x-men 97

X-Men ’97 merupakan seri animasi yang merupakan kelanjutan dari seri X-Men: Animated Series (1992-1997) yang kini diproduksi Marvel Studios melalui Marvel Animation. Dedengkot Marvel Studios, Kevin Feige pun kini masuk sebagai produser eksekutif. Film kreasi Beau DeMayo ini terdiri dari 10 episode yang berdurasi rata-rata 35 menit. Disney + merilis seri ini pertengahan bulat Maret dan episode penutup pada 15 Mei 2024 baru lalu.

Plot serinya masih melanjutkan kisah musim lawasnya sesaat setelah mentor mereka Profesor Charles Xavier pergi ke planet kaum Shi’ar dan dianggap telah meninggal. Dikisahkan X-Men memiliki krisis kepemimpinan sebelum surat wasiat sang profesor menunjuk musuh besarnya, Magneto sebagai suksesornya. Cyclops dan kawan-kawan pun terpaksa menerima dengan berat hari. Sementara tim melanjutkan investigasi penggunaan teknologi sentinel yang digunakan sekelompok grup terorisme anti mutan. Investigasi ini rupanya berujung pada satu agenda besar yang ingin memusnahkan mutan dan menguasai umat manusia.

Mengapa seri ini diproduksi sekarang? Jawabnya tentu relasinya dengan sukses Marvel Cinematic Universe (MCU). Setelah studio Fox telah dibeli Disney beberapa tahun lalu, kita tahu beberapa karakter X-Men telah muncul dalam beberapa film MCU, seperti Doctor Strange in the Multiverse of Madness, The Marvels, hingga Deadpool & Wolverine yang rilis tahun ini. Melalui kisah seri X-Men ’97, relasi secara langsung dengan MCU memang masih belum terlihat, namun sewaktu-waktu ini tentu bisa disilangkan dengan sigap melalui konsep multiverse. Sosok superhero Avengers yang kita kenal, Captain Amerika, Iron-Man, Spider-Man, Hulk, Doctor Strange beberapa kali muncul sekilas dalam serinya ini.

Kisah serinya sendiri terbilang rumit dan bagi penonton yang tidak mengikuti serinya bisa jadi bakal kewalahan karena tidak terdapat pengenalan karakter dan eksposisi cerita yang cukup. Kisahnya pun mencampuradukkan banyak hal dari aksi, politik, roman, masa lalu, hingga masa depan. Konflik dan intrik pada musim lawasnya masih bisa kita rasakan kuat. Beberapa karakter pasti masih asing bagi penonton baru serinya dan jumlahnya tidak sedikit. Tidak seperti dalam film feature-nya, satu karakter dapat muncul dan pergi begitu saja, seperti di komiknya. Para member X-men sendiri yang beranggotakan belasan superhero selalu bekerja berkelompok, terbagi dalam beberapa subplot yang ini pun butuh waktu untuk mencerna kisahnya. Namun, perlahan tapi pasti kisahnya mulai bisa dipahami. Tak ada masalah sama sekali bagi penonton baru.

Baca Juga  Werewolf by Night

Tidak semua subplotnya tentu favorit bagi penonton. Cyclops dan Jean Grey mengambil porsi cerita yang cukup dominan. Tarik ulur hubungan keduanya diperumit dengan kehadiran sosok clone dan relasi dekat mereka dengan sosok Cable. Kisah asmara antara Jubilee dan Roberto hanya terlihat sebagai selingan roman remaja yang tak membekas. Justru chemistry antara Rogue dan Mogneto terlihat intim dan menarik untuk dieksplorasi lebih jauh. Magneto menjadi magnet terbesar dalam kisah serinya ini. Kharismanya bahkan lebih kuat ketimbang film-film feature-nya. Kisah rivalitas dan sentimental antara Charles Xavier dan Magneto telah sering terlihat dalam feature-nya, hanya kali ini karena dikemas secara animasi, visualisasi bisa lebih absurd dan mengena. Yang patut dicatat, seri ini tidak segan-segan untuk membunuh karakter besarnya dan ini tentu menjadikan lebih menarik karena sisi ancaman yang tak bisa dianggap remeh.

Melalui puluhan karakter ikoniknya, X-Men ’97 membawa nostalgia seri animasi lawasnya bagi para fans fanatiknya, sekaligus membuka jalan MCU ke depan. Ending-nya pun membuka kisah menarik bagi kelanjutan serinya. Konon musim keduanya telah diproduksi, bahkan musim ketiga tengah dalam proses penulisan. Seri animasi dua dimensi macam ini tentu lebih cepat dan mudah diproduksi ketimbang animasi 3D atau live-action yang butuh visual effect secara masif. Film live action untuk X-Men rasanya masih belum menjadi opsi yang ideal di tengah situasi pasar dan target genrenya yang kini tengah menurun. Kelelahan genrenya tentu bisa kita rasakan, setelah dalam satu dekade terakhir dihujani puluhan film dan seri superhero, termasuk seri ini.

1
2
PENILAIAN KAMI
overall
70 %
Artikel SebelumnyaThe Garfield Movie
Artikel BerikutnyaGodzilla Minus One
A lifelong cinephile, he cultivated a deep interest in film from a young age. Following his architectural studies, he embarked on an independent exploration of film theory and history. His passion for cinema manifested in 2006 when he began writing articles and film reviews. This extensive experience subsequently led him to a teaching position at the esteemed Television and Film Academy in Yogyakarta. From 2003 to 2019, he enriched the minds of students by instructing them in Film History, Introduction to Film Art, and Film Theory. His scholarly pursuits extended beyond the classroom. In 2008, he published his seminal work, "Understanding Film," which delves into the core elements of film, both narrative and cinematic. The book's enduring value is evidenced by its second edition, released in 2018, which has become a cornerstone reference for film and communication academics across Indonesia. His contributions extend beyond his own authorship. He actively participated in the compilation of the Montase Film Bulletin Compilation Book Volumes 1-3 and "30 Best Selling Indonesian Films 2012-2018." Further solidifying his expertise, he authored both "Horror Film Book: From Caligari to Hereditary" (2023) and "Indonesian Horror Film: Rising from the Grave" (2023). His passion for film extends to the present day. He continues to provide insightful critiques of contemporary films on montasefilm.com, while actively participating in film production endeavors with the Montase Film Community. His own short films have garnered critical acclaim at numerous festivals, both domestically and internationally. Recognizing his exceptional talent, the 2022 Indonesian Film Festival shortlisted his writing for Best Film Criticism (Top 15). His dedication to the field continues, as he currently serves as a practitioner-lecturer for Film Criticism and Film Theory courses at the Yogyakarta Indonesian Institute of the Arts' Independent Practitioner Program.

BERIKAN TANGGAPANMU

Silahkan berikan tanggapan anda
Silahkan masukan nama anda disini

Situs ini menggunakan Akismet untuk mengurangi spam. Pelajari bagaimana data komentar Anda diproses.