lookism

Ada pepatah mengatakan jangan lihat buku dari cover-nya. Tapi kenyataannya, sering terjadi ketidakadilan bagi mereka yang tak punya paras menawan dan fisik yang memikat. Sebaliknya, ada banyak privilege bagi yang punya paras cantik ataupun tampan. Masalah penampilan dan perundungan inilah yang menjadi tema dalam serial animasi Netflix berjudul Lookism.

Dunia yang salah ini, di mana penampilan adalah segalanya.”

Seorang siswa SMA bertubuh tambun harus rela masa remajanya menjadi bulan-bulanan teman-temannya di sekolah. Tidak hanya cercaan fisik yang diterimanya, namun juga pukulan dan siksaan yang diterimanya berulang. Hingga ia merasa tak tahan dan ingin menyerah. Remaja SMA itu bernama Park Hyeong-seok. Ibunya kemudian memindahkannya ke sekolah kejuruan, SMA Jaewo, di Seoul. Sekolah yang sebenarnya secara kualitas agak terbelakang.

Hyeong-seok ingin menjadi kupu-kupu di sekolah baru. Tapi pukulan dari Lee Jin Seong yang ditemuinya di jalan melenyapkan harapan itu. Hingga suatu ketika, ia terbangun dengan wujud baru, pria tampan dan postur bagus. Ia terkejut mengira ruhnya pindah ke wujud baru. Tubuh aslinya masih ada, ia punya dua tubuh. Ketika tubuh asli tidur, ia bangun di tubuh baru.

Fisik memang penting. Mulailah Hyeong-seok menerima banyak perhatian dan puja-puji. Tapi bagaimana dengan tubuh aslinya?

Diangkat dari Manhwa Populer

Serial animasi Korea atau yang juga disebut aeni ini diangkat dari manhwa populer di Naver Webtoon berjudul sama. Manhwa karya Taejoon Park ini mulai dirilis September 2015 dan hingga kini masih berlangsung, mencapai 400-an episode.

Oleh karena manhwa-nya sangat populer maka aeni Lookism ini disambut gembira oleh para fans. Dan rupanya cerita dan desain karakter versi aeni-nya cukup setia dengan versi manhwa-nya, meski ada sedikit perbedaan pada nama karakter dan adegannya. Sosok Kim Mi Jin yang nampak perbedaannya. Di versi aeni-nya, ia jadi nampak nerd dengan berkacamata.

Taejoon Park sendiri kerap menggunakan tema perundungan di sejumlah karyanya. Ia juga nampaknya memiliki minat dengan bela diri, dari taekwondo, tinju, muaythai, dan jenis bela diri lainnya. Hal ini bisa dilihat pada karya lainnya seperti How to Fight dan Looser Life.

Musim Pertama Berfokus Pada Perundungan dan Penampilan

Serial Lookism yang diproduksi Studio Mir ini tayang di Netflix sejak 8 Desember. Musim pertama ini terdiri dari delapan episode dengan masing-masing episode berdurasi sekitar 22-30 menit.

Menilik dari ceritanya, musim pertama  ini mengadaptasi cerita hingga episode ke-27 manhwa-nya. Sehingga ceritanya bakal masih sangat panjang dan kemungkinan besar bakal hadir musim-musim berikutnya.

Nah, pada musim pertama ini fokus utamanya adalah tema perundungan dan penampilan. Hyeong-seok selalu menjadi bahan perundungan karena fisiknya yang dianggap buruk rupa. Meskipun ia memohon-mohon untuk diampuni, ia terus disiksa oleh teman-temannya. Tak ada yang menolongnya. Orang-orang ikut tertawa melihatnya diperlakukan seperti itu. Baru ketika ia berganti dengan tubuh baru yang tinggi dan tampan, ia menerima perlakuan yang sebaliknya.

Hal yang sama juga dialami salah satu temannya, Pyeon Deok-hwa yang ingin menjadi rapper. Meski ia berbakat menulis lagu dan mengerap, tak ada yang memberinya kesempatan karena penampilannya. Di sekolah, ia juga jadi bahan olok-olok kawan-kawannya.

Masalah perundungan di sekolah ini rupanya nyata terjadi di Korea Selatan. Dilansir dari web Creatrip, jumlah perundungan di sekolah terus meningkat sejak tahun 2013. Pada tahun 2019 dilaporkan 31.130 kasus perundungan. Alasannya utamanya ada tiga berdasarkan survei yang dilakukan oleh Kementerian Pendidikan pada 130 ribu siswa sekolah dasar hingga SMA, yang dikutip oleh situs the Korea Herald pada Januari 2020. Alasan tersebut yaitu untuk bahan candaan (29.4%), tidak ada alasan (19.2%), dan penampilan atau kelakuan target yang dianggap aneh (14.7%). Perundungan ini dari verbal, kekerasan fisik, perundungan di dunia maya, hingga kekerasan dengan unsur seksual.

Baca Juga  Loki S02

Melalui serial Lookism ini, penonton bisa melihat betapa pentingnya isu perundungan ini.     Perundungan bisa terjadi pada siapa saja dan di mana saja. Korban perundungan bisa mengalami trauma dan rasa rendah diri seperti yang dialami Hyeong-seok.

Tema perundungan dan diskriminasi karena penampilan memang kental di sini, namun temanya bukan hanya itu saja yang diangkat. Dalam aeni ini juga terlihat unsur persahabatan dan hubungan yang hangat antara ibu dan anaknya.

Dua karakter Hyeong-seok yang penampilannya berbanding 180 derajat ini seolah-olah mewakili remaja pada umumnya. Hyeong-seok yang tambun dan buruk rupa mewakili kalangan yang biasanya mengalami perundungan. Mereka jadi penakut, tak percaya diri, dan menimbun kemarahan yang bisa meledak sewaktu-waktu. Sebaliknya, Hyeong-seok tampan menerima privilege sebagai pria tampan yang juga memiliki kelebihan otak encer dan memiliki bakat bela diri. Banyak yang ingin menjadi kawannya dan gadis-gadis terus mendekatinya.

Menariknya, Taejoon Park juga tak ingin ceritanya menjadi klise. Ia tak ingin ceritanya menjadi hitam putih, meski di musim pertama ini belum terlalu kelihatan.

Ada perkembangan karakter yang bisa dilihat di sini. Yang awalnya menjadi karakter antagonis perlahan-lahan mulai berubah. Karakter yang awalnya dirundung juga mulai bangkit dari rasa kurang percaya dirinya.

Karakter-karakter lainnya juga menarik, seperti Basko yang menjadi pemimpin Burn Knuckles di sekolah. Meski penampilannya seperti preman, rupanya ia suka menolong siswa yang dirundung dan gemar minum susu. Ada juga Lee Jin yang karakternya berkembang dan sosok Jay si pendiam yang misterius.

Meski temanya menarik dan selaras dengan masa kini, seperti maraknya anak sekolah yang mencari popularitas dan uang dengan bersiaran dan mengunggah video, namun serial ini juga tak sempurna. Masalahnya sama dengan versi manhwa-nya di mana latar sekolah seperti hanya tempelan. Hyeong-seok yang masuk ke kelas desain mode tak nampak mendapat tugas membuat desain pakaian.

Cerita tentang dua tubuh ini juga sebenarnya bukan sesuatu yang baru. Ceritanya yang ruh bisa ditransfer ke tubuh baru mengingatkan pada cerita dalam film Avatar dan juga manga Bakeru-kun. Hanya proses transfer ruhnya ke tubuh lainnya agak berbeda. Di Bakeru-kun, seseorang bisa transfer tubuh setelah ia menekan hidung boneka. Boneka itu kemudian hidup, dan tubuh aslinya menjadi sekecil boneka.

Meski demikian cerita dua tubuh ini misterius dan menarik karena latar ceritanya yang modern dan belum ada petunjuk tentang bagaimana tubuh baru ini hadir. Musim berikutnya siapa tahu sudah ada kepingan petunjuknya.

Lagu-lagu dalam serial Lookism juga seru. Lagunya nuansanya mirip dengan yang ada di versi webtoon dengan pop-rap ala Korea. Lagu pembuka, Like That dibawakan oleh ATEEZ dan tembang Fly Up dinyanyikan duet oleh Hwang Chang Young dan DOOR.

PENILAIAN KAMI
Overall
75 %
Artikel SebelumnyaThe Banshees of Inisherin
Artikel BerikutnyaCek Toko Sebelah 2
Dewi Puspasari akrab disapa Puspa atau Dewi. Minat menulis dengan topik film dimulai sejak tahun 2008. Ia pernah meraih dua kali nominasi Kompasiana Awards untuk best spesific interest karena sering menulis di rubrik film. Ia juga pernah menjadi salah satu pemenang di lomba ulas film Kemdikbud 2020, reviewer of the Month untuk penulis film di aplikasi Recome, dan pernah menjadi kontributor eksklusif untuk rubrik hiburan di UCNews. Ia juga punya beberapa buku tentang film yang dibuat keroyokan. Buku-buku tersebut adalah Sinema Indonesia Apa Kabar, Sejarah dan Perjuangan Bangsa dalam Bingkai Sinema, Antologi Skenario Film Pendek, juga Perempuan dan Sinema.

BERIKAN TANGGAPANMU

Silahkan berikan tanggapan anda
Silahkan masukan nama anda disini

Situs ini menggunakan Akismet untuk mengurangi spam. Pelajari bagaimana data komentar Anda diproses.