak banyak publik yang mengetahuinya. Melalui Jembatan Pensil, sutradara ingin mengajak khalayak umum untuk melihat lebih dekat tentang kehidupan pelajar yang bersekolah di SD Towea. Sekolah menjadi barang langka disana, malahan mereka harus menempuh jarak yang jauh dan medan yang sulit untuk bisa sampai ke sekolah. Minimnya ruang kelas, bahkan hanya satu-satunya ruang kelas yang ada di SD Towea, tidak menyurutkan para siswa-siswi, malah mereka tampak antusias dalam menjalani hari-harinya di sekolah. Siswa SD Towea pun beragam mulai dari anak nelayan, anak peternak sapi, bahkan anak yang cacat. Ondeng adalah salah satu murid yang memiliki keterbelakangan mental, walaupun ia cacat tapi pintar menggambar.

Sutradara tampaknya ingin menonjolkan semangat kebhinekaan dan sifat para tunas muda Indonesia, yang tidak menyerah meski dalam kondisi sulit. Mereka tetap memperjuangkan pendidikan yang menjadi sarana bagi mereka untuk melihat dunia luar. Kegembiraan para siswa juga terpancar dari wajah mereka, saat tahu kalau Bu Aida, seorang sarjana yang berasal dari jakarta akan mengajar di kelas mereka. Mereka menyambutnya dengan sukacita, ditengah keterbatasan sarana maupun prasarana. Bagi siswa-siswi SD Towea, pendidikan adalah sesuatu yang amat mulia. Mereka rela menggantungkan sepatu mereka, hanya agar sepatunya tidak kotor, dan tahan lama. Mereka menjunjung tinggi jabatan seorang guru, karena seorang guru mampu memintarkan siswa-siswinya, dan memiliki segudang ilmu yang takkan pernah habis untuk dibagikan. Begitupun dengan Pak guru yang rela mengajar di SD Towea tanpa dibayar sepeser pun. Bagi Pak guru, semua itu semata-mata hanyalah rasa syukurnya kepada Sang Pencipta.

Baca Juga  Berbagi Suami, Poligami yang Kabur

Setting yang sebagian besar merekam gambar di luar ruangan, ikut menceritakan bagaimana kerasnya kondisi alam, yang bagi sebagian orang asri tapi bagi sebagian orang di sana hanyalah tempat tinggal yang mereka tahu. Alam sebagai sarana untuk belajar, merupakan hal yang tak luput dari perhatian sutradara. Sekolah bisa saja di dalam ruangan yang memiliki tembok dan atap, dimana siswanya harus menyerap ilmu pengetahuan tapi tidak dengan sekolah kehidupan yang mengambil tempat di alam bebas sebagai sarana untuk tumbuh dan berkembang menjadi manusia sejati.

Alunan musik yang dimainkan membawa penonton pada suasana ceria anak-anak yang apa adanya, bermain dan belajar tanpa beban. Menariknya lagi, semangat anak-anak yang tulus dan penuh kerja keras dalam meraih pendidikan, terlihat dalam film ini. Bagi mereka, sekolah bukan cuma tempat meraih ilmu tapi belajar tentang persahabatan yang tulus, bahkan dari anak cacat semacam Ondeng. Film bergenre drama dengan tema pendidikan memang bukan hal baru, tetapi selalu ada semangat yang baru dalam film yang bertemakan pendidikan di Indonesia. Selamat menonton dan terinspirasi dari film ini.
WATCH TRAILER

https://www.youtube.com/watch?v=3nDfvIkfASg

Artikel SebelumnyaMidnight Runners
Artikel BerikutnyaRenegades
Penikmat film dan kontributor montasefilm.com

1 TANGGAPAN

BERIKAN TANGGAPANMU

Silahkan berikan tanggapan anda
Silahkan masukan nama anda disini

Situs ini menggunakan Akismet untuk mengurangi spam. Pelajari bagaimana data komentar Anda diproses.