Avatar: The Last Airbender (2024–)
N/A|Action, Adventure, Comedy|22 Feb 2024
7.3Rating: 7.3 / 10 from 57,321 usersMetascore: N/A
A young boy known as the Avatar must master the four elemental powers to save the world, and fight against an enemy bent on stopping him.

Setelah Netflix belum lama sukses memproduksi seri live-action, One Piece, kini berlanjut Avatar: The Last Airbender (2005). Seri animasi populer yang bertotal 3 musim ini hanya diadaptasi musim pertamanya saja, Water. Seri ini bertotal 8 episode dengan durasi rata-rata 55 menit. Seri ini dikembangkan oleh Albert Kim dari sumber aslinya, dengan dukungan bintang-bintang remaja, seperti Gordon Cormier, Kiawentiio, Ian Ousley, Dallas Liu, serta Paul Sun-Hyung Lee, Ken Leung, dan Daniel Dae Kim. Akankah seri ini mendapat respon bagus seperti halnya One Piece?

Bagi penikmat seri animasinya, plotnya pasti sudah tak asing. Secara ringkas, plotnya mengikuti petualangan Aang (Cormier), Katara (Kiawentiio), dan Sokha (Liu) untuk membantu sang avatar mempelajari tiga elemen lainnya. Sang avatar, Aang, adalah satu-satunya bangsa udara yang tersisa dan masih seorang bocah berumur 12 tahun. Hanya sang avatar yang mampu menyeimbangkan dan membawa harmoni bagi seluruh alam. Sang avatar memiliki misi besar untuk menumpas Bangsa Api di bawah rezim otoriter, Raja Ozai (Kim), yang berkuasa sejak 100 tahun silam. Dalam petualangannya, Aang dan dua rekannya mengembara ke wilayah bangsa Tanah serta Air. Mereka dikuntit oleh kelompok Api pimpinan Pangeran Zuko (Liu), yang berambisi membawa sang avatar untuk dibawa ke ayahnya, Ozai.

Memang bukan hal mudah untuk me-remake animasi menjadi live-action. Seri animasi The Last Airbender adalah film fantasi dari negeri antah berantah dengan segala lokasinya yang eksotis dan unik. Film remake-nya pun pernah diproduksi yang digarap sineas bertalenta tinggi, M. Night Shyamalan, melalui titel yang sama pada tahun 2015, namun gagal total secara komersial dan kritik. Sejauh ini, film remake fantasi senada yang memukau adalah seri The Lord of the Rings, baik feature maupun serinya. Netflix sendiri telah memproduksi seri One Piece dan terbukti sukses dan dipuji banyak pengamat. Dengan rasa percaya diri tinggi, Netflix memproduksi The Last Airbender, dan hasilnya pun secara visual memang jauh dari kata buruk.

Baca Juga  Moving

Satu hal, seri ini jelas lebih baik dari feature yang dibuat Shyamalan. Setting kota, istana, pedesaan, hingga interior kapal perang, yang menjadi tampilan dominan serinya, mampu disajikan dengan sangat baik. Efek visual (CGI) banyak mendukung, khususnya menampilkan kota Omashu yang menakjubkan dengan transportasi kereta tanahnya. Semua setnya tampak meyakinkan, tak ada yang cacat. Satu hal yang menjadi pertanyaan besar adalah bagaimana seri ini menyajikan ilmu beladiri masing-masing elemen, yakni udara, api, air, dan bumi (tanah). Hasilnya memang amat mengagumkan dan terlihat nyata dalam banyak adegan aksi laganya. Singkatnya, untuk tontonan bioskop pun sangat pantas.

Satu hal yang menjadi kelemahan besar adalah para kasting mudanya. Seringkali dalam banyak adegan mereka seperti terlihat menghafal skrip dengan ekspresi wajah yang memang jauh dari matang. Ini tentu amat menganggu. Penampilan para kasting mudanya banyak tertolong oleh para pemain seniornya yang bermain baik. Untuk urusan ini, memang jauh dari seri One Piece yang memang rata-rata pemainnya berusia matang. Secara umum, untuk level seri televisi macam ini, kelemahan ini bisa sedikit ditolerir, tertutup oleh pencapaian visualnya yang memukau.

Avatar: The Last Airbender terhitung loyal dengan sumbernya didukung set dan efek visual yang menawan, hanya saja, kelemahan terbesar adalah empat kasting mudanya. Saya pun sudah tak ingat betul, secara detil kisah seri animasinya, namun terasa ada beberapa kelokan cerita yang diubah dan melompat, dan ini pun bisa dipahami. Seri ini memang kental nuansa timur dengan filosofi dan kebijakannya. Konsep avatar memang bukan hal mudah untuk dikisahkan, namun seri ini mampu memaparkannya dengan kisah yang sederhana. Walau bukan seri fantasi yang istimewa, namun untuk fans animasinya, seperti saya, seri ini cukup menghibur dengan pesona visualnya.

1
2
PENILAIAN KAMI
Overall
60 %
Artikel SebelumnyaThe Holdovers
Artikel BerikutnyaNǎi Nai & Wài Pó
His hobby has been watching films since childhood, and he studied film theory and history autodidactically after graduating from architectural studies. He started writing articles and reviewing films in 2006. Due to his experience, the author was drawn to become a teaching staff at the private Television and Film Academy in Yogyakarta, where he taught Film History, Introduction to Film Art, and Film Theory from 2003 to 2019. His debut film book, "Understanding Film," was published in 2008, which divides film art into narrative and cinematic elements. The second edition of the book, "Understanding Film," was published in 2018. This book has become a favorite reference for film and communication academics throughout Indonesia. He was also involved in writing the Montase Film Bulletin Compilation Book Vol. 1-3 and "30 Best Selling Indonesian Films 2012-2018." Additionally, he authored the "Horror Film Book: From Caligari to Hereditary" (2023) and "Indonesian Horror Film: Rising from the Grave" (2023). Until now, he continues to write reviews of the latest films at montasefilm.com and is actively involved in all film productions at the Montase Film Community. His short films have received high appreciation at many festivals, both local and international. Recently, his writing was included in the shortlist (top 15) of Best Film Criticism at the 2022 Indonesian Film Festival. From 2022 until now, he has also been a practitioner-lecturer for the Film Criticism and Film Theory courses at the Yogyakarta Indonesian Institute of the Arts in the Independent Practitioner Program.

BERIKAN TANGGAPANMU

Silahkan berikan tanggapan anda
Silahkan masukan nama anda disini

Situs ini menggunakan Akismet untuk mengurangi spam. Pelajari bagaimana data komentar Anda diproses.